Genuine Forgiveness: Marhaban Ya Ramadhan, Revolusi Hati dan Pemurnian Jiwa

 Genuine Forgiveness: Marhaban Ya Ramadhan, Revolusi Hati dan Pemurnian Jiwa

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)

Ada banyak orang memasuki Ramadhan dengan tubuh yang lapar, tetapi hati yang masih penuh dendam. Ada yang menahan haus sejak fajar, namun belum mampu menahan amarah yang disimpan bertahun-tahun. Kita rajin meminta maaf di lisan, tetapi enggan membebaskan di batin. Di sinilah pertanyaan itu muncul, apakah puasa hanya menahan makan, ataukah ia adalah revolusi hati?

Genuine forgiveness adalah pemaafan yang tulus, bukan sekadar ucapan “maaf lahir batin.” Ia adalah keputusan sadar untuk melepaskan luka tanpa menunggu pelaku berubah. Ia bukan melupakan peristiwa, tetapi menata ulang makna di dalam jiwa. Ia bukan kelemahan, melainkan kekuatan spiritual yang lahir dari kedewasaan iman.

Ramadan hadir bukan hanya sebagai bulan ibadah ritual, tetapi sebagai laboratorium penyucian jiwa. Allah SAW. menegaskan tujuan puasa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Takwa bukan hanya soal ibadah vertikal, tetapi kejernihan hati dalam relasi horizontal. Bagaimana mungkin seseorang mengaku bertakwa jika ia masih memelihara kebencian?

Al-Qur’an memberikan standar pemaafan yang jarang kita renungkan:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?”
(QS. An-Nur: 22)

Ayat ini turun ketika Abu Bakar RA. tersakiti secara pribadi. Namun Allah tidak hanya memerintahkan keadilan, melainkan mengajak kepada keluhuran jiwa. Memaafkan bukan karena orang lain pantas dimaafkan, tetapi karena kita ingin Allah mengampuni kita.

Dalam hadits yang sering terlupakan maknanya, Rasulullah SAW. bersabda:
وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“Tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan sikap pemaaf kecuali kemuliaan.”(HR. Muslim).

Betapa paradoksnya dunia hari ini. Orang mengira memaafkan berarti kalah. Padahal dalam logika langit, memaafkan adalah kemuliaan. Dendam melelahkan, pemaafan membebaskan. Ramadhan adalah momentum revolusi batin. Ia memaksa kita berhadapan dengan diri sendiri. Ketika lapar melatih kesabaran, ketika tarawih melembutkan hati, ketika sahur membangun keheningan, di situlah kesempatan memurnikan jiwa terbuka lebar.

Allah SAW. berfirman tentang karakter penghuni surga:
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ
“Dan Kami cabut segala rasa dendam dari dalam dada mereka; mereka menjadi saudara yang duduk berhadap-hadapan.”(QS. Al-Hijr: 47)

Surga bukan hanya tempat tanpa panas dan lapar, tetapi tempat tanpa dendam. Maka siapa yang ingin mencicipi suasana surga sejak di dunia, bersihkan dadanya hari ini.
Ali bin Abi Thalib RA. pernah berkata:
إِذَا قَدَرْتَ عَلَى عَدُوِّكَ فَاجْعَلِ الْعَفْوَ عَنْهُ شُكْرًا لِلْقُدْرَةِ عَلَيْهِ
“Jika engkau mampu membalas musuhmu, jadikan memaafkannya sebagai bentuk syukur atas kemampuan itu.”

Inilah puncak spiritualitas, ketika memiliki kuasa untuk membalas, tetapi memilih untuk memaafkan.
Secara sosial, genuine forgiveness adalah solusi atas retaknya relasi keluarga, konflik politik, dan permusuhan berkepanjangan. Banyak komunitas hancur bukan karena perbedaan, tetapi karena ego yang enggan merendah. Ramadhan mengajarkan bahwa menundukkan ego lebih berat daripada menahan lapar.

Ibnul Qayyim menulis:
وَلَا رَاحَةَ لِلْعَبْدِ إِلَّا بِالْعَفْوِ وَالصَّفْحِ
“Tidak ada ketenangan bagi seorang hamba kecuali dengan memaafkan dan berlapang dada.”
Betapa relevannya nasihat ini. Banyak orang gelisah bukan karena kurang harta, tetapi karena terlalu lama menyimpan luka.

Genuine forgiveness adalah puncak kebebasan. Ia membebaskan kita dari masa lalu yang membelenggu. Ia memurnikan jiwa dari racun kebencian. Ia mengubah Ramadhan dari sekadar rutinitas menjadi revolusi hati. Mungkin selama ini kita menunggu orang lain meminta maaf. Padahal yang lebih penting adalah kesiapan kita memberi maaf. Karena pada akhirnya, yang paling kita butuhkan bukan pembenaran diri, tetapi ampunan Allah.

Marhaban Ya Ramadhan. Datanglah sebagai bulan yang tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga menghapus dendam. Datanglah sebagai cahaya yang tidak hanya menerangi malam, tetapi juga membersihkan hati. Sebab ketika hati telah bersih, ibadah menjadi jernih.

Dan ketika jiwa telah murni, Ramadhan bukan lagi sekadar bulan, melainkan momentum kelahiran kembali manusia yang lebih utuh, lebih lembut, dan lebih dekat kepada Tuhannya.

#Wallahu a’lam bish-shawab

Facebook Comments Box