AS Rezim Dunia Ditantang Iran: Apa Dampaknya Bagi Rezim Nasional Kita?
Selama ini, rezim dunia, sepenuhnya didikte dan dikuasai oleh Amerika Serikat. Dan kalau kita selidiki lagi, Amerika Serikat sendiri, dengan sifat rakyatnya yang sibuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sebetulnya dikuasai oleh zionisme. Zionisme sendiri suatu ideologi bermaksud membawa dan memastikan Yahudi berkuasa di Timur Tengah atau Asia Barat dengan pusatnya di Yerusalem. Elit-elit Amerika sendiri ramai dengan latar belakang Yahudi, dan grup lobby Yahudi, AIPAC, masyhur sejak dulu berpengaruh. Dapat dikatakan, Amerika konsisten dan komit melindungi dan menyuplai kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh Israel, negara Yahudi di Timur Tengah, dari teknologi, alutsista, ekonomi, intelijen, hingga anggaran negara kecil dan licin itu. Rakyat amerika, tidak kuasa untuk mencegah pajak-pajak mereka mengalir ke Israel.
Dengan demikian saja, sebetulnya dapat disimpulkan, rezim dunia sedikit banyak, dipengaruhi dan ditentukan oleh Israel, sampai suatu saat sebagaimana rencana mereka, dapat sepenuhnya berkuasa dan mendikte dunia secara lagsung tanpa menggunakan Amerika lagi. Dan tujuan itulah yang sedang mereka kejar saat ini, saat Gaza telah dapat mereka hancurkan tanpa suatu penentangan yang berarti dari negara-negara di dunia, kecuai Iran. Dan saat Iran menolog Gaza, kini sasaran serangan militer Israel bersama Amerika, beralih pula ke Iran. Dan dua negara yang dikontrol zionisme ini, bermaksud menghancurkan Iran, dan jika hancur dan lumpuh, maka tak ada lagi hambatan yang berarti bagi Israel untuk mencapai ambisinya: berkuasa dan mengembangkan hegemoni di Timur Tengah dan dunia Islam yang potensial menghalangi tujuan mereka. Di titik kesimpulan awal ini, akhirnya kita betul prihatin dengan keputusan Prabowo, di satu sisi mencoba bersikap non blok dalam konflik Iran vs Israel-AS, dam pada sisi lain, bergabung dengan BOP dan berniat mengirimkan TNI untuk melucuti tentara-tentara warga Gaza yang berjuang mempertahankan tumpah darahnya.
*Sifat Rezim Nasional Indonesia*
Rezim nasional Indonesia, kecuali rezim Soekarno, sepenuhnya dikontrol oleh Amerika. Ketika Soeharto mencoba membangun daya tawarnya kepada Amerika dengan beraliansi dengan kekuatan Islam, dalam hal ini ICMI, tidak berapa lama, rezim Soeharto diruntuhkan dan ICMI ikut juga rontok pengaruh dan kekuatannya.
Berangkat dari pengalaman langsung itu, rezim-rezim sesudah Soeharto, tidak akan pernah berani menentang AS. Kalau sedikit saja ada gejala menantang, rezim itu akan diganti dengan rezim yang lebih patuh pada AS. Rezim Mega, diganti oleh rezim anak penurut, Jenderal SBY. Rezim Jokowi yang bermesraan dengan China, diganti dengan Jenderal Prabowo. Anehnya, kenapa mereka dengan latar tentara, menunjukkan sifat yang patuh dan takut pada Amerika?
Walhasil sebenarnya, sifat kekuasaan dan pergantian rezim di Indonesia dikontrol oleh AS. Dan rakyat Indonesia sangat lemah untuk melawan, karena yang mereka lawan adalah double: rezim boneka Amerika dan Amerika itu sendiri. Rakyat hanya pasrah dengan nasib yang mereka tanggungkan. Itulah sebabnya, rezim-rezim nasional sama sekali tidak menghiraukan konsultasi dengan rakyat jika hendak melancarkan kegiatan kekuasaannya. Walaupun kegiatan kekuasaannya itu merugikan rakyat dan menindas. Sebab rakyat tidak berdaya, dan hanya dihiraukan, mana kalau Amerika bereaksi atas aksi kekuasaan domestik ini. Dengan demikian, sifat dan perilaku asli rezim-rezim nasional, bagaimana menyenangkan hati majikan mereka di Gedung Putih dan Pentagon dengan menyuap berupa upeti-upeti dengan kedok pembelian senjata, kerjasama pertahanan, konsesi tambang, dan yang paling mencengangkan saat ini: dimana telah terjadi pendiktean kepentingan oleh Trump terhadap Indonesia, melalui kedok tarif perdagangan, keikutsertaan dalam BOP, dan lain-lain. Semua itu, bagi elit nasional tidak masalah, selama mereka dapat menikmati posisi mereka untuk mengontrol Indonesia.
Demikianlan nasib sejarah yang dialami oleh rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim ini, dan telah berjalan sejak rezim Orde Baru dirancang dan diproteksi oleh AS.
Sekarang, jika Iran mampu bertahan dalam perang AS dan Israel terhadap Iran, maka dapat berdampak melemahkan daya gertak AS terhadap dunia, sehingga dunia tidak perlu selalu menuruti perintah dan dikte AS. Spanyol sudah memulainya sekarang. Dan Iran-lah yang paling depan menentang sifat agresf dan dominasi AS ini.
Yang dilakukan AS saat ini, yaitu mengonsolidasikan negara-negara yang rezimnya bergantung nasibnya pada AS. Kemudian rezim-rezim itu, dipaksa AS untuk menjadi pijakan bagi AS untuk mempetahankan dominasinya yang makin melemah akibat perang dengan Iran dan pertarungan pengaruhnya dengan China. Dengan demikian Iran adalah pertaruhan bagi rakyat seperti Indonesia agar terlepas dari rezim-rezim nasional yang senantiasa bergantung kekuatan kepada AS. Jika Iran bertahan, itu baik bagi rakyat tertindas dan terperas seperti Indonesia. Tetapi jika Iran runtuh dan maksud AS dan Israel tercapai, yaitu menguasai Iran, maka nasib rakyat yang diperas dan ditindas oleh elit-elit nasional yang korup, akan berlanjut lebih lama dan intens.
*~ Bhre Wira, pengamat politik*