Ramadhan & Interpersonal Exploitativeness: Menyucikan Iman dari Nafsu Menginstrumentalisasi Manusia

 Ramadhan & Interpersonal Exploitativeness: Menyucikan Iman dari Nafsu Menginstrumentalisasi Manusia

Munawir

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar

Ada ironi yang sering luput kita sadari, seseorang bisa begitu khusyuk berdiri di hadapan Allah, tetapi begitu ringan memanfaatkan sesama. Ia menundukkan kepala dalam doa, namun menegakkan kepentingannya di atas kelemahan orang lain.

Di sinilah Ramadhan datang bukan sekadar sebagai bulan lapar dan dahaga, melainkan sebagai cermin yang jujur, memantulkan wajah relasi kita dengan manusia lain. Apakah kita beribadah untuk menyucikan jiwa, atau sekadar memperindah citra diri?

Apa yang dalam psikologi disebut interpersonal exploitativeness, kecenderungan memanfaatkan orang lain demi keuntungan pribadi, sesungguhnya bukan fenomena baru. Ia hadir dalam bentuk yang halus, hubungan yang dibangun karena kepentingan, jabatan yang dijadikan alat menekan, bahkan kebaikan yang dibungkus agar kembali sebagai keuntungan. Kita hidup di zaman ketika relasi sering berubah menjadi transaksi, dan kepercayaan kerap diperlakukan sebagai komoditas. Ramadhan hadir untuk meruntuhkan pola itu dari akarnya.

Allah mengingatkan dengan nada yang tegas:
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ۝ وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
“Celakalah orang-orang yang curang, yaitu mereka yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, tetapi ketika menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifin: 1–3)

Ayat ini bukan sekadar tentang timbangan di pasar, melainkan tentang ketimpangan hati. Tentang manusia yang ingin haknya utuh, tetapi hak orang lain ia potong diam-diam. Bukankah itu wajah eksploitasi yang paling nyata?

Puasa mendidik kita merasakan kekurangan agar kita berhenti merasa berhak atas segalanya. Dalam lapar, kita belajar empati. Dalam dahaga, kita memahami arti kebutuhan. Karena itu Allah berfirman:
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ
“Dan pada harta mereka ada hak bagi orang yang meminta dan orang yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)

Menariknya, Allah menyebutnya sebagai “hak”, bukan sekadar “sedekah”. Artinya, dalam setiap kelebihan kita, ada bagian orang lain yang harus ditunaikan. Jika kesadaran ini hidup, maka eksploitasi akan mati dengan sendirinya.

Rasulullah SAW. bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ
“Bukanlah seorang mukmin yang kenyang sementara tetangganya lapar di sampingnya.”

Hadis ini seperti mengetuk pelan nurani kita, bagaimana mungkin puasa diterima jika kepekaan sosial tak tumbuh? Bagaimana mungkin doa terangkat jika tangan masih ringan menekan yang lemah?

Ramadhan sejatinya adalah revolusi relasi. Ia melatih kita menahan diri dari yang halal, agar kita lebih mudah menjauhi yang haram. Ia mengajarkan cukup, agar kita tak lagi rakus. Ia mendidik empati, agar kita tak lagi memanipulasi. Dalam suasana ibadah yang khusyuk, kita diajak menata ulang cara kita memperlakukan manusia, bukan sebagai alat, tetapi sebagai amanah.

Akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang berapa kali kita khatam Al-Qur’an, tetapi tentang seberapa bersih hati kita dari hasrat memanfaatkan orang lain. Ia bukan sekadar bulan ibadah vertikal, tetapi bulan penjernihan hubungan horizontal. Dan kebahagiaan sejati Ramadhan bukan hanya ketika azan Maghrib berkumandang, melainkan ketika hati kita terasa lebih ringan karena tak lagi memikul beban kezaliman terhadap sesama.

Di sanalah ibadah menjadi cahaya, bukan hanya menerangi diri, tetapi juga menghangatkan dunia di sekitar kita.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab

Facebook Comments Box