Atmosfer Bagi Suburnya Penjilat Adalah Watak Kekuasaan Aktual Itu Sendiri

 Atmosfer Bagi Suburnya Penjilat Adalah Watak Kekuasaan Aktual Itu Sendiri

Kita mungkin tidak suka, menyesalkan dan kerap mencibir: mengapa semakin kemari semakin subur saja tumbuhnya para penjilat dalam politik. Rakyat biasa yang tidak berurusan langsung dengan kekuasaan puncak sekaligus pamungkas, katakanlah dalam konteks Indonesia ialah Presiden RI, merasa bingung mengapa makin tidak malu-malu lagi para penjilat memamerkan keterampilan khas mereka itu.

Sebagaimana baru-baru ini, mencuat ke publik bagaimana praktik menjilat dilakukan di depan kamera, yang hasilnya mencelakakan rakyat Aceh yang dilanda bencana. Itu yang baru terekam oleh kamera. Belum yang tidak.

Bukan hanya di tingkat elit, di tingkat masyarakat umum pun, sifat menjilat ini terasa pekat sekali mewarnai isi dan pola komunikasi harian. Misalnya dengan menyataan, siap, padahal belum tentu siap. Hanya bermaksud menunjukkan sikap untuk mendapatkan respect dan pujian dari lawan bicara. Adapun bagaimana kepastian siap dan skala siapnya, entar dulu. Bisa ngeles belakangan. Samalah seperti elit kita yang disorot itu, yang menyatakan siap 93% listrik menyala di Aceh yang dilanda bencana di hadapan seorang Presiden Prabowo, ternyata hanya isapan jempol.

Lalu mengapa para penguasa umumnya menikmati situasi suburnya para penjilat di sekelilingnya ketimbang dikelilingi pembantu yang jujur dan terus terang?

Fenomena Kekuasaan Menurut Machiavelli

Fenomena kekuasaan sejak dulu pada umumnya berorientasi terlebih dahulu bagaimana mengamankan kekuasaan itu lalu menikmatinya, baru kemudian menggunakannya pada hal-hal etik: seperti kesejahteraan rakyat, keadilan dan keamanan bersama.

Karena orientasi alamiahnya demikian, maka resep-resep eksprimental tentang kekuasaan yang dituliskan oleh Nicolo Machiavelli 512 tahun yang lampau (1513), akan tetap menjadi pegangan yang andal bagi para penguasa. Kita harus menerima kenyataan ini sebagai suatu realitas yang tak dapat diabaikan.

Para penjilat muncul dan menampakkan jilatannya, karena memang dihinggapi oleh ketakutan dua hal: takut pada hukuman dari penguasa atau takut kehilangan jatah kekuasaan dan kenikmatan yang dikontrol oleh penguasa itu.

Inilah kata-kata petuah Machiavelli tentang fenomena kekuasaan;

“Kekuasaan adalah poros dimana segala sesuatu bergantung. Dia yang memiliki kekuatan yang selalu benar, yang lemah selalu salah.”

“Lebih aman bagi seorang penguasa untuk ditakuti ketimbang dicintai, jika ia tidak bisa mendapatkan keduanya sekaligus.”

“Manusia akan membela orang yang mereka takuti ketimbang yang mereka cintai. (Memanfaatkan) rasa takut tidak akan pernah gagal (dalam permainan kekuasaan).

“Orang yang terlalu baik akan binasa di antara orang-orang tidak baik.”

Mencermati prinsip operasi kekuasaan yang terbukti dipraktikkan secara historis tersebut, maka tidak mengherankan bagaimana dengan cepat secara otomatis muncullah para penjilat, walaupun harus mengorbankan rakyat dan bahkan tuan mereka sendiri, yaitu penguasa puncak dan penguasa pamungkas.

Dengan kata lain, fenomena penjilat di sekeliling penguasa, merupakan konsekwensi logis saja dari suasana yang penuh tekanan dan munculnya rasa takut terhadap penguasa puncak, baik oleh karena takut risiko hukuman politis maupun takut kehilangan apa yang sudah diraih dari jatah kekuasan yang dibagi oleh penguasa puncak. Maka hari-hari yang dapat dilakukan oleh orang-orang di sekeliling penguasa tersebut, bagaimana mendapatkan perhatian, rasa puas dan pujian dari penguasa puncak meski harus berkata tidak jujur dan faktual. Dan sudah dapat ditebak, mereka bekerja pun semata-mata bukan lagi karena hati nurani, dan di titik itulah kemalasan dan kemubaziran bergelimang dalam pekerjaan mereka.

Dan otomatis, iklim yang kondusif bagi berseminya korupsi pun tersedia di dalam suasana kerja. Asal Bapak Senang, Asal Bapak Tak Tahu, lakukan saja. Standard pekerjaannya ialah bukan sistem dan protap yang sudah diputuskan secara kelembagaan, tapi bersifat penilaian subjektif personal dari atasan. Maka menularlah kepada seluruh bawahan untuk meniru pola atasan dalam bekerja.

Lama kelamaan semua menjadi hipokrit massal dan sekedar mengejar hubungan personal dan informal dengan atasan sebagai jaminan untuk promosi. Pola klik pun berkembang. Mereka yang benar-benar bermutu dan berkualifikasi, tidak dapat menjadi andalan dan benchmarking sebagai latar dan alasan logis promosi ke level yang lebih tinggi. Hal ini pada akhirnya menular kepada masyarakat dan muaranya, rusaklah masyarakat secara keseluruhan.

Namun penguasa tidak akan peduli soal yang demikian.

Kata Machiavelli:

“Janji bukanlah sesuatu yang sakral bagi penguasa, melainkan alat politik yang fleksibel. Jika menepati janji membahayakan, lebih baik melanggarnya.”

“Cara pertama untuk mengukur kecerdasan seorang penguasa ialah dengan menilai orang-orang yang berada di sekelilingnya.”

“Seorang penguasa tidak akan pernah kekurangan alasan yang sah untuk mengingkari janji-janjinya.”

Bhre Wira, penulis berbagai buku

Facebook Comments Box