Petinggi Ormas Islam Sudah Tidak Waras dan Rela Jadi Badut dan Dihipnotis oleh Angan-angan Kosong

 Petinggi Ormas Islam Sudah Tidak Waras dan Rela Jadi Badut dan Dihipnotis oleh Angan-angan Kosong

Ormas Islam

Berita beredar luas, tiba-tiba saja “gerombolan ormas berbasis Islam” mendatangi istana untuk urusan pelancaran legitimasi pemerintah Indonesia dapat diterima sebagai peserta Dewan Perdamaian bentukan Trump dan Israel.

Saya hilang respect dengan tindakan dan sikap ormas Islam ini, mengingat:

1. Inggris, Kanada, Jerman, Rusia, China, India, dan negara-negara besar lainnya saja masih berpikir untuk memenuhi undangan Trump agar masuk dalam peserta Dewan Perdamaian tersebut, Indonesia malah ngebet mau ikut. Kan bisa ngomong: akan kami pertimbangkan.

2. Nyetor duit tidak kecil, yaitu 17 triliun hanya untuk diakui bagian dari circle Trump dan Israel, menurutku, dengan konteks Indonesia butuh duit untuk urusan dalam negeri jauh lebih mendesak, ungkapanku cuma: goblok nggak ketulungan.

3. Kalau urusan Dewan Perdamaian ini untuk menangani Palestina, mengapa Palestinanya, terutama representasi otoritas di Gaza, tidak menjadi inisiator utama. Seolah dewan ini dianggap mengurusi tanah kavlingannya Trump dan Israel.

4. Intinya dewan yang membawa-bawa nama perdamaian ini ialah urusannya bagaimana menjamin keamanan dan keuntungan pembangunan Israel yang lebih luas.

5. Petinggi ormas-ormas ini goblok karena mengatakan: bila peran Indonesia tidak seperti yang diharapkan, bisa abstain atau mundur. Astaga…. ini menunjukkan dasar logika mereka memahami inisiatif Trump ini benar-benar penuh dihantui keraguan, tapi memaksakan diri. Ini seperti orang mau kawinin perempuan dengan mahar sampai jual aset-aset mahal dan signifikan dengan mengatakan: kalau nanti ternyata Anda janda, bukan perawan, saya abstain dan mungkin mengundurkan diri. Ya…nggap apa-apa. Yang penting asetmu sudah masuk rekeningnya.

6. Harusnya menyadari seperti prinsip membeli sehari-hari. Manusia akan memilih membeli pada penjual yang jujur dan bermoral. Sekarang bayangkan yang menjual perdamaian ini, Donald Trump, si pembuat kerusakan stabilitas di Venezuela, baru saja dan terang-terangan tanpa rasa bersalah menghancurkan legitimasi hukum internasional, menculik presiden Maduro, memeras negara-negara orang dengan tarif perdagangan seenaknya tanpa diawali perundingan,

Trump kotor secara moral, penyuplai senjata dan dana aggaran Israel, pembuat keonaran di Iran, dan ini yang lebih bejat, terlibat circle Jeffrey Epstein yang memperkosa gadis-gadis belia dan perdagangan manusia, lalu…orang semacam ini dituruti dan diberi uang 17 triliun untuk memimpin bisnis perdamaian yang sejatinya adalah Proyek Lebih Luas dan Permanen untuk Keamanan dan Ekspansi Israel, astaga…mengapa akal tidak digunakan dengan merdeka?

Akhirnya ialah:

1. Dengan mendukung legitimasi Prabowo untuk melancarkan urusan jaminan keamanan Israel tersebut, petinggi badut tersebut yang menjual umat Islam, mungkin berharap dapat angpao dengan segala bentuknya dan bisa dianggap menjadi circle Prabowo, suatu yang tak termaafkan.

Kenapa itu yg pertama ditekankan di sini, karena itu yg paling tebal dalam hasrat petinggi ormas Islam tersebut.

2. Dengan mendaftarkan indonesia sebagai aggota dewan perdamaian dengan setoran uang pendataran 17 triliun, mereka halu bersama bahwa suara indonesia akan didengar dan dapat menentukan jalannya kebijakan lembaga permainan Trump tersebut, hingga ia tidak menjabat sebagai Presiden AS (karena ada klausulnya seperti itu dalam teks ketentuan Board of Peace tersebut). Wooiiii mimpi lu kejauhan. Yang nanti bisa terjadi ialah Indonesia dijadikan jongos oleh Trump dan Israel. Bagi elit yahudi, jangankan Indonesia, Arab saja sebagai sepupu mereka sesama bangsa Smith, dighoyimkan oleh mereka, dianggap rendah derajatnya, dianggap stengah orang. Apalagi yang pesek seperti Anda.

Kesimpulan

Tidak ikut mendukung ormas-ormas tersebut dalam urusan ini, dan patut legitimasi kepemimpinan mereka perlu dipertanyakan. Tamat. SED

Facebook Comments Box