AMERIKA: FIRAUN ATAU DAJJAL ZAMAN INI?: Renungan Global dari Caracas hingga Mekah
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)
Apakah mungkin sebuah bangsa menjelma menjadi kekuatan yang berdiri di atas hukum internasional, memutuskan nasib negeri lain tanpa persetujuan dunia, dan berjalan tanpa kompas moral?
Pertanyaan ini bukan hanya bergema di ruang akademik atau forum diskusi diplomatik, tetapi juga bergetar di jalan-jalan Caracas pada 3 Januari 2026 ketika dunia tercengang menyaksikan berita yang terasa seolah keluar dari lembaran sejarah yang tak pernah kita ingin baca, yakni Presiden Venezuela Nicolás Maduro ditangkap oleh militer Amerika Serikat.
Operasi itu terjadi diam-diam di malam hari, mengejutkan rakyat Venezuela sekaligus membangunkan kembali rasa gelisah akan dominasi kekuatan besar dalam urusan negara lain. Bagi Washington, tindakan itu dipresentasikan sebagai penegakan hukum global dan perang melawan narco-terorisme.
Bahkan, beberapa pernyataan resmi menyebut bahwa Amerika kini ingin membantu mempercepat transisi menuju “keamanan dan kemerdekaan rakyat Venezuela.”
Namun bagi banyak negara, termasuk China, Rusia, sejumlah negara Eropa dan anggota komunitas internasional. Tindakan tersebut adalah pelanggaran serius terhadap prinsip kedaulatan dan hukum internasional.
Dalam situasi itu para pemimpin interim Venezuela bahkan tampak bersedia bekerja sama dengan AS demi menjaga “stabilitas bersama,” meskipun banyak warga menilai hal itu sebagai penyerahan martabat bangsa.
Tetapi kejadian di Venezuela bukanlah peristiwa tunggal atau kebetulan. Ia adalah bab terbaru dari sejarah panjang intervensi negara adidaya terhadap urusan dalam negeri bangsa lain.Sejarah yang kerap dipenuhi ambisi ekonomi, dominasi politik, dan klaim moral atas nama demokrasi.
*SEJARAH PEMIMPIN YANG DIGULINGKAN ATAU DIPENGARUHI AS*
Untuk melihat pola yang lebih jelas, mari kita tinjau daftar 10 pemimpin atau rezim yang digulingkan, ditransisikan, atau dipengaruhi secara signifikan oleh Amerika Serikat sejak awal abad ke-20:
Iran, 1953 – Perdana Menteri Mohammad Mossadegh digulingkan dalam operasi CIA karena memproklamasikan nasionalisasi minyak yang merugikan kepentingan Barat.
Guatemala, 1954 – Presiden Jacobo Árbenz digulingkan setelah menasionalisasi tanah perkebunan yang dikuasai perusahaan AS.
Kongo, 1961 – Perdana Menteri Patrice Lumumba dibunuh setelah dimandatkan melawan pengaruh kolonial dan korporat asing.
Brasil, 1964 – Presiden João Goulart dipaksa mundur dalam kudeta yang mendapat dukungan AS karena dianggap berpihak pada komunisme.
Chile, 1973 – Presiden Salvador Allende jatuh dalam kudeta yang didukung CIA, membuka jalan bagi rezim militer Augusto Pinochet.
Republik Dominika, 1965 – Intervensi militer AS untuk menggulingkan pemerintahan populis.
Panama, 1989 – Presiden Manuel Noriega dijatuhkan dalam invasi AS.
Irak, 2003 – Saddam Hussein digulingkan dalam invasi AS yang diklaim sebagai perang melawan teror dan pencarian senjata pemusnah massal. Namun bukti senjata pemusnah tak pernah terbukti, sementara negara yang sebelumnya stabil secara politik.
Libya, 2011 – Qadhafi digulingkan dengan dukungan NATO yang dipimpin AS. Karena Qaddafi ingin melepaskan Afrika dari dolar Amerika, menasionalisasi minyak, dan membangun mata uang dinar emas. Langkah itu mengancam kekuasaan ekonomi AS, sehingga ia dijatuhkan.
Venezuela, 2026 – Nicolás Maduro ditangkap dalam operasi berkonsekuensi global.
Jika dicermati, kisah negara-negara itu sering kali bermula dengan narasi yang sama, misi demi demokrasi dan stabilitas, tetapi berakhir dengan deregulasi kedaulatan nasional, perubahan rezim yang dipaksakan, dan dominasi kepentingan ekonomi asing.
*DIMENSI MORAL DAN TEOLOGIS: ANTARA HUKUM INTERNASIONAL DAN HUKUM ILAHI*
Dalam menilai fenomena kekuasaan yang begitu besar dan dampaknya terhadap bangsa lain, kita tidak bisa hanya menggunakan lensa geopolitik semata;, kita juga harus melihatnya melalui kaca moral dan spiritual.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
وَاِذَا قُلۡتُمۡ فَاعۡدِلُوۡا وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبٰى
“Dan apabila kalian berkata, maka berlaku adillah, meskipun terhadap kerabat dekat.”(QS. Al-An‘am: 152).
Ayat ini bukan hanya panggilan terhadap individu, tetapi juga kepada bangsa dan pemimpin, ketika berbicara atau bertindak di panggung global, keadilan harus dijadikan fondasi dan bukan kepentingan semata.
Rasulullah SAW. juga mengingatkan:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Berhati-hatilah kalian dari kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”(HR. Muslim).
Di sini Allah dan Nabi SAW. mengingatkan bahwa kezaliman tidak saja berdampak di dunia tetapi akan menjadi gelap yang menjerat pelakunya di akhirat.
Bagi umat beriman, kuasa yang dipisahkan dari moral adalah tirani yang perlahan akan menghancurkan keseimbangan sosial dan spiritual.
Para sahabat Nabi juga berkomentar keras tentang kekuasaan yang berjarak dari moral. Umar bin Khattab r.a. berkata:
لَا قُوَّةَ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا حَقَّ إِلَّا بِالْعَدْلِ
“Tidak ada kekuatan sejati tanpa kebenaran, dan tidak ada kebenaran tanpa keadilan.”
Dalam konteks global, ketika negara maju menggunakan kekuatan militer, sanksi, atau tekanan diplomatik demi apa yang disebutnya “kepentingan tertinggi” tanpa mengukur dampaknya terhadap kehidupan bangsa lain, maka ia sedang berjalan di luar lingkaran kebenaran dan keadilan.
Imam al-Ghazzali, dalam karya agungnya Ihya’ Ulumiddin, juga mengingatkan:
“مَن كَانَ قَصْدُهُ الحَقُّ بَقيَ، وَمَن قَصَدَ ما دُونَهُ زَالَ.”
“Barangsiapa menjadikan kebenaran sebagai tujuannya akan tetap tegak; barangsiapa yang mengutamakan selain itu, akan hilang.”
Pesan ini semakin relevan ketika kekuatan global dikaitkan dengan motif politik dan ekonomi. Mata dunia mungkin melihat slogan besar di permukaan, tetapi substansi gerak kekuatan itu sering kali berakar pada kepentingan nasional yang tertutup narasi moral.
*FIRAUN, DAJJAL, DAN AKAR KEKUASAAN*
Dalam tradisi Islam, dua simbol tirani sering dijadikan peringatan abadi, yakni Firaun dan Dajjal. Firaun dikisahkan sebagai pemimpin yang bertindak sewenang-wenang dan menolak kebenaran, bahkan mengklaim dirinya sebagai pusat segala kepastian. Allah berfirman:
قَالَ فِرْعَوۡنُ يٰۤاَيُّهَا الۡمَلَاُ مَا عَلِمۡتُ لَكُمۡ مِّنۡ اِلٰهٍ غَيۡرِيۡ
“Berkata Firaun: ‘Hai pembesar-pembesarku! Aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku.’”(QS. Al-Qasas: 38).
Firaun menyatakan dirinya di luar hukum, di atas bangsa lain, dan menjadi ukuran moral atas dirinya sendiri. Inilah ciri kekuasaan absolut yang menjadi cermin dari tirani modern.
Sedangkan Dajjal adalah simbol fitnah terbesar yang membentuk dunia ilusi. Nabi SAW. bersabda:
مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَعْظَمُ مِنَ الدَّجَّالِ
“Tidak ada fitnah yang lebih besar sejak diciptakannya Adam sampai datangnya hari kiamat selain Dajjal.(HR. Muslim).
Dajjal membawa narasi yang tampak benar tetapi sesungguhnya menyesatkan, menjanjikan keselamatan tetapi membawa kehancuran.
Ketika narasi geopolitik besar menutup mata terhadap kematian, penderitaan, dan kehancuran sosial di negara yang menjadi target intervensi, kita harus bertanya, apakah narasi itu benar? Atau sebenarnya hanya tipuan kebenaran yang dibungkus indah?
Allah SWT berfirman:
وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada mereka yang teraniaya di muka bumi…” (QS. Al-Qashash: 83).
Ayat ini adalah seruan moral: Tuhan memberi perhatian khusus kepada mereka yang tertindas , bangsa kecil yang suaranya sering tak terdengar di ruang keputusan dunia.
Maka kita harus bertanya,
Apakah kekuatan besar dapat menegakkan hukum tanpa menjatuhkan kedaulatan bangsa lain?
Apakah sebuah bangsa layak disebut adil ketika menerapkan standar ganda terhadap hukum internasional?
Apakah dominasi militer dapat dipisahkan dari dominasi ekonomi tanpa mencederai martabat kemanusiaan?
*EVALUASI KEMANUSIAAN DAN KEDAULATAN*
Penangkapan Maduro bukan sekadar masalah satu pemimpin. Ia adalah gambaran bagaimana hukum dan kekuasaan bisa dipermainkan.
Jika Amerika bertindak sebagai penegak hukum sejati, adil dan penuh integritas , maka ia harus siap menghadapi kritik demi ketaatan pada aturan global, bukan dominasi unilateral.
Namun jika ia menentukan sendiri hukum di luar forum internasional dan mengekang suara negara lain demi kepentingannya, maka ia mirip Firaun zaman baru yang berdiri di atas hukum dan bahkan menyiratkan tipu daya Dajjal , kebenaran yang dibungkus kebatilan.
Sejarah besar tidak akan melupakan momen ketika satu bangsa memilih antara moral global dan dominasi unilateral. Dan persis pada saat itulah umat manusia dipanggil untuk menegakkan keadilan hati nurani yang abadi, bukan sekadar kekuatan politik semata.
*INDONESIA DI ERA FIRAUN GLOBAL*
Ketika Venezuela terkejut oleh penangkapan Presiden Maduro dan Libya masih menanggung luka tumbangnya Qaddafi, Indonesia justru dinobatkan sebagai bangsa paling bahagia di dunia 2026 ( hasil survei dirilis Global Flourishing Study (GFS), yang diriset secara kolaboratif antara Harvard University, Baylor University, dan lembaga riset global Gallup).
Ironis, karena gelar itu hadir saat Amerika kembali menampilkan ambisi globalnya dengan menggulingkan pemimpin, mengatur nasib bangsa lain, dan menyebutnya “misi demokrasi”.
Namun sejarah mengingatkan:
bangsa yang tersenyum pun bisa menjadi sasaran kekuasaan
ketika sumber daya dianggap lebih berharga daripada kedaulatan.
Di sinilah pentingnya Indonesia menjaga kebahagiaannya dengan kewaspadaan. Di bawah Presiden Prabowo yang berlatar militer dan memahami strategi pertahanan, Indonesia mulai memperkuat ketahanan nasional, memitigasi ancaman global, dan mencegah masuknya kekuatan asing yang ingin menanam pengaruh.
Sebab Firaun masa kini tak selalu bertaring, dan Dajjal tak selalu datang mengancam. Sering kali mereka tiba dengan senyum, slogan kebebasan, dan janji menolong.
Ingat….Kedaulatan hanya bertahan di tangan bangsa yang tidak tertidur.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab