Paranoia Konjugal & Othello Syndrome: Ketika Keyakinan Salah Terasa Lebih Nyata dari Fakta

 Paranoia Konjugal & Othello Syndrome: Ketika Keyakinan Salah Terasa Lebih Nyata dari Fakta

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)

Cinta seharusnya menghadirkan ketenangan. Tetapi ada cinta yang justru melahirkan kecemasan. Ada hubungan yang awalnya hangat, perlahan berubah menjadi ruang interogasi. Pesan singkat menjadi sumber curiga. Keterlambatan kecil menjadi bukti yang dibesar-besarkan. Senyum kepada orang lain terasa seperti ancaman. Di titik inilah kita berbicara tentang paranoia konjugal, atau yang dikenal dalam dunia psikologi sebagai Othello Syndrome.

Othello Syndrome adalah istilah yang diambil dari tokoh Othello dalam tragedi karya William Shakespeare. Othello membunuh istrinya karena keyakinan bahwa ia dikhianati, padahal keyakinan itu lahir dari prasangka dan manipulasi, bukan dari fakta. Ia yakin, tetapi ia salah. Ia percaya, tetapi ia keliru. Dan keyakinan yang salah itu terasa lebih nyata baginya daripada kebenaran.

Secara sederhana, kondisi ini adalah keyakinan kuat dan terus-menerus bahwa pasangan tidak setia, meskipun tidak ada bukti yang jelas. Ini bukan sekadar cemburu biasa. Cemburu masih bisa diajak bicara. Paranoia tidak. Ia kaku, keras, dan menutup pintu dialog. Bahkan ketika pasangan telah menjelaskan, hati tetap menolak percaya.

Mengapa ini bisa terjadi?, Kadang karena luka lama yang belum sembuh. Kadang karena rasa tidak aman yang dipelihara diam-diam. Kadang karena pengalaman pengkhianatan masa lalu yang membuat seseorang takut kehilangan lagi. Namun ketika ketakutan itu tidak diolah dengan sehat, ia berubah menjadi kecurigaan permanen.

Islam sejak awal mengingatkan betapa berbahayanya prasangka yang tidak berdasar:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”(QS. Al-Hujurat: 12)

Prasangka bukan hanya soal etika sosial. Ia juga soal kesehatan jiwa. Karena prasangka yang dibiarkan tumbuh akan menguasai pikiran. Dan pikiran yang dikuasai prasangka akan sulit membedakan antara fakta dan ketakutan.

Rasulullah SAW. bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa dalam sabda ini. Prasangka disebut sebagai “sedusta-dustanya perkataan,” padahal ia sering tidak terucap. Ia hanya bergema dalam pikiran. Namun gema itu bisa lebih keras daripada kenyataan. Cemburu memang bagian dari cinta. Tetapi cinta yang sehat melahirkan rasa aman, bukan rasa takut berlebihan. Ibnul Qayyim mengingatkan:
وَالْغَيْرَةُ إِذَا تَجَاوَزَتْ حَدَّهَا انْقَلَبَتْ ظُلْمًا
“Cemburu jika melampaui batasnya akan berubah menjadi kezaliman.”

Artinya, ketika cemburu melewati batas kewajaran, ia bukan lagi tanda cinta, melainkan bentuk ketidakadilan. Ia menyiksa pasangan, dan pada saat yang sama menyiksa diri sendiri.

Al-Qur’an menggambarkan tujuan pernikahan dengan kata yang sangat lembut:
لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
“Agar kamu merasa tenteram kepadanya.”(QS. Ar-Rum: 21)

Tenteram. Bukan tegang. Bukan terancam. Bukan terus-menerus curiga. Paranoia konjugal sering membuat seseorang merasa sedang menjaga cinta, padahal ia sedang merusaknya. Ia merasa sedang mempertahankan hubungan, padahal ia sedang mengikisnya perlahan.

Karena kepercayaan adalah fondasi utama pernikahan. Tanpa kepercayaan, cinta hanya menjadi emosi yang rapuh. Maka pertanyaannya bukan sekadar, “Apakah pasangan bersalah?” Tetapi, “Apakah ketakutan ini benar-benar nyata, atau hanya bayangan dari luka yang belum sembuh?”

Terkadang yang perlu diperbaiki bukan pasangan, tetapi cara kita memaknai realitas. Bukan orang lain yang harus berubah, tetapi cara kita mengelola rasa.

Jika kecurigaan sudah begitu kuat dan sulit dikendalikan, mencari bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan. Itu tanda keberanian untuk menyelamatkan diri dan hubungan.

Dan di atas semua itu, memperkuat hubungan dengan Allah adalah fondasi ketenangan batin. Karena hati yang dekat dengan-Nya lebih mudah tenang, lebih mudah percaya, dan lebih mudah memaafkan.

Pada akhirnya, cinta bukan tentang menguasai, tetapi tentang mempercayai. Bukan tentang menahan dengan ketakutan, tetapi menjaga dengan ketenangan.
Dan mungkin, ujian terbesar dalam sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan hadirnya prasangka yang kita pelihara sendiri.

Karena ketika kita belajar membedakan antara fakta dan ketakutan, di situlah cinta kembali menemukan maknanya, sebagai tempat pulang yang aman, bukan ruang sidang yang penuh tuduhan.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab

Facebook Comments Box