I Nyoman Parta Kampanyekan Biopori di SMP Negeri 2 Sukawati: Bali Punya Empat Danau, Tak Seharusnya Krisis Air

 I Nyoman Parta Kampanyekan Biopori di SMP Negeri 2 Sukawati: Bali Punya Empat Danau, Tak Seharusnya Krisis Air

GIANYAR – Anggota DPR RI Dapil Bali dari Fraksi PDI Perjuangan I Nyoman Parta mengajak para guru dan siswa SMP Negeri 2 Sukawati untuk mulai membangun kesadaran kolektif menjaga ketersediaan air melalui pembuatan biopori. Ajakan tersebut disampaikan saat kegiatan edukasi lingkungan di lingkungan sekolah, seperti dikutip dari akun Facebook miliknya.

Dalam paparannya, Parta menegaskan bahwa persoalan banjir dan krisis air di Bali bukan sekadar soal teknis, melainkan juga menyangkut ideologi dan filosofi hidup masyarakat Bali dalam menjaga alam.

“Rumah, perkantoran, fasilitas umum, tempat ibadah sudah di paving. Kalau hujan tentu keluarnya ke jalan. Biopori pasti tidak bisa mencegah banjir, tapi yakinlah bisa mengurangi genangan. Biopori yang sudah aktif akan banyak bisa menyerap air, jadi kita punya tabungan air,” ujar Parta.

Pavingisasi dan Sumur Bor Jadi Ancaman Cadangan Air

Parta menyoroti perubahan pola pembangunan di Bali yang semakin minim ruang resapan. Ia menyebut hampir seluruh permukaan tanah di kawasan permukiman kini tertutup paving dan beton.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung mengalir ke selokan, meluap ke jalan, hingga akhirnya bermuara ke laut.

“Kalau tabungan air tidak ada, sedangkan warga beralih ke sumur bor, maka posisi air akan makin jauh. Jika air posisinya makin jauh maka mata air seperti Kelebutan, Keciran, Pancoran akan terganggu,” tegasnya.

Ia menjelaskan, penggunaan sumur bor secara masif tanpa diimbangi resapan air hujan akan mempercepat penurunan muka air tanah. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengganggu keberadaan mata air tradisional yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Bali Dianugerahi Empat Danau, Mengapa Krisis Air?

Dalam pemaparannya, Parta mengajak siswa memahami persoalan air dari sisi filosofis dan historis. Ia menyebut Bali sebagai pulau istimewa yang dianugerahi empat danau besar yang selama ini menjadi sumber air utama.

Keempat danau tersebut adalah:

1. Danau Batur

2. Danau Buyan

3. Danau Beratan

4. Danau Tamblingan

“Bali ini dianugerahi empat danau. Kalau ini berfungsi dengan baik, Bali teraliri dengan sangat bagus. Seharusnya Bali tidak pernah kekurangan air. Betapa sayangnya Tuhan, betapa sayangnya Ida Sang Hyang Widhi,” ucapnya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa saat ini Bali mulai menghadapi defisit air di sejumlah wilayah. Bahkan, konflik distribusi air di tingkat subak mulai terdengar.

Pendangkalan Danau dan Kerusakan Hutan

Parta memaparkan sejumlah penyebab krisis air yang mulai dirasakan masyarakat. Salah satunya adalah pendangkalan danau akibat sedimentasi dan sampah.

Ia menjelaskan beberapa faktor penyebabnya:

1. Sampah yang masuk ke danau

2. Lumpur kiriman saat musim hujan

3. Aktivitas pertanian di lereng yang menyebabkan erosi

4. Perusakan hutan dan alih fungsi lahan

Menurut I Nyoman, banyak hutan yang sebelumnya ditanami pohon buah atau pohon berakar kuat yang mampu menahan air, kini diganti tanaman produktif yang tidak memiliki daya serap dan daya ikat tanah sebaik vegetasi sebelumnya.

“Awalnya pohon-pohon bisa memegang tanah, memegang air. Sekarang tanah mudah hanyut ke danau saat hujan,” ujarnya.

Biopori sebagai Gerakan Moral dan Lingkungan

Dalam kesempatan tersebut, Parta menekankan bahwa biopori bukan sekadar membuat lubang di tanah, tetapi bagian dari gerakan moral menyelamatkan Bali dari krisis air.

“Kita buat biopori agar air hujan yang datang tidak langsung ke laut, tidak langsung membuat banjir. Kita buat dia tetap di bumi, tetap di tanah. Semakin banyak, semakin bagus, sehingga kita punya stok air,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa “tabungan air” di dalam tanah tidak membutuhkan biaya perawatan besar, tidak memerlukan listrik, dan tidak membutuhkan ruang tambahan. Cukup dengan menjaga lubang biopori tetap aktif dengan memasukkan sampah organik.

Sampah organik tersebut nantinya akan terurai menjadi humus yang bermanfaat bagi tanah.

“Kalau sudah penuh, angkat dan letakkan di taman. Itu jadi humus, jadi pupuk organik,” jelasnya kepada para siswa.

Ajakan untuk Generasi Muda

Di akhir penyampaiannya, Parta mengajak siswa SMP Negeri 2 Sukawati menjadi pelopor gerakan biopori di lingkungan rumah masing-masing.

“Ayooo buat biopori untuk tabung air hujan, biar tidak semua kembali ke laut,” ajaknya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya edukasi lingkungan berbasis sekolah, yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam Bali secara berkelanjutan.

Dengan semangat menjaga warisan leluhur dan anugerah alam, Parta berharap gerakan kecil seperti biopori dapat menjadi solusi nyata mengurangi banjir, menjaga mata air, dan memastikan Bali tidak benar-benar mengalami krisis air di masa depan.

Facebook Comments Box