ISRA’ MI’RAJ: Momentum Konsolidasi dan Penguatan Potensi Umat
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)
Ada saat ketika manusia merasa pasrah oleh luka hidup, letih oleh perjalanan, dan kehilangan arah di tengah kerumunan dunia. Pada saat seperti itu, langit menawarkan pengingat, bahwa kesunyian bukan berakhir di dalam kelemahan, melainkan panggilan untuk naik lebih tinggi. Seperti itulah Isra’ Mi’raj Nabi SAW. terjadi (malam ketika langit menjemput bumi), dan bumi mengantarkan manusia menemukan jalan pulang ke Tuhannya.
Pernahkah kita bertanya dalam hati dan pikiran kita,mengapa Rasulullah SAW. yang dijemput malam hari, diangkat melampaui batas semesta, menembus hijab cahaya dan kelambu langit, lalu menyaksikan kemuliaan tertinggi di hadirat Tuhan, tidak memilih untuk tinggal di sana?
Bukankah perjumpaan dengan Sang Kekasih adalah puncak perjalanan ruhani?
Bukankah kedekatan dengan Allah adalah impian semua wali dan para pecinta Ilahi?
Mengapa Rasulullah SAW. kembali menginjak bumi yang penuh luka, ratap, dan fitnah manusia?
Pertanyaan itu mengantar kita memasuki inti Isra’ Mi’raj jauh lebih dalam daripada ritual dan perayaan, sebuah pelajaran strategis tentang cinta, konsolidasi kekuatan, dan penguatan potensi umat untuk menata masa depan.
Isra’ Mi’raj bukan sekadar mukjizat perjalanan ruang dan waktu. Ia adalah pelajaran strategis yang sangat manusiawi, ketika beban terasa mematahkan pundak, Allah membuka pintu bagi kekuatan baru.
Rasulullah SAW. dipanggil naik ke langit bukan untuk melarikan diri dari masalah bumi, tetapi untuk pulang membawa kunci penyelesaiannya.
Malam itu, beliau menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang tak terjangkau mata siapa pun, memasuki ruang paling dekat dengan Kekasih yang Maha Tinggi, dan merasakan kedalaman kebahagiaan spiritual yang tak pernah dicatat langit sebelumnya.
Itu adalah penghargaan ilahi untuk perjuangan panjang beliau menghadapi penolakan, cacian, dan kekerasan manusia.
Namun, justru setelah berada di puncak kebahagiaan yang tak terlukiskan, Rasulullah SAW. memilih kembali ke bumi. Ia tidak terpesona oleh kenikmatan spiritual hingga melupakan realitas manusia. Beliau turun karena bumi masih membutuhkan cahaya yang beliau lihat di langit.
Para ulama menuliskan dengan indah bahwa nilai perjalanan bukanlah pada sejauh apa seseorang naik, tetapi seberapa banyak cahaya yang ia bawa kembali ketika ia turun.
Dan turun itulah puncak cinta. Nabi tidak tinggal di langit, karena umat masih menunggu tangan yang menuntun.
Tidak ada egoisme dalam spiritualitas Rasulullah SAW. Bahkan kebahagiaan tertinggi sekalipun tidak akan pernah beliau nikmati sendirian. Cinta yang sejati selalu kembali kepada mereka yang terluka, tertinggal, dan tersesat.
Dari perjalanan sublim tersebut, Rasulullah SAWZ membawa pulang satu amanah besar(shalat lima waktu). Bukan mahkota, bukan takhta, bukan wahyu baru tentang legitimasi kekuasaan dunia. Melainkan sebuah sistem energi rohani yang paling rapi untuk membangkitkan potensi manusia.
Shalat jatuh tepat di inti persoalan umat: kesadaran diri, pengelolaan waktu, disiplin, persatuan barisan, dan koneksi langsung dengan Allah.
Mulainya perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha memberi isyarat bahwa potensi umat tidak boleh berhenti pada satu ruang atau suku, ia mesti bergerak, terhubung, saling menyapa, saling menguatkan.
Masjid menjadi simbol konsolidasi sosial, tempat ide-ide besar ditumbuhkan, tempat hati dibersihkan, dan tempat jamaah diuji untuk tunduk bersama di bawah satu kiblat yang sama.
Di titik inilah Isra’ Mi’raj menjelma menjadi undangan besar, membangun potensi manusia dan potensi umat secara kolektif.
Sebab kebangkitan tidak pernah terjadi dalam kesendirian. Kekuatan tidak muncul dari individu yang tercerabut dari jamaahnya.
Maka shalat tidak hanya menghubungkan kita kepada Allah, tetapi melalui gerakan dan ruku’ yang seragam, ia mengajarkan bahwa keberhasilan diciptakan dari sinkronisasi, bukan pertikaian dari kebersamaan, bukan saling meniadakan.
Allah menegaskan dalam firman-Nya, إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan tidak jatuh seperti keajaiban. Perubahan lahir ketika manusia membangun ke dalam dirinya dulu (iman, mentalitas, semangat belajar, kemauan berkorban) , lalu menularkannya sebagai energi untuk kolektivitas.
Isra’ Mi’raj menjadi simbol bahwa harapan selalu mungkin, bahkan ketika luka belum sembuh dan tantangan tampak tak berujung.
Rasulullah kembali bukan dengan tangan kosong, tapi membawa panduan memanen kekuatan yang sudah Allah titipkan dalam diri setiap manusia.
Ia membawa strategi agar umat menggali kemampuan terbaik yang selama ini terkubur oleh rasa cemas, trauma sejarah, dan saling curiga.
Dan pada akhirnya, perjalanan itu mengingatkan bahwa agama ini dibangun bukan hanya dengan mimpi tentang langit, melainkan dengan kerja keras di bumi.
Ia menampik kemalasan yang bersembunyi di balik spiritualitas palsu. Ia menghapus alasan untuk pasrah tanpa usaha. Ia memanggil setiap insan untuk menggerakkan potensi diri, membangun kecerdasan sosial, membentuk jaringan kebaikan, melahirkan karya, dan menyusun kekuatan yang harmonis guna menghadirkan maslahat yang lebih besar untuk seluruh manusia.
Karena Islam bukan saja jalan keselamatan personal, tetapi proyek besar peradaban. Dan Isra’ Mi’raj mengajarkan, kita tidak akan pernah sampai ke langit jika tanah tempat kita berpijak telah runtuh karena perselisihan, kemalasan, dan keterpecahan.
Langit memberi ilham, bumi menuntut pembuktian. Rasulullah telah menempuh jalan itu( naik menghadap Allah), turun memeluk manusia, agar kita memahami bahwa spiritualitas yang benar bukan tentang menghindari kehidupan, tetapi terjun ke dalamnya membawa cahaya yang tak padam.
Semoga perjalanan agung ini menggerakkan jiwa kita, memperkuat semangat untuk bekerja bersama, menumbuhkan cinta tanpa syarat kepada sesama, dan memanggil kita untuk menggali potensi terbaik yang Allah titipkan dalam diri kita.
Sebab tugas langit telah turun kepada bumi, dan kini ada di tangan kita untuk meneruskannya.
#Walhu A’la Bis-Shawab