ENGKAU PULANG, TAPI TAK PERNAH PERGI: Mengenang Alm. KH. Nadjamuddin Marzuki

 ENGKAU PULANG, TAPI TAK PERNAH PERGI: Mengenang Alm. KH. Nadjamuddin Marzuki

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)

Ada saat ketika dunia tiba-tiba terasa sunyi. Bukan karena hilangnya suara, tetapi karena hadirnya kehilangan. Sesuatu yang begitu dekat di hati terenggut tanpa kembali menghadap kehadirat-Nya, meninggalkan ruang kosong yang tak terlihat, namun terasa perih.

Kehilangan tidak datang dengan gaduh, ia hadir berlahan , menyusup ke dalam batin, lalu mengguncang seluruh rasa dan bangunan jiwa.

Kehilangan itu semakin nyata ketika orang tua kami, sekaligus paman kami, dan pemimpin umat KH. Nadjamuddin Marzuki dipanggil pulang oleh Allah SWT. untuk selama-lamanya.

Kepergiannya bukan hanya kehilangan keluarga, tetapi kehilangan umat. Ia tidak hanya dishalatkan, tetapi dihadiri pelayat dan diantar oleh ribuan jamaah, oleh cinta, oleh doa, oleh air mata, dan oleh rasa kehilangan kolektif yang tak terucap.

Ribuan langkah mengiringinya, seakan seluruh jalan ingin menjadi saksi bahwa seorang alim tidak pernah benar-benar pergi sendirian.

Dalam kepergiannya, terasa bahwa yang wafat bukan hanya seorang manusia, tetapi sebuah cahaya, sebuah teladan, sebuah penyangga spiritual umat. Kesunyian setelahnya bukan sekadar duka, tetapi kehampaan makna yang hanya bisa diisi dengan doa dan kesabaran.

Namun justru di sanalah hakikat kehilangan berbicara paling jujur, bahwa tidak ada yang benar-benar kita miliki.

Allah SWT. berfirman:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
(QS. Al-Baqarah: 156).
Ayat ini bukan sekadar kalimat penghibur, tetapi deklarasi tauhid tentang kepemilikan hidup, bahwa semua adalah titipan dan setiap titipan pasti akan kembali kepada Pemiliknya.

Kehilangan sering membuat manusia bertanya “mengapa aku?”, padahal pertanyaan yang lebih dalam adalah “apa yang Allah ingin ajarkan kepadaku?”. Sebab kehilangan bukan sekadar perpisahan, tetapi pendidikan ruhani.

Allah SWT. berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155).

Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ
“Besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.”(HR. Tirmidzi).

Maka wafatnya orang-orang mulia bukan tanda murka Allah, tetapi isyarat cinta dan kemuliaan maqam di sisi-Nya.
Ali bin Abi Thalib RA. berkata:
مَا أَخَذَ اللَّهُ مِنْكَ شَيْئًا إِلَّا لِيُعْطِيَكَ خَيْرًا مِنْهُ
“Allah tidak mengambil sesuatu darimu, kecuali untuk memberimu yang lebih baik.”

Kalimat ini mengajarkan bahwa kehilangan bukan kehancuran, tetapi pemindahan kebaikan dalam bentuk yang belum kita pahami.
Imam Al-Ghazali berkata:
مَا فَقَدْتَ شَيْئًا إِلَّا وَفِي فَقْدِهِ حِكْمَةٌ
“Tidaklah engkau kehilangan sesuatu, kecuali di dalamnya terdapat hikmah.”

Bahkan kepergian seorang alim besar menyimpan hikmah membangunkan kesadaran umat, menghidupkan cinta ilmu, dan menguatkan ingatan kolektif tentang nilai-nilai yang beliau wariskan.

Kehilangan juga membongkar ilusi kepemilikan manusia. Ia meruntuhkan rasa “aku punya” dan menggantinya dengan kesadaran “aku hanya dititipi”. Rasulullah SAW. bersabda:
الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ
“Dunia itu terlaknat dan segala isinya terlaknat, kecuali dzikir kepada Allah dan segala yang mendekatkan kepada-Nya.”(HR. Tirmidzi).
Kehilangan datang untuk melepaskan keterikatan berlebihan pada dunia yang fana.

Kepergian KH. Nadjamuddin Marzuki bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga warisan nilai, keteladanan, dan tanggung jawab moral. Umat kehilangan sosok, keliarga kehilangan figur yang dicintai, tetapi tidak boleh kehilangan arah. Karena para alim sejatinya tidak mati, mereka hidup dalam ilmu, teladan, dan jejak kebaikan yang ditinggalkan.

Pada akhirnya, kehilangan bukan kehampaan, tetapi pembentukan. Ia bukan penghancuran, tetapi pemurnian. Ia bukan akhir, tetapi awal kesadaran baru. Ia melatih ikhlas, menumbuhkan ridha, menguatkan tawakkal, dan mendewasakan iman.

Kehilangan membimbing manusia menuju satu kebenaran hakiki, bahwa hidup ini bukan tentang apa yang kita genggam, tetapi tentang kepada siapa kita kembali. Karena yang benar-benar abadi bukan yang kita miliki, melainkan yang kita serahkan dengan penuh keikhlasan kepada Allah SWT.

Kehilangan bukan akhir segalanya. Ia adalah jembatan menuju kesadaran, kepasrahan, dan kedewasaan iman. Dan dalam wafatnya orang-orang shalih, umat sedang diuji, apakah hanya mampu menangisi kepergian mereka, atau mampu melanjutkan perjuangan nilai yang mereka hidupkan.

#Wallhu A’lam Bish-Shawab

Facebook Comments Box