MORAL INVERSION: Kesalehan Semu Berwajah Manipulatif

 MORAL INVERSION: Kesalehan Semu Berwajah Manipulatif

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin. Makassar

Ada satu ironi yang sering luput dari kesadaran manusia, ketika doa yang seharusnya menjadi jalan menuju langit, justru dijadikan alat untuk menjatuhkan sesama di bumi. Di titik inilah, batas antara doa dan nafsu menjadi sangat tipis, bahkan nyaris tak terlihat.

Bibir boleh saja melafalkan kalimat-kalimat yang tampak suci, tetapi jika hati dipenuhi ambisi, iri, dan hasrat untuk meruntuhkan orang lain, maka yang mengalir bukan lagi doa, melainkan bisikan nafsu yang menyamar.

Fenomena ini dapat disebut sebagai “kesalehan semu yang berwajah manipulatif”, sebuah kondisi ketika simbol-simbol kebaikan dipakai untuk membungkus kebusukan niat.

Dalam balutan doa, seseorang bisa saja menanamkan tuduhan, menyisipkan narasi yang mendiskreditkan, bahkan menggiring opini seakan-akan dirinya adalah korban, padahal di balik itu ia adalah arsitek dari kerusakan yang sedang ia tuduhkan kepada orang lain.

Secara filosofis, ini adalah bentuk keterbalikan moral (moral inversion), di mana yang batil dipoles seolah hak, dan yang hak diseret seolah batil. Dalam tradisi hikmah, ini bukan sekadar kesalahan perilaku, tetapi krisis kesadaran, yakni ketika seseorang tidak lagi mampu membedakan antara kejujuran dan kepura-puraan dalam dirinya sendiri. Ia tidak hanya menipu orang lain, tetapi telah lebih dahulu menipu dirinya, hingga kehilangan kepekaan terhadap kebenaran.

Lebih dalam lagi, tindakan ini mencerminkan apa yang bisa disebut sebagai “nafsu ambisi berbaju alim”, suatu kondisi di mana keinginan untuk berkuasa, diakui, atau menang, bersembunyi di balik simbol-simbol kesucian.

Doa yang mestinya menjadi bentuk kerendahan hati di hadapan Tuhan, justru berubah menjadi panggung untuk mempertontonkan superioritas moral yang palsu. Ia berdoa bukan untuk memohon kebaikan, tetapi untuk membenarkan dirinya dan menghukum orang lain di hadapan publik.

Padahal, dalam hukum sosial dan spiritual, ada satu prinsip yang tak pernah gagal bekerja, bahwa siapa yang menggali lubang untuk orang lain dengan niat jahat, sejatinya sedang menggali untuk dirinya sendiri. Kebusukan yang dibungkus rapi itu, cepat atau lambat, akan terkuak. Sebab kebenaran memiliki caranya sendiri untuk muncul ke permukaan, sementara kepalsuan hanya mampu bertahan dalam waktu yang terbatas.

Secara puitis, kita bisa membayangkan, bahwa ia menengadahkan tangan ke langit, tetapi melempar batu ke sesama,
ia menyebut nama Tuhan, tetapi menyembunyikan racun di balik kata, ia menangis di hadapan manusia, namun tertawa di balik luka yang ia ciptakan.

Dan pada akhirnya, bukan orang lain yang ia jatuhkan, melainkan dirinya sendiri yang tergelincir dalam jebakan yang ia rancang dengan begitu rapi.

Maka, kualitas sejati seseorang bukan terletak pada seberapa indah doanya terdengar, tetapi pada seberapa jujur hatinya ketika berdoa. Karena doa yang lahir dari hati yang bersih akan menyejukkan, sementara doa yang lahir dari hati yang keruh akan menyingkapkan kekeruhan itu sendiri, meski dibungkus dengan kata-kata paling suci sekalipun.

#Wallahu A’lqm Bish-shawab

Facebook Comments Box