Skandal Epstein, Aib Peradaban Barat dan Bagaimana Harusnya Umat Islam

 Skandal Epstein, Aib Peradaban Barat dan Bagaimana Harusnya Umat Islam

Sudah waktunya kaum Muslimin memandang dengan seksama terhadap peradaban Barat, peradaban ini tengah berada pada periode menuju batas ajalnya. Jelas tidak ada yang abadi di dunia ini. Bukan karena pasang naiknya peradaban-peradaban dari Timur yang mulai mengejar dan menyaingi supremasi Barat seperti yang ditunjukkan oleh China dan kini Iran, tapi secara moral telah begitu busuk dan rapuh. Skandal Jeffrey Epstein yang saat ini gempar menyita perhatian dunia karena telah menyeret para pemimpin masyarakat Barat, mulai dari Donald Trump, Bill Clinton, Bill Gates, Elon Musk, Mandelson, hingga Ehud Barak dari Israel. Sebenarnya bukan hanya elit-elit masyarakat Barat tersangkut, tapi mencakup juga keterlibatan koneksi dengan elit-elit Arab yang bergantung legitimasi dan perlindungan eksistensial kepada Barat.

Seperti yang sudah diketahui khalayak di seluruh pers dunia, Epstein disinyalir merupakan agen CIA yang berperan memfasilitasi kecenderungan penyimpangan nafsu birahi para elit-elit Barat tersebut dengan “memangsa gadis-gadis di bawah umur hasil pasokan dari Epstein” di villanya yang jauh dari jangkaun publik, di sebuah pulau kecil di Karibia. Gilanya lagi, kegiatan laknat tersebut kemudian dia rekam melalui kamera tersembunyi sehingga dapat diduga bahwa rekaman itu digunakannya untuk mengendalikan elit-elit tersebut bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya. Taktik ini disebut blackmail. Kesimpulannya ialah begitulah politik yang tak kasat mata beroperasi di dunia Barat. Pemimpin-pemimpin resmi mereka yang muncul sebenarnya banyak yang korup, bergelimang dengan kasus kejahatan kemanusiaan, dan tanpa kemerdekaan pribadi akibat tersangkut operasi blackmail, namun melalui drama ritual pemungutan suara, dapat lolos dan kemudian menjabat sebagai pemangku kebijakan publik. Pihak yang sebenarnya menseleksi dan mengatur kelolosan elit-elit tersebut ialah kekuatan yang tak tersorot kamera dan tak tersentuh oleh hukum.

Terbongkarnya kasus Epstein ini setelah berlangsung sekian lama, merupakan suatu tanda tanya. Menurut pengakuan penyintas yang diwawancarai, dia yakin Epstein bekerja secara berkelompok, melibatkan CIA, Mossad, dan institusi bisnis keuangan, JP Morgan, sebagai penampung arus dana kegiatan. Sekarang dapat kita bayangkan, pribadi-pribadi yang rusak dan terjerat blackmail itulah yang memimpin Amerika, yang memimpin partai politik di Inggris, memimpin aneka bisnis yang merentang ke seluruh dunia, dan mereka itulah yang menyatakan kapan perang, kapan damai, kapan negara lain dikudeta, dan kapan boneka baru dinaikkan. Betapa celakanya umat manusia di seluruh dunia akibat dari hal tersebut.

Tuntutan Tanggung jawab Kaum Muslimin

Selama ini, di antara golongan umat manusia yang paling menderita dari aksi-aksi politik, ekonomi dan militer peradaban Barat, ialah umat Islam. Kebebasan untuk berkembang mandiri ditekan. Umat Islam dipaksa supaya mengadopsi prinsip-prinsip sekularisme yang menjadi fondasi peradaban Barat. Tekanan untuk meninggalkan hukum syara’, sumber daya alamnya dihisap, orientasi dan rancang bangun pendidikannya disesuaikan dengan apa yang berkembang di Barat, hingga tata kelola negaranya harus berdasarkan kepatuhan dengan syarat-syarat yang diakui oleh Barat, misalnya harus dilaksanakannya pemungutan suara berdasarkan parameter kuantitatif, sampai tidak boleh memiliki industri-industri militer yang mandiri dan senjata nuklir. Dengan demikian, rata-rata negara-negara Muslim hanya eksis sebagai pasien dan klien dari negara-negara Barat, kecuali sekarang Iran dan Afghanistan yang baru saja berhasil mengusir Amerika Serikat.

Penetrasi dan rekayasa Barat terhadap kaum Muslimin rasanya hampir nyaris berhasil memutasi genetika dan kepribadian kaum Muslimin seperti yang dikehendaki Barat, dimana kaum Muslimin memandang Barat adalah patron, acuan, standard, model, dan “bapak baptis” mereka. Tetapi tetap tidak akan sepenuhnya berhasil selama Alquran dan teks hadits masih tetap dipelihara, diajarkan dan dilakonkan dalam praktik kehidupan sehari-hari kaum Muslimin. Bagaimanapun akan ada kontradiksi jiwa dan logika antara peradaban Barat dan peradaban otentik kaum Muslimin.

Satu-satunya cara Barat untuk menaklukkan dan menguasai kaum Muslimin yaitu dengan mendisorganisasi mereka, memfragmentasikan umat menjadi beragam kelompok, dan merawat hidupnya individualisme dan gharizah/naluri hewaniah pada kaum Muslimin.
Hasilnya dapat kita rasakan betapa tipisnya ikatan emosional dan solidaritas antar individu kaum muslimin. Bukti lainnya ialah betapa ketimpangan kekayaan antar sesama kaum Muslimin berlangsung tanpa reaksi negatif yang berarti. Rentetannya ialah makin lemah dan hilangnya orientasi sebagai satu kesatuan sebagai umat Islam. Di tingkat individu, terjadi proses alienasi dan keterisoliran dari sesama karena dasar ikatan antar manusia telah berganti menjadi ikatan berdasarkan meteri dan tujuan-tujuan duniawiyah. Di titik inilah, banyak individu kehilangan arah dan luruhnya tenaga hidup atau semangat untuk berjuang untuk tegak berdiri, berganti menjadi lesu, putus semangat hingga frustrasi akibat derita kesenderian dan kesepian menahun.

Implemantasi Ajaran Berjamaah Sebagai Solusi Krisis Umat

Modernisme yang disebarkan oleh Barat dalam kebudayaan umat Islam, memang tak terelakkan telah menimbulkan alienasi secara psikologis dan sosiologis (keterasingan antar individu) sekaligus, disorganisasi dan kerapuhan secara kolektif. Ini adalah krisis tersendiri dalam tubuh umat Islam. Oleh karena itu, penting kembali untuk menghidupkan ajaran berjamaah.

Mari kita simak dan renungkan kembali hadits-hadits berikut.

Hadits Pertama

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Idris Al Khaulani, bahwa ia mendengar Hudzaifah bin Al Yaman radhiyallahu anhu berkata,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ» قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ» قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: «قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ» قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: «نَعَمْ، دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، صِفْهُمْ لَنَا؟ فَقَالَ: «هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا» قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ، قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ؟ قَالَ «فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ، حَتَّى يُدْرِكَكَ المَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ»

Artinya:
“Dahulu para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tentang kebaikan, tetapi aku bertanya kepada Beliau tentang keburukan karena khawatir menimpa diriku, aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, dahulu kami berada di masa Jahiliyah dan dalam keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan (Islam) ini kepada kami, maka apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?” Beliau menjawab, “Ya.” Aku bertanya lagi, “Apakah setelah keburukan ini ada kebaikan?” Beliau menjawab, “Ya, namun di sana ada dakhan (kabut).” Aku bertanya, “Apa kabutnya?” Beliau menjawab, “Adanya orang-orang yang mengarahkan manusia namun bukan menggunakan petunjukku, engkau kenali mereka, namun pada saat yang sama engkau ingkari.” Aku bertanya kembali, “Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?” Beliau menjawab, “Ya, ada penyeru-penyeru ke pintu neraka Jahannam. Siapa saja yang menyambut seruan mereka, maka mereka akan menjatuhkan ke dalam neraka.” Aku bertanya kembali, “Wahai Rasulullah, terangkanlah sifat mereka kepada kami!” Beliau menjawab, “Mereka berasal dari kalangan kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya, “Apa perintahmu kepadaku ketika aku menemukan masa tersebut?” Beliau menjawab, “Engkau berpegang dengan jamaah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku bertanya kembali, “Jika mereka tidak memiliki jamaah dan tidak pula memiliki imam (bagaimana sikapku)?” Beliau menjawab, “Tinggalkanlah semua golongan yang ada meskipun engkau harus menggigit akar pohon sampai maut datang kepadamu sedangkan dirimu di atas itu.” (Hr. Bukhari no. 3606 dan Muslim no. 1847)

Hadits Kedua

وَعَنْ أَبِي الدَّرْدَاء – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، يَقُوْلُ : ( مَا مِنْ ثَلاثَةٍ فِي قَرْيةٍ ، وَلاَ بَدْوٍ ، لا تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إلاَّ قَد اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِم الشَّيْطَانُ . فَعَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ ، فَإنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ مِنَ الغَنَمِ القَاصِيَة) رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ

Artinya:
Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah terdapat tiga orang di satu desa atau kampung yang tidak ditegakkan shalat di sana kecuali mereka telah dikalahkan oleh setan. Maka haruslah bagi kalian untuk berjamaah, sebab serigala hanya akan memakan domba yang jauh dari kawannya.’” (Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad hasan) [HR. Abu Daud, no. 547 dan An-Nasa’i, no. 848. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih.

Hadits Ketiga

عَنْ ‌عَرْفَجَةَ بْنِ شُرَيْحٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَخْطُبُ النَّاسَ فَقَالَ إِنَّ يَدَ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ يَرْكُضُ

Artinya:

Dari ‘Arfajah bin Shurayh meriwayatkan: Aku melihat Nabi SAW menyampaikan khutbah kepada manusia, beliau berkata, “Sesungguhnya tangan Allah berada di atas umat yang bersatu, karena setan akan bersama orang yang memisahkan diri dari jamaah dan mengejarnya.” HR. Nasai.
Sumber: Sunan al-Nasā’ī 4020
Derajat:  Sahih  (otentik) menurut Al-Albani

Hadits Keempat

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَعَلَيْهِ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْفَذِّ

Artinya:
Dari Umar bin Khattab meriwayatkan: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda, “ Barang siapa menginginkan tempat terbaik di surga, hendaklah ia dekat dengan masyarakat yang bersatu, karena setan akan bersama orang-orang yang menyendiri .”
Sumber: al-Sunnah li-Ibnu Abī ‘Āṣim 86
Derajat: Sahih (otentik) menurut Al-Albani

Hadits Kelima

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُوصِيكُمْ بِأَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَفْشُو الْكَذِبُ حَتَّى يَحْلِفَ الرَّجُلُ وَلَا يُسْتَحْلَفُ وَيَشْهَدَ الشَّاهِدُ وَلَا يُسْتَشْهَدُ أَلَا لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمْ الْجَمَاعَةَ مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكُمْ الْمُؤْمِنُ

Artinya:

Dari Umar bin Khattab meriwayatkan: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku menganjurkan kalian untuk mengikuti para sahabatku, kemudian orang-orang setelah mereka, dan orang-orang setelah mereka lagi. Setelah itu, kebohongan akan menyebar hingga seorang laki-laki bersumpah tanpa diminta dan seorang saksi memberi kesaksian tanpa diminta. Tidak diragukan lagi, seorang laki-laki tidak akan sendirian dengan seorang perempuan melainkan setan akan menjadi pihak ketiga di antara mereka. Wajiblah kalian berjamaah dan waspadalah terhadap perpecahan, karena setan hanya bersama satu orang dan jauh dari dua orang bersama. Barangsiapa yang menginginkan tempat terbaik di surga, hendaklah melazimkan diri dengan berjamaah. Barangsiapa yang bergembira dengan amal kebaikannya dan bersedih dengan amal kejahatannya, maka dialah orang yang beriman di antara kalian.”
Sumber: Sunan al-Tirmidzi 2165
Derajat: Sahih (otentik) menurut Al-Tirmidhi

Hadits Keenam

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضي الله عنه قال ،أن  رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :
إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ الْإِنْسَانِ كَذِئْبِ الْغَنَمِ يَأْخُذُ الشَّاذَّةَ وَالْقَاصِيَةَ وَالنَّاحِيَةَ وَإِيَّاكُمْ وَالشِّعَابَ وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَالْعَامَّةِ وَالمسجد(رواه أحمد)

Artinya:
Dari Muadz bin Jabal radhiAllah anhu berkata, bahwa rasulullah sallahu alaihi wa salam bersabda:
“Sesungguhnya setan adalah serigala terhadap manusia seperti serigala menerkam kambing yang terasing, menjauh dan menyisih. Maka janganlah kalian menempuh jalan sendiri dan hendaklah kalian berjama’ah dan berkumpul dengan orang banyak dan Masjid.” (H.R. Ahmad)

Hadits Ketujuh

 

وعن أبي سعيد وأبي هريرة رضي الله عنهما قالا‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ “إذا خرج ثلاثة في سفر فليأمروا أحدهم‏”‏ حديث حسن،(‏رواه أبو داود بإسناد حسن‏)‏‏.

Artinya:

Dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah (semoga Allah meridai mereka) meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda, “Apabila tiga orang berangkat melakukan perjalanan, hendaknya mereka menunjuk salah seorang di antara mereka sebagai pemimpin.” HR. Abu Dawud.

Perkataan Sahabat, Umar bin Khattab ra

Umar bin Al-Khattab berkata:

إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ وَلاَ جَمَاعَةَ إِلاَّ بِإِمَارَةٍ وَلاَ إِمَارَةَ إِلاَّ بِطَاعَةٍ فَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى الْفِقْهِ كَانَ حَيَاةً لَهُ وَلَهُمْ وَمَنْ سَوَّدَهُ قَوْمُهُ عَلَى غَيْرِ فِقْهٍ كَانَ هَلاَكًا لَهُ وَلَهُمْ

Artinya:
“Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada Jama’ah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepe mimpinan kecuali dengan ditaati, maka barang siapa yang kaum itu mengangkatnya sebagai pimpinan atas dasar kefahaman, maka kesejahteraan baginya dan bagi kaum tersebut tetapi barangsiapa yang kaum itu mengangkatnya bukan atas dasar kefahaman, maka kerusakan baginya dan bagi mereka.” (HR.Ad-Darimi Sunan Ad-Darimi dalam bab Dzihabul ‘ilmi: I/79)

Perkataan Sahabat, Ali bin Abi Thalib

Ali berkata:

اَلسُّنَّةُ وَاللهِ سُنَّةُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاْلبِدْعَةُ مَا فَارَقَهَا وَ اَلْجَمَاعَةُ وَاللهِ مُجَامَعَةُ أَهْلِ اْلحَقِّ وَإِنْ قَلُّوْا وَ اْلفُرْقَةُ مُجَامَعَةُ أَهْلِ اْلبَاطِلِ وَاِنْ كَثَرُوْا

Artinya:
“Demi Allah, sunnah itu adalah sunnah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bid’ah itu adalah apa-apa yang memperselisihinya. Dan demi Allah, Al-Jama’ah itu adalah berkumpulnya ahlul haq sekalipun mereka sedikit dan Firqah itu adalah berkumpulnya ahlul bathil sekalipun mereka banyak.” (Hamisy Musnad Imam Ahmad bin Hambal: I/109)

Demikian pentingnya ajaran berjamaah yang diwasiatkan oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya. Ajaran berjamaah inilah salah satu kunci kekuatan dan kemenangan umat Islam pada periode awal.

Oleh: Syahrul Efendi Dasopang, Penulis Buku Ilmu Berpikir*

Facebook Comments Box