DUEL HEGEMONI GLOBAL: Ketegangan Politik Amerika-Iran dan Ambisi Menguasai Timur Tengah
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)
Ada sebuah panorama besar yang terbentang di luar jendela sejarah umat manusia di abad ini. Dunia bergerak bukan lagi dalam garis nilai dan kemanusiaan, melainkan dalam pusaran ambisi dan ketakutan.
Timur Tengah kembali menjadi panggung utama, tempat kepentingan global bertabrakan tanpa jeda.
Di kawasan inilah dua kutub kekuasaan (Amerika Serikat dan Iran) berhadapan. Mereka bagaikan dua komet yang bergerak cepat dalam orbit yang saling bersinggungan, masing-masing membawa panas ambisi dan bayangan ketakutan.
Pertemuan keduanya tidak pernah netral, selalu menyisakan bara konflik yang siap menyala kapan saja.
Apa yang tampak di layar berita hanyalah pergerakan pasukan, peluncuran rudal, atau himpitan sanksi ekonomi.
Namun sesungguhnya, yang sedang kita saksikan adalah denyut sejarah yang berdegup kencang, sebuah narasi panjang tentang kekuasaan, dominasi, dan perebutan kendali dunia.
Jika disaksikan dengan mata hati, konflik ini bukan sekadar persoalan geopolitik. Ia adalah ujian besar bagi peradaban manusia, ujian bagi moralitas global, bahkan ujian bagi spiritualitas umat manusia yang sering kali terpinggirkan oleh kalkulasi kekuasaan.
Al-Qur’an telah lama mengingatkan manusia agar tidak terperdaya oleh gemerlap dunia:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُور
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Ali Imran: 185)
Ayat ini seakan membuka tabir konflik Amerika–Iran. Apa yang sering dibungkus dengan narasi demokrasi, keamanan global, atau stabilitas kawasan, pada hakikatnya adalah perebutan pengaruh, sumber daya strategis, dan dominasi narasi dunia.
Amerika Serikat melangkah dengan kombinasi kekuatan keras dan lunak. Pangkalan militer dan aliansi strategis ditegakkan dari Teluk Persia hingga Eropa Timur.
Pada saat yang sama, sanksi ekonomi dijadikan senjata sunyi untuk menekan Iran tanpa harus menekan pelatuk perang.
Retorika para pemimpin Amerika terdengar tegas dan rasional. Namun di balik itu, tersimpan kegelisahan negara adidaya yang berupaya mempertahankan status hegemoninya di tengah dunia yang semakin multipolar.
Di dalam negeri Amerika sendiri, respons terhadap Iran tidak tunggal. Di Capitol Hill, perdebatan antara Demokrat dan Republik berlangsung tanpa henti. Sebagian mendorong tekanan maksimal, sebagian lain mengingatkan risiko perang besar yang akan menguras anggaran dan mengorbankan banyak nyawa.
Kelompok progresif bahkan menilai keterlibatan militer di luar negeri telah menjauhkan Amerika dari ideal-ideal demokrasi dan hak asasi manusia yang selama ini mereka agungkan. Konflik ini, bagi mereka, bukan sekadar ancaman eksternal, tetapi juga cermin krisis moral internal.
Sementara itu, Iran tampil dengan retorika perlawanan. Kepemimpinan di Teheran berbicara lantang tentang kedaulatan dan penolakan terhadap dominasi Barat.
Tekanan justru menjadi bahan bakar untuk merapatkan barisan internal dan menguatkan identitas revolusioner.
Iran memandang dirinya sebagai benteng anti-imperialisme. Melalui jalur budaya, politik, dan militer, pengaruh regional diperluas.Dalam narasi mereka, perlawanan bukan pilihan, melainkan harga diri.
Padahal, Islam telah mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA. berkata:
الدُّنْيَا دَارُ مَمَرٍّ لَا دَارُ مَقَرٍّ
“Dunia ini adalah tempat singgah, bukan tempat menetap.”
Peringatan ini seakan menegur siapa pun yang menjadikan kekuasaan dunia sebagai tujuan akhir, bukan sebagai amanah.
Ketika ketegangan meningkat, reaksi global bergerak seperti domino. Korea Utara menjadikannya legitimasi bagi program nuklirnya. Rusia mengokohkan diri sebagai penyeimbang global. China bergerak senyap, memperdalam hubungan ekonomi sambil menunggu momentum strategis.
Negara-negara Teluk berada dalam dilema. Mereka membutuhkan perlindungan Amerika, namun tidak bisa mengabaikan kedekatan geografis dan kultural dengan Iran. Setiap langkah harus diukur, karena satu kesalahan dapat menyalakan api kawasan.
Jika Iran melakukan perlawanan terbuka, dunia akan menghadapi gelombang krisis yang jauh lebih luas.
Eropa terpecah antara prinsip dan kebutuhan energi. Dunia Islam terbelah antara solidaritas dan ketakutan. Dan manusia biasa (yang tak pernah dilibatkan dalam keputusan besar) menjadi korban paling nyata.
Rasulullah SAW. telah memberi peringatan keras tentang krisis kepemimpinan manusia:
«إِنَّمَا النَّاسُ كَإِبِلٍ مِائَةٍ لَا تَجِدُ فِيهَا رَاحِلَةً»
“Manusia itu seperti seratus unta, hampir tidak ditemukan satu pun yang layak ditunggangi.”(HR. Bukhari)
Ini adalah alarm spiritual bahwa kekuasaan sering hadir tanpa keadilan, dan pemimpin adil selalu langka.
Di tengah gemuruh geopolitik ini, Indonesia memilih jalan yang berbeda. Politik luar negeri bebas dan aktif menjadi kompas utama. Indonesia tidak larut dalam politik blok, tetapi berdiri sebagai penyeru dialog dan perdamaian.
Al-Qur’an memerintahkan keadilan, bahkan dalam konflik:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan karena Allah.”(QS. An-Nisā’: 135).
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia sepatutnya tampil tegas namun bermartabat. Menjaga kepentingan nasional, mendorong dialog internasional, memperkuat peran PBB, dan menjadi jembatan komunikasi antara dunia Barat dan dunia Islam.
Indonesia menyadari bahwa konflik global selalu berdampak hingga ke dapur rakyat. Karena itu, sikap yang diambil bukan dominasi, melainkan diplomasi, bukan provokasi, melainkan mediasi.
Imam Al-Ghazali mengingatkan:
الْمُلْكُ يَبْقَىٰ مَعَ الْعَدْلِ وَلَوْ مَعَ الْكُفْرِ، وَلَا يَبْقَىٰ مَعَ الظُّلْمِ وَلَوْ مَعَ الْإِسْلَامِ
“Kekuasaan bisa bertahan dengan keadilan meski bersama kekufuran, tetapi tidak akan bertahan dengan kezaliman meski bersama Islam.”
Pada akhirnya, ketegangan Amerika–Iran bukan sekadar pertarungan senjata atau strategi. Ia adalah cermin besar peradaban manusia—tempat ambisi diuji oleh nurani, dan kekuasaan diuji oleh keadilan.
Dan kepada kita semua, sejarah mengajukan satu pertanyaan sunyi, apakah kita akan terus terpukau oleh gemerlap hegemoni, atau berani memilih jalan keadilan yang mungkin sunyi, tetapi abadi?
#Wallahu A’lam Bush-Shawab