Ketika Pidato Taubat Cak Imin Tenggelam oleh Meja Domino
Oleh: R. Lintang Fisutama, Pemuda Pembebas Bangsa
Indonesia mungkin sedang menghadapi bencana alam, tetapi bencana politik kecil namun memalukan tampaknya memilih PKB sebagai titik jatuhnya. Di saat tanah retak, sungai meluap, dan langit memberi isyarat murka, Cak Imin muncul dengan pidato berapi-api, menggedor para menteri agar melakukan taubatan nasuha. Ia berbicara seperti penjaga gerbang kiamat, menuding kelalaian orang lain sebagai penyebab retaknya negeri.
Namun sesungguhnya, kiamat kecil itu tidak datang dari langit. Ia datang dari sebuah foto. Foto yang begitu sederhana, begitu polos, namun begitu mematikan.
Karding kader PKB dan pejabat negara terlihat duduk satu meja bersama Raja Juli Antoni (PSI) dan Aziz Wellang, sosok yang pernah terseret isu pembalakan hutan. Domino tersusun, senyuman tipis terlihat, dan kamera menangkap momen yang kemudian beredar lebih cepat daripada klarifikasi apa pun. Raja Juli berkata tidak mengenal, Karding berkata tidak tahu, dan semua sepakat itu spontan, dadakan, tidak direncanakan.
Tetapi publik tidak peduli.
Dalam politik, klarifikasi selalu kalah oleh foto dan foto itu kini bertindak seperti meteor kecil yang jatuh tepat di halaman PKB.
Ironi pun mencapai puncak apokaliptiknya: di saat Cak Imin memarahi para menteri soal kelalaian lingkungan, partainya sendiri justru terlihat seperti jembatan kontroversial yang seharusnya tidak pernah ada sebuah jembatan yang mempertemukan pejabat publik dengan figur yang pernah terhubung dengan isu pembalakan hutan. Apalagi foto itu muncul di tengah bencana, ketika sensitivitas nasional sedang tajam-tajamnya.
Dan kini, setiap kalimat “taubatan nasuha” berubah menjadi gema yang memukul balik ke dada PKB sendiri.
Setiap seruan moral menjadi bumerang yang melesat lebih cepat daripada longsor yang baru ia saksikan.
Setiap tudingan tentang kelalaian berubah menjadi pertanyaan pedas yang ditujukan kepada Karding:
“Kalau begitu, kelalaian siapa yang mempersilakan foto itu terjadi?”
Ingatan publik tidak dirancang untuk mengingat paragraf panjang pidato seorang politisi.
Yang mereka ingat adalah gambar.
Dan gambar itu kini berdiri seperti prasasti kecil, mengabadikan blunder yang mestinya tidak lahir dari partai yang sedang mengkhotbahkan kesalahan orang lain.
Pada akhirnya, kiamat yang dimaksud Cak Imin mungkin bukan kiamat alam.
Bukan pula kiamat politik nasional.
Kiamat itu jauh lebih sempit, jauh lebih personal, dan jauh lebih memalukan:
kiamat ketika satu meja domino menghancurkan seluruh kesan suci pidato taubat.
Dan sejarah, dengan segala kekejamannya, akan menuliskan semua itu tanpa belas kasihan.
Bukan sebagai skandal besar, bukan sebagai tragedi nasional, tetapi sebagai catatan memalukan tentang kelengahan sebuah partai yang sedang sibuk menegur dunia, namun lupa menegur dirinya sendiri.