INTANGIBLE ASSETS DALAM RELASI SOSIAL: Indahnya Cinta, Kebersamaan, dan Saling Menghargai

 INTANGIBLE ASSETS DALAM RELASI SOSIAL: Indahnya Cinta, Kebersamaan, dan Saling Menghargai

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)

Ada harta yang tidak tersimpan di lemari besi, tidak tercatat dalam laporan keuangan, dan tidak bisa diwariskan lewat dokumen hukum. Namun tanpanya, semua yang tampak menjadi rapuh. Harta itu bernama cinta, kebersamaan, kekompakan, dan saling menghargai. Ia tidak berwujud, tetapi menentukan arah hidup, itulah *intangible asset* paling bernilai dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Di zaman serba cepat ini, manusia kerap mengejar yang terlihat, pencapaian, pengakuan, dan angka. Sementara yang tak kasatmata sering terabaikan.

Padahal, runtuhnya banyak relasi bukan karena kekurangan materi, melainkan karena matinya empati. Kita sibuk membangun prestasi, tetapi lupa merawat perasaan, rajin menyusun rencana, namun lalai menjaga kepercayaan.

Al-Qur’an menempatkan cinta sebagai fondasi ketenangan hidup: وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً
“Dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Cinta dan kasih sayang bukan sekadar rasa, ia adalah energi yang membuat perbedaan tetap bisa berjalan seiring. Dari sanalah lahir kebersamaan,bukan karena sama, tetapi karena saling menerima.
Rasulullah SAW. mengingatkan: يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Pertolongan Allah bersama kebersamaan.”(HR.Tirmizi).

Kebersamaan yang dirawat dengan saling menghargai akan melahirkan kekompakan. Bukan kekompakan yang mematikan kritik, melainkan yang memuliakan adab. Sebab Allah telah memuliakan manusia:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”
(QS. Al- Isra’: 70)

Memuliakan manusia berarti menjaga lisan, menghormati perbedaan, dan memilih memahami sebelum menghakimi. Di sanalah relasi menjadi sehat dan tahan lama.

Rasulullah SAWZ menegaskan ukuran iman yang sesungguhnya:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”(HR. Bukhārī dan Muslim)

Maka jelaslah, cinta dan saling menghargai bukan pelengkap, melainkan penopang. Tanpanya, keberhasilan terasa kosong, dengannya, kesederhanaan menjadi bermakna.

Pada akhirnya, yang membuat hidup bertahan bukanlah apa yang kita miliki, tetapi bagaimana kita saling memperlakukan. Karena kekayaan sejati bukan yang terlihat oleh mata, melainkan yang menguatkan hati, dan itulah intangible asset yang tak tergantikan.

#Walahu A’lam Bish-Shawab

Facebook Comments Box