Sholat Idul Fithri 1447 H di Masjid al-Aqsha Dilarang, Israel Lanjutkan Kejahatannya dengan Tutup Masjid alAqsha: Eksistensi Masjid alAqsha dalam Bahaya Besar!
JAKARTA- Kembali Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPRRI menyampaikan keprihatinan mendalam atas nasib Masjid alAqsha, masjid yang disucikan dan kiblat pertam Umat Islam “Penutupan berkepanjangan masjid al Aqsha secara sepihak oleh Israel itu sangat melukai HAM nya umat Islam, dan secara terbuka melanggar hukum internasional. Dan merupakan sejarah buruk, baru pertamakalinya dalam sejarah, Masjid alAqsha sepi. Setelah pada bulan Ramadhan 1447 H umat Islam tidak diperbolehkan memakmurkan Masjid al Aqsha dengan Sholat di dalam Masjid ; Sholat Tarawih, Sholat Jumat dan I’tikaf.
“Bahkan kini hingga bulan Ramadhan berakhir, sebagaimana disampaikan oleh Asosiasi Ulama Palestina dalam platform X tentara zionis Israel terus menutup Masjid alAqsha, sehingga sholat Idul Fithri pun tidak bisa diselenggarakan di Masjid alAqsha,” disampaikan HNW melalui rilis di akhir hari Ramadhan, Kamis, 19 Maret 2025.
Lebih lanjut HNW, yang juga anggot DPRRI Komisi 8 dari Dapil Jakarta II yang meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat dan Luar Negeri ini mengingatkan ketika gema takbir memenuhi angkasa dunia, ketika umat Islam secara internasional bersukacita berbondong-bondong ke Masjid/lapangan untuk sholat Idul Fithri, tapi Masjid alAqsha dan area sekitarnya yang setiap Idul Fithri biasanya juga penuh dengan gemuruh takbir dari ratusan ribu jemaah.
“Tapi hari Raya Idul Fithri besok, akan sepi, tidak ada kemeriahan dan syiar sholat Idul Fithri di sana. Itu semua karena zionis Israel terus menutup Masjid alAqsha dengan mengabaikan tuntutan dan penolakan keras dari masyarakat Internasional, termasuk dari OKI, Liga Arab, Uni Afrika, Liga Muslim Dunia, Asosiasiasi Ulama Palestina, termasuk dari DMI (Dewan Masjid Indonesia),” papar HNW.
“Bahkan 8 Menteri Luar Negeri dari negara anggota OKI yang sekaligus juga anggota BOP (Board of Peace) juga sudah membuat pernyataan bersama menolak penutupan Masjid alAqsha dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional, HAM, dan potensial menghadirkan ketegangan dan menjauhkan dari perdamaian, pun juga diabaikan Israel. Dan alih2 mendengarkan dan menghormati, pihak zionis Israel malah secara sepihak memutuskan untuk terus tetap menutup Masjid alAqsha, hingga sesudah Ramadhan, sehingga tidak memungkinkan penyelenggaraan sholat Idul Fithri di dalam Masjid alAqsha. Bahkan ketika Umat memenuhi seruan Syaikh Ikrimah Shobir untuk tetap berusaha sholat Tarawih sekalipun hanya di sekitar kawasan luar masjid alAqsha, tentara Israel tetal mengusir dan tidak mengizinkan Umat Islam sholat di sana,” sambung HNW.
Untuk itu, HNW khawatir banyak pihak bahwa Israel memanfaatkan gelar perang dengan bersama AS serang Iran, yang membetot perhatian umat dan publik dunia, sebagai momentum untuk makin memudahkan agendanya dalam penguasaan atas Masjid alAqsha, baik secara pengelolaan dengan mengubah ketentuan hak pengelolaan di bawah lembaga Wakaf di bawah otorita Yordania, menjadi di bawah pengelolaan lembaga Rabi Yahudi untuk akhirnya nanti menguasai secara fisik dengan mendirikan Kuil/Haikal Sulaiman di atas reruntuhan masjid al Aqsha, semakin mendapatkan pembenarannya.
“Maka atas kekhawatira itu dan seagaj bentuk pertanggungjawaban amanah dan sejarah, HNW, yang sejak jelang Ramadhan sudah secara terbuka mengkritisi/menolak laku jahat zionis Israel atas Masjid al Aqsha dan Umat Islam yg hendak sholat Tarawih di masjid al Aqsha, apalagi ketika Israel menutup masjid al Aqsha sehingga umat Islam tidak bisa melakukan sholat Tarawih, sholat Jumat, i’tikaf dan sholat Idul Fithri, kembali mengingatkan Pimpinan Umat Islam baik di OKI, Liga Arab, Ormas2 Islam, maupun para Ulama dan tokoh Umat Islam seluruh dunia, agar benar-benar serius menyelamatkan Majei Masjid al aqsha dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki termasuk momentum hari Raya Idul Fithri 1447H besok agar menjadi momentum penting bukti serius peduli terhadap nasib dan eksistensi Masjid alAqsha,” jelasnya.
Tujuannya, lanjut Hidayat, agar Umat sesuai kewenangan dan kemampuannya untuk memperjuangkan pembukaan Masjid al Aqsha dan pembebasan Masjid al Aqsha dari penguasaan dan penjajahan zionis Israel. HNW mewanti-wanti hal ini karena khawatir momentum sebesar Idul Fithri besok yang di luar masjid al Aqsha semarak dengan syiar Islam, tapi hadirkan tragedi masjid alAqsha yang sepi karena terus ditutup Israel.
“Tapi kalau tragedi itu dibiarkan berlalu dan tidak dipedulikan oleh Pimpinan Umat Islam untuk pembebasan/pembukaan masjid alAqsha, maka hal itu akan membuat zionis Israel makin berani untuk melanjutkan terus penutupan Masjid alAqsha untuk seterusnya. Dan itu juga akan membuat mereka makin berani dan leluasa mewujudkan agenda membangun/mendirikan klaim adanya Kuil/Haikal Sulaiman di atas reruntuhan Masjid alAqsha, sebagai bagian dari perwujudan klaim mereka hadirnya negara Israel Raya, dan itu artinya juga akan mengubur habis cita2/perjuangan hadirkan Negara Palestina bahkan dalam bentuk 2 Negara sekalipun,” tegas HNW.
Bila dibiarkan terjadi, terang HNW, maka hal itu selain menjauhkan hadirnya perdamaian (peace) juga pasti tidak sesuai dengan fitrahnya umat Islam dan tidak sejalan dengan prinsip bahwa Idul Fithri adalah 1 dari 2 hari raya bergembiranya umat Islam. Karena mereka akan berduka dengan akan hilangnya masjid alAqsha baik eksistensinya maupun peran mensejarahnya. Hal yang seharusnya tidak boleh terjadi.
“Maka bila Umat menuntut penghentian perang, maka umat juga jangan pernah melupakan masjid al Aqsha, karena melanjutkan perang dan melupakan masjid alAqsha itu juga agenda penjajah Israel” tuturnya. Lebih lanjut HNW mengingatkan peran para pihak yang paling berkewenangan.”
“Apalagi bila para pemimpin Umat yang paling berkewenangan seperti OKI dan Yordania, mestinya mereka benar2 efektif melaksanakan amanah mensejarah menjaga dan menyelamatkan Masjid alAqsha, agar sejarah buruk tindakan semena-mena Israel dengan menutup masjid alAqsha dapat diakhiri, dan Masjid alAqsha dapat dibuka dan dibebaskan. Agar umat manusia dapat kembali merayakan kembali kepada fitrah beragama yang damai. Dan hari raya Idul Fithri besok adalah salahsatu momentumnya,” tutupnya.