Kilas Balik 21 Tahun Penyanderaan di Irak: Perjalanan Dramatis Meutya Viada Hafid Saat Masih Wartawan Metro TV

 Kilas Balik 21 Tahun Penyanderaan di Irak: Perjalanan Dramatis Meutya Viada Hafid Saat Masih Wartawan Metro TV

Meutya Viada Hafid

JAKARTA  – Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Viada Hafid mengenang salah satu fase paling menegangkan dalam hidupnya, saat masih berprofesi sebagai jurnalis televisi swasta di dalam negeri.

Melalui akun Instagram pribadinya, Selasa (24/2/2026), Meutya mengisahkan kembali momen 21 tahun lalu, tepatnya Februari 2005 silam, ketika dirinya bersama rekannya soerang kameramen bernama Budiyanto disandera di Irak selama 168 jam atau tujuh hari penuh ketidakpastian.

“21 tahun lalu, tepat pada Februari 2005, Meutya Hafid dan Budiyanto disandera selama 168 jam saat menjalankan tugas peliputan di wilayah konflik Iraq. Setelah melewati 7 hari penuh ketidakpastian, berbagai upaya diplomasi dan komunikasi intensif dari pemerintah Indonesia akhirnya membuahkan hasil. Keduanya dibebaskan tanpa syarat dan kembali ke Tanah Air dengan selamat. Sebuah kilas balik tentang risiko profesi dan dedikasi dalam mengemban tugas sebagai penyampai informas,” tulis Meutya.

Peristiwa itu terjadi ketika Meutya masih bertugas sebagai reporter di Metro TV. Saat itu, Irak tengah dilanda konflik berkepanjangan pasca invasi dan situasi keamanan sangat tidak stabil.

Sebagai jurnalis lapangan, Meutya dan tim datang untuk meliput langsung kondisi di wilayah konflik, menyampaikan informasi faktual kepada publik Indonesia. Kejadian itu, tak terlupakan dalam hidupnya.

Kronologi Penyanderaan

Dalam unggahannya, Meutya menuturkan bahwa peristiwa penyanderaan bermula ketika ia dan Budiyanto tengah menjalankan tugas peliputan di salah satu wilayah rawan di Irak. Di tengah situasi keamanan yang samgat genting, keduanya diculik oleh kelompok bersenjata tak dikenal.

Momen itu menjadi titik balik dramatis dalam perjalanan kariernya sebagai wartawan. Selama 168 jam, Meutya dan Budiyanto berada dalam tekanan psikologis luar biasa. Ketidakpastian nasib, keterbatasan komunikasi, serta situasi konflik bersenjata menjadi realitas yang harus mereka hadapi.

Di Tanah Air, kabar penyanderaan tersebut segera memicu perhatian luas. Pemerintah Indonesia bergerak cepat melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kala itu melakukan langkah-langkah diplomasi dan komunikasi intensif dengan berbagai pihak.

Upaya itu melibatkan koordinasi lintas kementerian, jalur diplomatik, serta pendekatan kemanusiaan untuk memastikan keselamatan kedua jurnalis tersebut. Meutya tak mampu melupakan perjalan itu.

Diplomasi dan Upaya Pembebasan

Berbagai jalur komunikasi ditempuh untuk membebaskan Meutya dan Budiyanto. Pemerintah Indonesia saat itu mengedepankan pendekatan persuasif dan negosiasi tanpa syarat. Dukungan publik dan solidaritas insan pers nasional juga mengalir deras, mendorong percepatan proses pembebasan.

Setelah tujuh hari yang menegangkan, upaya diplomasi tersebut membuahkan hasil. Meutya dan Budiyanto akhirnya dibebaskan tanpa syarat. Keduanya kemudian kembali ke Indonesia dalam keadaan selamat, disambut haru oleh keluarga, rekan kerja, dan masyarakat.

Risiko Profesi dan Dedikasi Jurnalis

Peristiwa penyanderaan itu menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah jurnalisme Indonesia. Pengalaman tersebut menggambarkan besarnya risiko yang dihadapi wartawan, khususnya mereka yang bertugas di wilayah konflik. Itu cacatan Meutya.

Dalam refleksinya, Meutya menekankan bahwa tugas jurnalis bukan sekadar menyampaikan berita, tetapi juga menghadirkan realitas dari lokasi-lokasi yang sulit dijangkau. Risiko keselamatan menjadi bagian dari konsekuensi profesi, meski tetap harus diimbangi dengan standar keamanan yang ketat.

Kini, dua dekade lebih berlalu, Meutya telah bertransformasi dari jurnalis lapangan menjadi pejabat publik dimulai bergabung dengan Partai Golkar kemudian terpilih menjadi Anggota DPR RI. Namun pengalaman 168 jam dalam penyanderaan itu tetap melekat sebagai pengingat tentang arti keberanian, solidaritas, dan pentingnya perlindungan bagi pekerja media.

Kisah tersebut bukan hanya kilas balik personal, tetapi juga refleksi tentang dedikasi insan pers dalam mengemban tugas sebagai penyampai informasi, bahkan di tengah situasi paling berbahaya sekalipun.

Facebook Comments Box