Perang Ramadhan 1973 (Yom Kippur) dan Perang Ramadhan 2026: Akhir Rezim Petro Dollar?
Dari gambaran target serangan Iran, tampak satu pola yang jelas: bahwa Iran bermaksud mengakhiri era petro dollar. Pangkalan-pangkalan militer Amerika yang melindungi rezim negara-negara Arab teluk dan termasuk instalasi-instalasi minyak dan gas, dibakar oleh rudal-rudal Iran. Jelas hal ini, membawa negara-negara arab Teluk kehilangan citranya yang stabil, makmur dan kuat oleh perlindungan militer AS. Namun bagaimanakah petro dollar itu sebenarnya?
Petrodollar adalah mekanisme penjualan minyak bumi dan gas yang berasal dari negara-negara Arab Teluk, menggunakan mata uang dollar Amerika. Kompensasi dari penggunaan dollar Amerika ini, Amerika menempatkan pangkalan militernya di negara-negara Arab Teluk produsen minyak dan gas, guna menjamin keamanan eksplorasi, eksploitasi, produksi, pengolahan, penyimpanan hingga pengapalan ke negara-negara pembeli minyak. Skema ini merupakan hasil perjanjian antara Amerika Serikat dengan Arab Saudi dan diikuti oleh negara-negara arab teluk lainnya, sebagai implikasi dari perang ramadhan 1973 antara negara-negara Arab dengan Israel. Terutama sekali, akibat aksi embargo minyak oleh Arab Saudi terhadap Amerika dan negara-negara pendukung Israel, yang kemudian langkah ini didukung oleh OPEC, waktu itu. Amerika kemudian menekan Arab Saudi dan perundingan pun terjadi, yang hasilnya mengubah geopolitik setelah itu: petro dollar, perkawinan kepentingan antara negara-negara Arab teluk dengan Amerika melalui kebijakan mekanisme pembayaran minyak dan gas menggunakan mata uang dollar Amerika.
Kedua pihak ini sama-sama menangguk keuntungan strategis dan signifikan. Mata uang Amerika, yaitu dollar, menjadi alat pembayaran wajib dan standard bagi transaksi minyak dan gas, sehingga dollar menjadi tak tergoyahkan selama puluhan tahun. Jika importir minyak dan gas hendak membeli minyak dan gas dari negara-negara Arab Teluk, pihak importir harus menyediakan dollar untuk membayar produk yang dibeli, sehingga produsen minyak dan gas menerima dollar. Kemudian dollar itu kemudian banyak ditempatkan dalam bentuk investasi di Amerika dan Eropa. Dengan demikian sebenarnya, dollar Amerika itu didaur ulang dan dialirkan kembali kepada Amerika. Biasanya atas dasar logika kerentanan negara-negara Arab teluk, uang minyak tersebut dibelanjakan ke Amerika untuk memborong pesawat-pesawat tempur, teknologi, dan barang-barang mewah. Jadi dengan demikian, benar apa yang disebutkan oleh pejabat tinggi Iran: negara-negara Arab teluk hanyalah aset ekonomi dan militer bagi Amerika. Oleh sebab itulah, Iran menghancurkan objek-objek strategis di negara-negara Arab teluk tersebut, untuk meruntuhkan sumber-sumber kekuatan strategis Amerika. Kemudian, selat Hormuz juga diganggu dan diblokade oleh Iran, guna memeras kekuatan Amerika.
Dengan hancurnya secara signifikan aset-aset ekonomi dan militer Amerika di negara-negara Arab teluk, dimaksudkan untuk mengakhiri rezim petro dollar yang sudah menghegemoni sistem transaksi komoditas energi dunia selama ini. Dampaknya dapat menurunkan kekuatan Amerika secara ekonomi dan militer, dan juga mengubah nilai strategis negara-negara Arab teluk, apalagi di tengah makin menguatnya isu transisi energi dari berbasis fosil kepada energi hijau.
Di sinilah kita dapat mengerti pesan Iran ketika menyatakan agar transaksi minyak dan gas yang diizinkan melewati selat Hormuz supaya menggunakan mata uang Yuan (China).