BISNIS HARAM: Perdagangan Kematian Bernama Narkoba (Bahagian-1)

 BISNIS HARAM: Perdagangan Kematian Bernama Narkoba (Bahagian-1)

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin Makassar

Pernahkah kita duduk sejenak dalam hening, lalu bertanya kepada diri sendiri, apa arti sebuah hidup bila tubuh kita dipenjara oleh racun yang melumpuhkan akal?

Apa arti sebuah bangsa merdeka, bila generasi mudanya terikat oleh rantai candu bernama sabu-sabu dan narkoba?

Masih adakah masa depan, bila anak-anak kita tumbuh dalam kabut ilusi, kehilangan nalar, kehilangan iman, kehilangan harapan?

Apakah yang disebut “bisnis haram” itu sekadar jual beli barang, ataukah ia sebenarnya adalah perdagangan kematian, transaksi hitam yang perlahan membunuh jiwa, memadamkan akal, menghancurkan keluarga, merobek sendi bangsa, bahkan meruntuhkan peradaban?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia adalah cermin yang menatap wajah kita dengan jujur, menelanjangi realitas sosial yang sering kita abaikan.

Sabu-sabu dan segala jenis narkoba bukan sekadar penyakit individu, ia adalah wabah yang lebih dahsyat dari perang, lebih sunyi dari gempa, tetapi dampaknya jauh lebih mematikan.

Bisnis narkoba sejatinya bukanlah perdagangan barang, tetapi perdagangan masa depan.

Ia memperjualbelikan akal, iman, bahkan nyawa manusia. Allah telah memperingatkan dalam firman-Nya:
وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.”
(QS. An-Nisa: 29)

Sabu-sabu, ekstasi, heroin, ganja, semuanya adalah pisau halus yang merobek tubuh perlahan, membunuh jiwa tanpa suara, menjerumuskan manusia ke jurang kehancuran.

Maka orang yang memperjualbelikan narkoba, sejatinya sedang memperdagangkan kematian.

Rasulullah SAW. dengan tegas bersabda:
كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ
“Setiap yang memabukkan adalah haram.”(HR. Muslim)

Jika khamr saja diharamkan karena merusak akal, bagaimana dengan narkoba yang bukan hanya merusak akal, tetapi juga melumpuhkan fisik, membunuh mental, menghancurkan keluarga, dan memutus asa masa depan?

Namun, mengapa ada yang masih terjerat dalam jaringan gelap ini? Sebab manusia sering kali rapuh.

Jiwa yang kosong dari iman, hati yang gersang dari zikir, akal yang jauh dari Al-Qur’an, menjadikan manusia mencari pelarian palsu. Allah telah berfirman:
أَلاَ بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Tetapi ketika hati lupa pada Allah, maka ia mencari ketenangan pada racun dunia, dan racun itu bernama narkoba.

Ada pula yang terjerat karena kemiskinan, keterpurukan sosial, atau tekanan hidup yang berat.

Ada yang masuk dalam jaringan narkoba karena pergaulan yang rusak, lemahnya pengawasan keluarga, rapuhnya sistem pendidikan karakter.

Dan ada pula yang dengan keserakahan terang-terangan memperjualbelikan racun ini, seolah-olah uang bisa membeli kebahagiaan, padahal sejatinya hanya membeli laknat.

Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata dengan tajam:
هَلَكَ النَّاسُ فِي اثْنَتَيْنِ: الخَوْفِ وَالطَّمَعِ
“Manusia hancur karena dua hal: rasa takut (berlebihan) dan keserakahan.”

Dan narkoba adalah wajah paling telanjang dari keserakahan itu.

Lihatlah wajah mereka yang terjerat narkoba: tubuh yang melemah, mata yang sayu, hati yang gelisah.

Lihatlah batin mereka, cemas, depresi, kehilangan arah.

Lihatlah interaksi sosial mereka: rusak pergaulan, menjauh dari keluarga, terjebak kriminalitas.

Dan lihatlah spiritualitas mereka: jauh dari masjid, lalai dari ibadah, kehilangan hubungan dengan Allah.

Sesungguhnya narkoba bukan sekadar barang haram. Ia adalah virus yang melumpuhkan seluruh potensi kemanusiaan.

Dan lebih dari itu, narkoba adalah bom waktu bagi bangsa. Bagaimana sebuah bangsa akan berdiri kokoh, bila pemudanya lumpuh oleh candu? Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّمَا النَّاسُ كَإِبِلٍ مِائَةٍ، لاَ تَجِدُ فِيهَا رَاحِلَةً
“Sesungguhnya manusia itu seperti unta seratus, tidak mudah ditemukan satu pun yang layak untuk ditunggangi (berkualitas).”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Apalagi bila narkoba telah merenggut mayoritas pemuda, sulitlah bangsa ini menemukan satu generasi yang siap memimpin dengan kualitas sejati.

Namun Islam tidak pernah meninggalkan manusia dalam kegelapan.

Selalu ada jalan pulang, selalu ada cahaya bagi jiwa yang ingin kembali.

Solusinya bukan sekadar pada hukum, tetapi pada kesadaran spiritual.

Tauhid yang murni adalah benteng pertama: menyadari bahwa diri ini milik Allah, hidup adalah amanah, dan tubuh ini bukan milik nafsu, tetapi titipan yang harus dijaga.

Pendidikan karakter adalah benteng kedua: menanamkan qana’ah, sabar, syukur, dan tanggung jawab sejak dini, agar anak-anak tidak rapuh ketika dunia mengguncang.

Rehabilitasi berbasis iman adalah benteng ketiga: sebab narkoba bukan hanya penyakit medis, tetapi penyakit jiwa.

Terapi terbaik adalah gabungan antara ilmu, iman, dan amal. Dan negara pun tidak boleh lemah, ketegasan hukum adalah benteng keempat, sebab bisnis narkoba bukan hanya pelanggaran undang-undang, tetapi pengkhianatan terhadap umat.

Rasulullah SAW. bersabda tentang khamr:
لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْخَامِرِ وَشَارِبِهِ وَسَاقِيهِ وَبَائِعِهِ وَمُبْتَاعِهِ وَعَاصِرِهِ وَمُعْتَصِرِهِ وَحَامِلِهِ وَالْمَحْمُولِ إِلَيْهِ
“Laknat Allah atas khamr, orang yang meminumnya, menuangkannya, menjualnya, membelinya, memerasnya, yang meminta diperas, yang membawanya, dan yang minta dibawakan.”
(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Jika khamr saja dilaknat, maka sabu-sabu dan narkoba jelas lebih pantas mendapatkan murka Allah.

Imam Al-Ghazali pernah berpesan:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَّهُ
“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Narkoba adalah penjara yang membuat manusia lupa diri, lupa Tuhan, lupa masa depan.

Maka jalan pulang adalah dengan mengenal diri kembali: mengenal bahwa kita bukanlah budak candu, melainkan hamba Allah yang merdeka.

Merdeka sejati adalah ketika kita terbebas dari segala bentuk perbudakan—bukan hanya penjajahan bangsa, tetapi juga perbudakan hawa nafsu, candu, dan bisnis haram.

Bangsa ini hanya akan tegak bila anak-anaknya hidup dengan akal sehat, hati yang bersih, iman yang kokoh, dan jiwa yang merdeka.

Dan bangsa ini hanya akan selamat bila kita berani berkata: “Cukup!, Kami tidak ingin generasi kami dijual dalam pasar gelap narkoba.

Kami ingin anak-anak kami tumbuh dalam cahaya, bukan dalam kabut candu.”

*Do’a agar terhindar dari Bahaya Narkoba:*

اللَّهُمَّ احْفَظْ شَبَابَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ، وَنَقِّ قُلُوبَنَا مِنَ الْفِتَنِ، وَبَاعِدْنَا عَنْ كُلِّ مُخَدِّرٍ وَمُهْلِكٍ، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

“Ya Allah, lindungilah pemuda-pemudi kami dan keturunan kami dari segala keburukan. Sucikan hati kami dari fitnah dan godaan, jauhkan kami dari segala hal yang memabukkan dan membinasakan, serta jadikan kami hamba-hamba-Mu yang saleh.”

#Wallahu A’lam Bis-Sawab🙏

Facebook Comments Box