Kediktatoran Kapitalis, Penyebab Aneka Bencana di Indonesia
Pertanyaan sederhana bagi para pengamat (observers) tentang Indonesia masa kini ialah sistem kemasyarakatan macam apa sebenarnya yang diterapkan di Indonesia sampai menghasilkan bencana ekologis massif di penghujung November 2025 yang memangsa tiga wilayah provinsi: Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat – menunjukkan skala cakupannya yang luas.
Dan apakah antara sistem kemasyarakatan yang diterapkan berhubungan kausalistik dengan bencana ekologi yang tampaknya akan selalu menghantui dan menerkam sewaktu-waktu pada masa yang akan datang.
Adalah Milan Zafirovski telah menemukan teori yang tepat untuk menjelaskan sistem kemasyarakatan yang mendrive seperti kasus Indonesia yaitu dengan apa yang diistilahkannya: Kediktatoran Kapitalis (Dictatorship Capitalist).
Apa Itu Kediktatoran Kapitalis?
Kediktatoran kapitalis adalah sebuah konsep kritis yang menggambarkan sistem di mana kekuasaan ekonomi terkonsentrasi pada pemilik modal (kapitalis), yang secara efektif mengontrol sistem politik dan sosial untuk keuntungan mereka sendiri, sering kali melalui pemerintahan yang nampak demokratis tetapi sebenarnya melayani kepentingan kelas atas, menciptakan ketimpangan besar dan penindasan struktural terhadap buruh dan kelas bawah, menumpukan basis kekuasaan pada modal, bukan bangsawan (aristokrat) dan diwujudkan dalam bentuk “plutokrasi” atau “kapitalisme otoriter”.
Kediktatoran kapitalis ini, untuk kasus Indonesia, merupakan estafeta dari model kediktatoran militer pada masa Orde Baru yang mengalami tekanan perubahan dari eksternal dan internal, sehingga menyediakan ruang bagi terkristalnya kediktatoran kapitalis. Kediktatoran kapitalis ini demikian tak terbatas kekuasaannya untuk mendeterminasi setiap keputusan politik, bahkan dalam era Jokowi telah menjadi tiran yang tak tertandingi dan sebenarnya sampai sekarang pun di era Prabowo, tirani kapitalis ini tetap tak tergugat dan tak tersentuh.
Bukti nyatanya ialah kasus PIK2 yang tak bisa menyeret ke depan meja pengadilan, entitas korporasi tersangkut yang dengan nyata melancarkan pelanggaran hukum, HAM dan tindakan kesewenang-wenangan.
Kasus yang paling mengerikan ialah bencana ekologis yang ditimbulkan oleh ekspansi dan eksplorasi korporasi yang merambah tutupan hutan tropis Sumatera demi meraup keuntungan besar sampai kemudian menimbulkan bencana banjir dan longsor yang tidak dapat terperikan. Lagi-lagi, negara kehilangan otoritas dan wibawanya di hadapan kediktatoran kapitalis, membuktikan bahwa kekuasaan diktator kapitalis telah mengatasi otoritas negara dan kekuasaan rakyat atau demokrasi hanyalah ilusi belaka.
Ciri Utama:
• Dominasi Modal: Kelas kapitalis (pemilik modal besar) menjadi kekuatan utama yang menentukan arah ekonomi, politik, dan sosial.
• Kontrol Terselubung: Meskipun mungkin ada pemilihan umum, kebijakan negara selalu berpihak pada kepentingan kapitalis, bukan rakyat jelata, sehingga menciptakan “tirani kekayaan”.
• Eksploitasi: Sistem ini mengeksploitasi tenaga kerja manusia demi keuntungan maksimal dan tak terkontrol oleh pihak lain.
• Orientasi: Sistem ini sepenuhnya berorientasi egois dan menghendaki kekuasaan absolut melampaui negara berdasarkan kekuasaan atas massifnya kapital yang dimilikinya.
• Pola: Sadar dengan orientasi egois tersebut, kegiatan ekspansi kapitalnya, tidak terkonsentrasi pada satu negara tertentu, tapi meluas ke berbagai negara guna melindungi kapitalnya secara berkelanjutan. Penempatan surplus kapitalnya, dilokasikan pada negara-negara surga pajak, dengan motif yang jelas: keberlangsungan eksistensi dan kekuasaan kapitalis terhadap setiap entitas yang berpotensi menghentikan kelangsungannya.
*Keniscayaan Bangkitnya Kesadaran dan Persatuan Rakyat Lapis Bawah yang Paling Menderita dari Implikasi Kediktatoran Kapitalis*
Saat ini, Indonesia telah dicengkeram demikian kuat oleh kediktatoran kapitalis ini, sampai pada tingkat nyaris punahnya harapan untuk hidup yang bebas dan sejahtera bagi rakyat lapis bawah. Lingkaran syetan kemiskinan dan regenerasi sebagai kelas miskin tak berdaya di hadapan gilasan kediktatoran kapitalis yang menentukan arah dan kondisi ekonomi, politik, hukum hingga kebudayaan, menjadi rutinitas yang yang tak dapat diatasi, karena merupakan kehendak politik dari kediktatoran kapitalis guna tersedianya tenaga yang murah untuk mengamankan dan menggerakkan sistemnya.
Setiap upaya untuk menantang kediktatoran ini akan diatasi dengan respons yang keras dan sistematik dari korporasi, bahkan dengan memobilisasi polisi (biasanya brimob) dan tentara. Bahkan infiltrasi kediktatoran kapitalis ini ke dalam komponenen negara telah demikian telanjang, baik menempatkan orang-orang yang melayani mereka sejak lama di partai politik, kementerian, birokrasi hingga pejabat tinggi. Bahkan di ormas-ormas berpengaruh pun, seperti MUI, NU dan Muhammadiyah, senantiasa terdapat orang yang teridentifikasi bagian yang siap melayani kediktatoran kapitalis ini. Tidak hanya itu, di perguruan-perguruan tinggi berpengaruh pun, terdapat figur-figur akademisi yang melayani kediktatoran kapitalis ini.
Nyatalah tiada lagi yang dapat dilakukan oleh rakyat selain melawan dan memperkuat solidaritas emosional mereka sebagai senasib yang ditindas oleh kediktatoran kapitalis ini.
Salah satu buku yang secara baik menjelaskan fenomena kediktatoran kapitalis ini ialah Capitalist Dictatorship yang ditulis oleh Milan Zafirovski. Profesor ini memiliki latar akademis yang kuat dalam studi sosiologi.
Saya sangat menganjurkan tokoh-tokoh agama yang memperoleh kepercayaan rakyat kecil sebagai guru kehidupan mereka untuk menelaah buku ini agar analisa situasi tidak melulu ketinggalan zaman yang akhirnya hanya akan menguntungkan kaum yang menikmati berlangsungnya sistem kediktatoran kapitalis ini. Rakyat kecil harus disuluhi pandangannya agar mengerti mengapa mereka hidup laksana dalam perbudakan yang terselubung tapi massif. Jangan sampai rakyat tidak mampu menyingkap hakikat nasib dan masalah yang mendera mereka, akibat alfanya guru-guru kehidupan mereka terhadap persoalan mendasar tersebut. Apalagi kalau ternyata faktornya adalah kurangnya wawasan para guru-guru kehidupan tentang situasi masa kini yang menentukan sistem masyarakat itu.
Lihatlah, setiap kali kita berangkat pagi-pagi dengan KRL menuju Jakarta, dari Bogor, Bekasi, Tangerang, hingga Cikarang, budak-budak korporat demikian massifnya dan sangat tersiksa selama berdesakan di dalam perut kereta. Pulang kerja juga demikian. Tapi kita dan mereka tidak berdaya lagi kecuali berdamai dengan sistem yang ada demi melangsungkan kehidupan yang makin ketat dan kejam. Tidak berdaya itu, karena buta dengan keadaan dan tidak terjadinya persatuan senasib sepenanggungan. Buktinya dahulu, kita (rakyat lapis bawah) pernah berhasil mengusir penjajah mereka, yaitu pemerintahan kapitalis Belanda.
Oleh: Bhre Wira, Observer Tatanan Indonesia