Pelajaran Penting dari Perang Iran vs Israel – Amerika: Kaya Tidak Berguna, Miskin Kalau Bersenjata dan Militan, Baru Ditakuti

 Pelajaran Penting dari Perang Iran vs Israel – Amerika: Kaya Tidak Berguna, Miskin Kalau Bersenjata dan Militan, Baru Ditakuti

Umat Islam Indonesia jangan mau ditipu kaum kafir. Kaum kafir selalu menyuntikkan racun ide: “kamu kaya dulu, baru bangun kekuatan militer. Karena dengan kaya, kamu bisa membagi anggaran untuk belanja militer. Jika kamu mempunyai lusinan sistem pertahanan udara seperti Patriot atau Iron Dome, kamu akan aman. Apalagi kamu punya selusin skuadron F15, kamu bisa mencegah ancaman. Dan semua itu butuh anggaran besar. Dan anggaran besar itu, hanya dapat diperoleh dengan memaksimalkan pertumbuhan ekonomi kalian.”
Itulah racun ide dan proposal kebijakan dari kaum kafir kepada negara-negara muslim dengan menyembunyikan satu faktor: bahwa ide keamanan dan kekuatan pertahanan harus bersandar pada Barat sebagai produsen.

Sekarang kita lihat apa yang terjadi pada Qatar, UEA, Bahrain, Kuwait hingga Arab Saudi. Ternyata betapa pun kaya dan makmurnya suatu negara yang menyimpan peralatan perang dari Barat, jika tidak mandiri dan militan, maka dengan menghadapi Iran saja, negara-negara makmur tersebut tidak berdaya sama sekali. Itulah harga atas ketergantungan pada Barat atau negara lain dalam peralatan perang untuk melindungi diri. Barat justru akan untung jika negara-negara teluk yang makmur ini mengalami kerusakan seperti sekarang, karena mereka akan kembali datang ke Barat untuk belanja peralatan dan teknologi.

Sekarang bandingkan dengan Iran, negara tidak semakmur Qatar, UEA, dan sebagainya. Tapi karena mandiri, swaproduksi peralatan perang, ditopang oleh militansi rakyat dan pemimpinnya, Iran mampu bertahan dari gempuran negara yang dianggap superpower seperti Amerika dikombinasikan dengan Israel. Suatu keajaiban. Dapat bertahan sampai sekarang (28 Februari 2026 – 20 Maret 2026). Bahkan dapat menyerang dengan beruntun Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di semua negara-negara teluk.

Itu semua karena Iran, menolak ide racun dari Barat. Mereka rasional bahwa ketika sistem senjatamu berasal dari musuhmu, maka engkau tidak bisa berbuat banyak di luar yang dirancang oleh musuhmu.

Sekarang, Indonesia yang kecanduan belanja sistem senjata dari asing, jelas hanya akan mengalami apa yang dirasakan oleh negara-negara Teluk, jika perang terbakar di Indonesia.

Bartholemius Sudomo

Facebook Comments Box