INFERIORITY COMPLEX: Ketika Rasa Minder Membunuh Potensi dan Merapuhkan Martabat Insani
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)
Ada manusia yang mundur sebelum melangkah, ragu sebelum mencoba, dan diam sebelum sempat bersuara. Bukan karena ia tak mampu, melainkan karena ia terlalu sering membandingkan diri. Di sanalah inferiority complex bersemayam, yakni rasa minder yang perlahan mencuri keberanian, mematikan potensi, dan membuat jiwa hidup dalam bayang-bayang orang lain.
Inferiority complex bukan sekadar kurang percaya diri. Ia adalah sikap batin yang membuat seseorang merasa tidak pantas, tidak cukup, dan tidak layak, bahkan sebelum dunia memvonis apa pun.
Ironisnya, perasaan ini sering tumbuh pada jiwa yang justru memiliki kemampuan, tetapi gagal mengenali nilainya sendiri.
Allah sejak awal telah menegaskan kemuliaan manusia:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam.”(QS. Al-Isra’: 70)
Ayat ini tidak memilih manusia berdasarkan rupa, status, atau pencapaian. Kemuliaan adalah pemberian, bukan hasil perbandingan. Namun ketika manusia lupa pada sumber kemuliaan itu, ia mulai mengecilkan diri. Padahal Allah justru melarang rasa lemah yang bersumber dari keraguan batin:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا
“Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih.”(QS.Ali. ‘Imran: 139)
Rasa minder membuat seseorang hidup di pinggir kehidupannya sendiri. Ia hadir, tetapi tidak utuh. Berada, tetapi tidak berani mengambil ruang. Padahal Rasulullah SAW. bersabda dengan pesan yang halus namun tegas:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
“Bersemangatlah terhadap hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan bersikap lemah.”(HR. Muslim)
Bersikap lemah di sini bukan fisik, tetapi mental yang menyerah sebelum berjuang. Sayyidina ‘Umar bin Al-Khaṭṭāb r.a. pernah berkata:
إِنَّا قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللَّهُ بِالْإِسْلَامِ، فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ أَذَلَّنَا اللَّهُ
“Kami adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam. Jika kami mencari kemuliaan selain darinya, Allah akan menghinakan kami.”
Minder sering lahir karena mencari nilai diri dari pengakuan manusia, bukan dari pandangan Allah.
Imam Ibnul Qayyim menuliskan kalimat yang jarang dikutip:
مَنْ هَانَتْ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فَلَا يَرْجُو عِزَّةً
“Siapa yang merendahkan dirinya sendiri, maka jangan berharap mendapatkan kemuliaan.”
Karena itu, keluar dari inferioritas bukan dengan membanggakan diri, tetapi dengan mengenal diri. Mengenal bahwa kita diciptakan dengan tujuan, dibekali potensi, dan ditempatkan bukan tanpa alasan.
Allah berfirman:
كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ
“Setiap orang berbuat sesuai dengan keadaannya masing-masing.”(QS. Al- Isra’: 84)
Tidak semua harus sama, karena keindahan hidup justru lahir dari perbedaan peran.
Pada akhirnya, rasa minder bukanlah takdir, melainkan pilihan batin yang bisa disembuhkan. Dengan iman yang jujur, kesadaran diri, dan keberanian untuk melangkah meski gemetar.
Sebab jiwa yang mengenal Tuhannya, tak akan terlalu kecil memandang dirinya. Dan jiwa yang berdamai dengan dirinya, tak lagi hidup sebagai bayangan.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab