Uji Sidang Proposal Disertasi Doktor Hukum, Bamsoet Ingatkan Indonesia Tak Miliki ‘Pintu Darurat’ Pasca Amandemen ke-4 jika Terjadi Dispute Kontitusi

 Uji Sidang Proposal Disertasi Doktor Hukum, Bamsoet Ingatkan Indonesia Tak Miliki ‘Pintu Darurat’ Pasca Amandemen ke-4 jika Terjadi Dispute Kontitusi

JAKARTA — Anggota DPR RI 2024-2029 sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Dosen Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Borobudur, Universitas Jayabaya dan Universitas Pertahanan (Unhan) Bambang Soesatyo, mendorong penguatan kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) agar kembali memiliki ruang konstitusional sebagai jalan keluar darurat ketika negara menghadapi kebuntuan ketatanegaraan atau constitutional deadlock. Pengalaman sejarah dan dinamika krisis modern menunjukkan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 masih menyisakan celah serius dalam menghadapi situasi kritis dan tidak terduga. Termasuk jika negara dihadapkan pada situasi kebuntuan politik antar lembaga negara atau antar cabang kekuasaan.

“Misalnya, kebuntuan politik antara lembaga kepresidenan (pemerintah/eksekutif) dengan lembaga DPR (legislatif). Atau bagaimana jika terjadi kebuntuan politik antara Pemerintah dan DPR (eksekutif dan legislatif) dengan lembaga Mahkamah Konstitusi (yudikatif)? Atau terjadi sengketa kewenangan lembaga negara yang melibatkan MK, padahal sesuai asas peradilan yang berlaku universal, yaitu hakim tidak dapat menjadi hakim bagi dirinya sendiri, maka MK tidak dapat menjadi pihak yang berperkara dalam sengketa lembaga negara,” ujar Bamsoet.

Bamsoet menjelaskan, setelah empat kali perubahan Undang-Undang Dasar 1945, Indonesia justru menghadapi ruang kosong pengaturan hukum, terutama terkait tata cara pengisian jabatan publik apabila Pemilu tertunda atau tidak dapat dilaksanakan karena keadaan darurat. Padahal, Pasal 22E UUD 1945 memerintahkan Pemilu dilaksanakan lima tahun sekali, tanpa adanya skenario alternatif apabila perintah konstitusi itu mustahil dijalankan akibat perang, bencana nasional, pandemi global, kerusuhan masif, pemberontakan bersenjata, atau krisis keuangan yang melumpuhkan negara.

“Konstitusi kita hari ini belum sepenuhnya siap menghadapi skenario ekstrem. Misalnya, jika terjadi bencana nasional berskala besar, pandemi berat, konflik bersenjata, atau krisis keuangan parah yang membuat Pemilu mustahil diselenggarakan tepat waktu. Dalam kondisi itu, secara hukum bisa terjadi kekosongan kekuasaan atau kepemimpinan nasional,” ujar Bamsoet saat Menguji sekaligus menjadi Co-promotor mahasiswa doktoral Mohammad Reza dalam Sidang Proposal Disertasi Doktor Ilmu Hukum Universitas Borobudur, di Jakarta, Sabtu (31/1/26).

Turut hadir sebagai penguji Prof. Dr. Faisal Santiago, Dr. Ahmad Redi, Dr. KMS. Herman, serta Dr. Binsar Jon Vic.

Ketua DPR RI ke-20 dan Ketua Komisi III DPR RI ke-7 ini menjelaskan, Pasal 12 UUD 1945 memang memberi kewenangan kepada Presiden untuk menyatakan keadaan bahaya. Namun persoalan menjadi jauh lebih kompleks apabila Presiden dan Wakil Presiden, bahkan triumvirat menteri yang selama ini diposisikan sebagai pengganti sementara, mengalami kelumpuhan atau berhalangan tetap secara serentak. Dalam situasi demikian, negara berpotensi kehilangan mekanisme konstitusional untuk bertindak cepat dan sah.

“Sebelum perubahan UUD 1945, MPR memiliki kewenangan menetapkan TAP MPR yang bersifat regeling untuk menutup kekosongan hukum dan menjaga kesinambungan negara. Namun setelah amandemen, MPR kehilangan fungsi pengaturan tersebut dan diposisikan semata sebagai lembaga pelantik serta pengubah konstitusi, tanpa instrumen darurat ketika sistem mengalami kelumpuhan total,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar dan Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia menilai, dalam situasi seperti itu, prinsip kedaulatan rakyat sebagaimana termaktub dalam Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 harus menjadi pegangan utama. Sebagai lembaga tinggi rakyat yang terdiri dari anggota DPR dan DPD, MPR semestinya diberi kewenangan subjektif superlatif untuk mengambil keputusan-keputusan luar biasa demi menyelamatkan negara.

Kewenangan subjektif superlatif bukan untuk menghidupkan kembali supremasi MPR secara absolut seperti masa lalu, melainkan menghadirkan “pintu darurat konstitusi” yang hanya bisa digunakan dalam keadaan sangat terbatas, terukur, dan diawasi ketat. Pintu darurat itu memungkinkan MPR menetapkan aturan yang bersifat regeling guna memastikan kesinambungan pemerintahan, legitimasi kekuasaan, dan keselamatan bangsa.

“Sejumlah negara modern telah memiliki constitutional emergency mechanism yang memungkinkan pengambilan keputusan luar biasa dalam kerangka konstitusi. Indonesia justru belum memilikinya. Padahal risiko krisis global hari ini jauh lebih kompleks, mulai dari perang kawasan, disrupsi ekonomi global, hingga bencana iklim,” jelas Bamsoet.

Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjajaran dan Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menegaskan, gagasan penguatan kewenangan MPR bukanlah agenda kekuasaan, melainkan agenda penyelamatan negara. Seluruh gagasan tersebut harus diletakkan dalam kerangka demokrasi konstitusional, dengan prinsip kehati-hatian, pengawasan publik, serta pembatasan yang tegas agar tidak disalahgunakan.

“Tanpa desain konstitusional yang matang, krisis bisa berubah menjadi kekacauan politik yang mengancam keutuhan NKRI. Konstitusi harus memberi jawaban sebelum krisis itu datang. Tujuannya, memastikan negara tetap berjalan, rakyat tetap terlindungi, dan konstitusi tetap hidup bahkan dalam situasi paling genting,” pungkas Bamsoet. (Dwi)

Facebook Comments Box