Menakar Implikasi Perang Iran vs Israel-AS terhadap Dinamika Umat Islam
Satu hal yang jelas dan pasti, posisi moral Iran mewakili dunia Islam melawan perang imperialis Israel – AS, berada dalam jalur yang benar. Iran tidak saja mewakili perasaan dunia Islam yang tertindas oleh AS, Israel dan rezim-rezim kolaborator AS- Israel, tapi juga mengajari dunia yang ditindas untuk berani melawan dan mempertahankan harga diri.
Perlawanan Iran sedikit banyak mengobati kekecewaan dunia atas kefasifan Venezuela saat pemimpinnya diculik secara demonstratif oleh AS. Kaum sosialis pada umumnya sangat mengagumi Iran saat ini karena keberanian negara itu untuk berperang sendirian melawan agresi jahat AS dan Israel. Di titik ini, terdapat peluang untuk menyatukan potensi dan kekuatan dunia Islam yang anti imperialis dengan dunia sosialis sekuler untuk sama-sama menghadapi AS, Israel dan sekutu-sekutu imperialismenya.
Saat ini, Iran telah memasuki perang hidup mati dan akan menghadapi segala cara yang brutal melawan AS dan Israel. Bangsa Iran yang menganut teologi Syiah, memiliki keunikan pandangan terhadap “teologi” syahadah atau kemartiran. Bangsa Iran memandang aksi kemartiran merupakan suatu yang inheren dan mengakar bagi bangsa Iran.
Imam Husein Ra, cucu Rasulullah, merupakan pujaan dan teladan kemartiran bagi bangsa Iran yang menganut syiah, dan selalu akan diikuti jalan syahidnya (kemartirannya) sebagai bentuk manifestasi komitmen teologis, berapa pun nyawa yang harus dibayar. Dan itu tentu suatu kebanggaan bagi seorang penganut syiah. Apalagi ajaran kemartiran ini dalam “epos” Karbala.
Di mana Imam Husein ra dibunuh secara keji oleh lambang kekuasaan yang kejam, bengis dan arogan, Yazid bin Muawiyah, menemukan relevansinya dengan “epos” perang kali ini, antara “bangsa Imam Husein as” (Iran) melawan negara kufur yang bengis dan kejam, yakni AS dan Israel. Dan kekejaman itu telah dibuktikan dalam realitas, yaitu terbunuhnya Imam Khamenei, lambang hidup spiritual bangsa Iran, sejumlah pemimpin tinggi bangsa itu, dan dianiayanya bangsa itu puluhan tahun.
Berdasarkan hal itu, bagi Bangsa Iran, perang kali ini benar-benar sebuah perang puputan. Iran akan habis-habisan, dan memandang perang ini sebagai berdimensi teologis dan eskatologis (akhir zaman). Eskatologi syiah yang memandang pra syarat hadirnya Imam Zaman atau Imam Mahdi yang ghaib, memiliki ciri-ciri situasi saat ini, halmana keadilan makin tidak terjangkau untuk diharapkan, kezaliman dan kesewenang-wenangan yang dipertontonkan AS dan Israel makin merajalela. Jadi makna perang ini bagi Iran melebihi sekedar perang kemerdekaan.
Dengan demikian, implikasi dari perang ini, akan terasa dalam dan luas, terutama di kawasan Timur Tengah, dimana kehadiran sekutu Iran, telah menunjukkan solidaritasnya, seperti Hizbullah, Hauthi, Perlawanan Iraq, dan sebagainya.
Jika Iran menang dan melewati ujian perang ini dengan lulus, Iran akan menjadi negara yang sangat berpengaruh. Iran akan mempengaruhi kebangkitan kemandirian dunia Islam, dalam segala dimensinya, politik, militer, teknologi, ekonomi, hingga kultural. Sebaliknya jika takdir berkata lain, Iran dipaksa kalah, maka dunia Islam secara keseluruhan akan berdampak dan dipermalukan oleh AS dan Israel. Dunia Islam akan semakin dalam dan luas diperas dan dieksploitasi oleh AS dan Israel.
Tapi Iran bukanlah Jepang, dimana dengan dibom atomnya Hiroshima dan Nagasaki, langsung menyerah tanpa syarat kepada AS. Iran bukan tidak mungkin, bersiap menghadapi nuklir sekalipun, dan Iran akan memandangnya sebagai kesyahidan massal dan pejuang-pejuang Iran akan tetap teguh dan tidak akan berubah.
Sebab, mereka telah mengubah pandangan terhadap perang sebagai sekedar perang konvensional menjadi perang teologis, eskatologis dan perang mencari syahadah. Barangkali, fenomena ini yang tidak banyak disadari khalayak ramai dan pengamat Barat.