Jiwa Besar Seorang Negarawan: Pilihan Pak Adies Kadir Menjaga Konstitusi

 Jiwa Besar Seorang Negarawan: Pilihan Pak Adies Kadir Menjaga Konstitusi

Adies Kadir dan Prabowo Subianto

Oleh: Ibnu Sangadji Kotta, Co-FoundeForum Kajian Pemuda Lintas Daerah (Forkapelinda)

Di tengah iklim politik yang kerap diwarnai oleh perebutan posisi, kekuasaan, dan kepentingan jangka pendek, keputusan untuk mundur justru menjadi sebuah tindakan yang langkan bahkan mewah. Inilah konteks di mana langkah Pak Adies Kadir layak dibaca bukan sebagai kehilangan jabatan, melainkan sebagai pernyataan moral dan kenegarawanan.

Pak Adies Kadir memilih melepaskan jabatan elit politik partai dan legislatif demi mengabdikan diri pada tugas yang lebih sunyi namun fundamental: menjaga konstitusi negara. Sebuah pilihan yang tidak populer, tidak sensasional, tetapi sarat makna. Bagi kami di Forum Kajian Pemuda Lintas Daerah, keputusan ini mencerminkan jiwa besar seorang negarawan yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kalkulasi politik personal.

Konstitusi bukan sekadar dokumen hukum. Ia adalah kesepakatan luhur yang menopang kehidupan berbangsa dan bernegara. Menjaganya menuntut integritas, independensi, dan keberanian untuk berdiri di atas semua kepentingan termasuk kepentingan politik yang selama ini menjadi sumber kekuasaan. Tidak semua politisi siap, apalagi rela, untuk mengambil jalan tersebut.

Dalam perspektif forum kajian pemuda lintas daerah, langkah Pak Adies Kadir juga memberi pesan penting bagi generasi muda: bahwa politik tidak selalu tentang naik ke puncak, tetapi tentang tahu kapan harus melangkah ke samping demi menjaga marwah sistem. Mundur, dalam hal ini, bukan bentuk kekalahan, melainkan wujud kedewasaan politik.

Kita membutuhkan lebih banyak teladan seperti ini di ruang publik. Teladan yang menunjukkan bahwa jabatan adalah alat, bukan tujuan. Bahwa kekuasaan sejati terletak pada kemampuan menjaga prinsip, bukan mempertahankan kursi. Dan bahwa pengabdian kepada negara bisa dan seharusnya melampaui afiliasi politik apa pun.

Forum Kajian Pemuda Lintas Daerah memandang keputusan Pak Adies Kadir sebagai cermin dari politik beretika yang mulai langka. Ia mengingatkan kita bahwa demokrasi tidak hanya hidup dari prosedur dan institusi, tetapi dari karakter orang-orang yang mengisinya.

Di saat kepercayaan publik terhadap politik sering diuji, langkah ini patut diapresiasi sebagai pase. Sebuah pengingat bahwa masih ada aktor politik yang memilih jalan sunyi demi konstitusi, demi negara, dan demi masa depan demokrasi Indonesia.

Facebook Comments Box