DELUSI GRANDIOSE: Jiwa yang Tersesat oleh Klaim Keagungan
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)
Ada jiwa-jiwa yang tumbuh bukan karena cahaya kebenaran, melainkan oleh bayangan keagungan yang ia ciptakan sendiri. Ada manusia yang berjalan di bumi dengan dada membusung, merasa paling benar, paling suci, paling berjasa, padahal sesungguhnya ia sedang tersesat oleh ilusi tentang dirinya sendiri.
Inilah wajah sunyi dari sebuah penyakit batin yang jarang disadari, tetapi dampaknya menghancurkan: *delusi grandiose*, yakni ketika jiwa meyakini keagungan yang tidak pernah Allah titipkan.
Secara sederhana, delusi grandiose adalah kondisi batin ketika seseorang meyakini dirinya memiliki kehebatan, kekuasaan, kesucian, atau keistimewaan luar biasa, jauh melampaui kenyataan yang ada. Ia merasa lebih pintar dari semua orang, lebih dekat dengan Tuhan dibanding manusia lain, lebih layak ditaati, bahkan lebih suci dari kritik.
Yang berbahaya, delusi ini sering bersembunyi di balik bahasa agama, simbol kesalehan, atau klaim perjuangan luhur.
Ironisnya, semakin tinggi klaim keagungan itu diucapkan, semakin jauh jaraknya dari kebenaran sejati.
Allah SWT sejak awal telah mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam tipu daya jiwa yang merasa agung:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.”(QS. An-Najm: 32).
Ayat ini adalah palu keras bagi jiwa yang gemar memoles diri dengan klaim keagungan. Sebab keagungan sejati bukan diumumkan oleh lisan manusia, tetapi dinilai langsung oleh Allah melalui ketundukan hati.
Delusi grandiose sering bermula dari kegagalan mengenali batas diri. Ketika seseorang lupa bahwa ia adalah makhluk lemah, terbatas, penuh salah, ia mulai menempatkan dirinya di singgasana yang bukan miliknya. Dari sinilah lahir sikap meremehkan orang lain, menolak nasihat, alergi kritik, dan menganggap perbedaan sebagai ancaman. Ia tidak lagi berdialog, tetapi mendominasi. Tidak lagi melayani, tetapi menuntut ditaati.
Inilah penyakit yang dahulu menumbangkan Firaun, Qarun, dan iblis. Iblis tidak jatuh karena kurang ibadah, tetapi karena merasa lebih mulia.
أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ
“Aku lebih baik darinya.”(QS. Al-A‘raf: 12).
Satu kalimat pendek yang melahirkan kejatuhan abadi. Kalimat inilah akar dari setiap delusi keagungan yakni merasa lebih.
Rasulullah SAW. manusia paling mulia yang pernah berjalan di bumi, justru menutup pintu delusi itu dengan kerendahan hati yang luar biasa. Beliau bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah dari kesombongan.”
(HR. Muslim)
Kesombongan bukan hanya tentang pakaian atau harta, tetapi tentang cara memandang diri dan orang lain. Ketika seseorang merasa dirinya pusat kebenaran, saat itu ia sedang membangun tembok antara dirinya dan rahmat Allah.
Para sahabat Nabi memahami betul bahaya ini. Umar bin Khattab RA. berkata:
مَنْ تَوَاضَعَ لِلَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya.”
Bukan klaim keagungan yang mengangkat manusia, melainkan kerendahan hati yang tulus. Sebab keagungan sejati tidak lahir dari merasa hebat, tetapi dari kesadaran bahwa tanpa Allah, manusia bukan apa-apa.
Imam Al-Ghazali menyingkap lapisan terdalam penyakit ini dengan kalimat yang tajam:
أَصْلُ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ هُوَ الْجَهْلُ بِالنَّفْسِ
“Akar dari kesombongan dan rasa kagum pada diri sendiri adalah ketidaktahuan seseorang terhadap hakikat dirinya.”
Orang yang benar-benar mengenal dirinya akan gemetar, bukan membusung. Ia sadar betapa rapuhnya iman, betapa mudahnya tergelincir, betapa seringnya ia diselamatkan oleh rahmat, bukan oleh amalnya sendiri.
Delusi grandiose bukan hanya merusak jiwa pribadi, tetapi juga menghancurkan harmoni sosial. Ia melahirkan pemimpin yang otoriter, tokoh yang anti-kritik, pasangan yang menindas, dan komunitas yang kering dari kasih sayang.
Di tangan jiwa yang delusional, kebenaran menjadi alat pembenaran, agama menjadi tameng ego, dan kekuasaan menjadi panggung pemujaan diri.
Padahal Allah SWT menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari klaim, tetapi dari akhlak dan ketakwaan:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”(QS. Al-Hujurat: 13)
Tanda orang yang selamat dari delusi keagungan bukanlah banyak bicara tentang dirinya, melainkan banyak mengoreksi hatinya. Ia lebih sibuk memperbaiki niat daripada membangun citra. Ia takut dipuji, karena tahu pujian bisa menjadi pintu kehancuran. Ia lapang menerima kritik, karena sadar kebenaran tidak pernah dimonopoli satu jiwa.
Rasulullah SAW. berdoa:
اللَّهُمَّ لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Ya Allah, jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.”
Inilah doa orang yang mengenal dirinya. Sebab saat manusia diserahkan pada egonya sendiri, saat itulah delusi keagungan mulai mengambil alih singgasana jiwa.
Pada akhirnya, delusi grandiose bukan sekadar gangguan psikologis, tetapi krisis spiritual. Ia adalah kegagalan hati untuk tunduk, kegagalan akal untuk jujur, dan kegagalan jiwa untuk mengenali Tuhan. Kesembuhan dari penyakit ini hanya lahir dari satu pintu, yakni kerendahan hati yang tulus di hadapan Allah dan kasih yang jujur kepada sesama.
Karena keagungan sejati tidak pernah berteriak minta diakui. Ia diam, tetapi memancar. Ia tidak membusung, tetapi menguatkan. Dan ia selalu membuat manusia semakin dekat kepada Tuhan, bukan semakin jauh karena merasa sudah sampai.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab