Pentingnya ‘Bela Negara’ untuk Menangkal Maraknya Paham Radikalisme di Kamus

JAKARTA – Menyikapi situasi terkini maraknya aksi terorisme yang dilandasi dari paham radikalisme sempit Majelis Nasional KAHMI Bidang Pertahanan dan Keamanan menggelar diskusi dan bedah buku yang bertema “Bangkit Bela Negara”. Pada diskusi itu, para pemateri ingin agar Program Bela Negara mampu menangkal paham radikalsme yang makin marak di sejumlah kampus di tanah air.
Diskusi yang berlangsung di kantor DSI Menteng (06/06/2018) sekaligus membedah pikiran dan buku karya Dr. Letkol CAJ Kusuma, M.Si.
Buku itu memuat tentang pentingnya bela negara bagi kalangan generasi muda. Sehingga sistem Bela Negara menjadi penting untuk dimasukan ke dalam sistem pendidikan di perguruan tinggi.
Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi melalui Dirjen Sumberdaya Iptek dan Dikti Prof, dr Ali Ghufron Mukti, PhD, M.Sc mengapresiasi kehadiran buku tersebut. Ali menyatakan buku semacam itu sangat penting di saat maraknya paham radikalisme di kalangan kampus.
“Buku ini sepertinya menengahkan gagasan tentang pentingnya generasi muda terutama bagi kalangan terpelajar di perguruan tinggi untuk tahu bela Negara. Dan di Dikti sendiri sudah memasukan bela Negara kedalam general education yang didalamnya memuat internalisasi karakter luhur toleran, peduli, mandiri, berpikir terbuka dan sebagainya,” jelas Ali Ghufron, Jakarta, Rabu (6/6/2018) kemarin.
Sementara itu, Dr. Hamdan Zoelva berpendapat, Bela Negara adalah kebutuhan bangsa untuk kelangsungan dan keutuhan Negara di masa yang akan datang.
“Bela Negara hal yang esensial bagi kelangsungan bangsa ini, apalagi bangsa ini tersusun dalam kemajemukan maka keniscayaan kita menjaga keutuhannya dengan semangat Bela Negara dari berbagai ancaman,” ujar mantan Ketua MK itu.
Dari pihak penyelenggara Ketua Bidang Pertahanan dan Keamanan MN KAHMI Tatang Badruttamam, M.Si menyampaiakan bahwa kegiatan ini sebagai upaya mendorong isu Bela Negara menjadi perhatian serius berbagai pihak. (Puj)