Deja Vu Bencana dan Pentingnya Menahan Diri dari Saling Menyalahkan
Oleh Dr. dr. Robiah Khairani Hasibuan, Sp.N, Penggiat Kemanusiaan dan Akademisi FKK UMJ
Pada satu acara keagamaan yang saya hadiri belum lama ini, telinga saya menangkap bisik-bisik mengenai situasi bencana di Sumatera. Ada yang berbisik bahwa pemerintah kewalahan, bahkan TNI dinilai tidak mampu menangani keadaan.
Sempat muncul dorongan untuk menanggapi, namun saya urungkan. Dalam hati saya berkata, bukankah penilaian seperti itu terlalu cepat? Saya termasuk yang kerap turun langsung ke lokasi bencana sejak masa kuliah. Dari Liwa, Lampung, hingga Aceh pasca tsunami, juga Mamuju beberapa waktu lalu, saya selalu melihat TNI hadir dan bekerja di garis paling depan.
Pada berbagai operasi kemanusiaan, mereka tak hanya mengamankan situasi, tetapi juga ikut mendirikan dapur umum, membuka akses logistik, mengevakuasi korban, hingga membantu pembangunan darurat sampai mendirikan rumah sakit lapangan yg berkelas internasional. Pada banyak peristiwa, *saya belum pernah tidak melihat anggota TNI* ada di lapangan. Kita juga harus memahami bahwa bencana bukanlah ruang ideal.
Ketika rumah runtuh, harta hilang, dan pangan terbatas, emosi dan insting bertahan hidup kerap mengambil alih. Di Lombok Utara, saya pernah membawa bantuan dan rombongan kami dihentikan warga. Seluruh barang diambil termasuk bekal makan anak saya. Dalam kondisi darurat, orang lapar bisa melakukan apa saja.
Namun ketika muncul tindakan kriminal seperti pelecehan terhadap perempuan dan remaja, kita juga harus cermat membaca situasi. Bisa jadi ada pihak yang sengaja memanfaatkan kekacauan. Tidak adil bila semua beban langsung ditimpakan kepada pemerintah atau aparat.
Menangani bencana adalah kerja panjang dan kompleks. Kawan-kawan saya di Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), lembaga yang reputasinya diakui internasional, bisa bekerja berbulan-bulan dan belum tentu seluruh proses pemulihan selesai. Membangun kembali puluhan ribu rumah yang roboh jelas tak mungkin rampung dalam hitungan minggu.
Karena itu, kritik memang perlu, namun harus ditempatkan secara proporsional. Tidak sedikit relawan yang baru sekali dua kali datang ke lokasi bencana langsung merasa paling paham situasi. Membawa satu colt bantuan bukan berarti kita sudah memahami keseluruhan dinamika. Justru dalam momen seperti ini, yang paling dibutuhkan adalah kolaborasi, bukan saling tuding.
Lebih jauh, kita perlu belajar dari sejarah. Politik adu domba (divide et impera) pernah menjadi pengalaman pahit bangsa ini. Ketika kita terpecah, kita mudah dirampas dan dilemahkan. Situasi bencana sering menjadi pintu masuk bagi pihak luar untuk memecah perhatian dan kepercayaan publik. Aceh pernah merasakan luka dan perlawanan, namun Aceh juga bagian dari Indonesia yang harus kita jaga bersama.
Seperti pepatah, lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan. Daripada fokus pada kesalahan dan saling menyalahkan, lebih baik kita hadir membawa energi positif, empati, dan kontribusi nyata.
Semoga saudara-saudara kita yang terdampak bencana segera pulih.
Semoga pemerintah dan seluruh unsur yang terlibat diberi kekuatan untuk memulihkan keadaan. Saat bencana datang, yang kita perlukan bukan jarak, melainkan langkah yang seiring. Satu bangsa, satu bahasa, satu semangat Indonesia.