Ramadhan & Anxiety Disorder: Menemukan Tuhan di Tengah Degup yang Tak Terkendali
Olah: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar
Tidak semua luka berdarah.Tidak semua badai terlihat dari luar.Ada kegelisahan yang tidak bersuara, tetapi bergetar pelan di dalam dada, mengganggu tidur, mengusik doa, bahkan menyelinap di sela-sela sujud.
Sebagian orang tampak baik-baik saja. Ia hadir di majelis, tersenyum di hadapan kawan, bahkan aktif dalam ibadah. Namun ketika malam turun dan lampu dipadamkan, pikirannya justru menyala, menyusun kemungkinan buruk, membayangkan kegagalan, mengulang percakapan, menyesali keputusan. Inilah wajah sunyi dari Anxiety Disorder.
Secara sederhana, Anxiety Disorder adalah gangguan kecemasan yang membuat seseorang mengalami rasa khawatir atau takut berlebihan, menetap, dan sulit dikendalikan, hingga mengganggu fungsi hidup sehari-hari. Ia bukan sekadar rasa cemas biasa. Ia menetap, berulang, dan sering tak proporsional dengan realitas.
Dalam masyarakat kita, gangguan ini sering disalahpahami. Ada yang menganggapnya kurang iman. Ada yang menyuruh “lebih banyak istighfar” tanpa mencoba memahami beban psikologis yang sedang dipikul. Padahal Al-Qur’an sendiri telah menggambarkan struktur dasar jiwa manusia:
إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat gelisah.”(QS. al-Ma‘arij : 19)
Ayat ini sangat dalam. Ia tidak mengatakan manusia “kadang” gelisah, tetapi memang memiliki potensi kegelisahan. Artinya, rasa cemas bukanlah aib; ia adalah bagian dari kemanusiaan. Yang menjadi soal adalah bagaimana ia dikelola.
Di sinilah Ramadhan hadir sebagai madrasah jiwa.Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan regulasi diri. Dalam dunia psikologi, kemampuan menunda respons dan mengendalikan impuls adalah fondasi kestabilan emosi. Ramadhan melatih itu setiap hari.
Allah berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. al-Baqarah: 45)
Puasa adalah sabar yang hidup. Shalat adalah jeda yang menenangkan. Kombinasi keduanya adalah terapi spiritual yang menyentuh kedalaman jiwa. Lebih jauh lagi, Al-Qur’an memberikan formula ketenteraman yang sering dibaca tetapi jarang direnungkan:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. ar-Ra‘d: 28)
Kata tathma’innu mengandung makna ketenangan setelah kegoncangan, seperti perahu yang semula terombang-ambing lalu menemukan pelabuhan.
Rasulullah SAW. pun tidak menafikan realitas kegelisahan. Beliau berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan.”
(HR. al-Bukhari)
Doa ini menunjukkan bahwa kecemasan bukan tanda kegagalan iman. Ia adalah pengalaman manusiawi yang perlu diarahkan kepada Allah, bukan dipendam sendirian. Namun Ramadhan juga mengajarkan satu dimensi penting yang sering menjadi akar kecemasan, keinginan mengendalikan segalanya. Kita cemas karena takut kehilangan kontrol atas masa depan, rezeki, penilaian orang, atau hasil usaha.
Allah menenangkan:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupinya.”
(QS. at-Talaq: 3)
Tawakal bukan pasrah tanpa usaha, tetapi kesadaran bahwa setelah ikhtiar maksimal, hasil bukan lagi beban kita. Ibnu ‘Athaillah berkata:
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ، فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ أَنْتَ لَهُ بِنَفْسِكَ
“Istirahatkan dirimu dari mengatur hal-hal yang telah diatur oleh selainmu (Allah). Apa yang telah diurus untukmu, jangan engkau sibuk mengurusnya sendiri.”
Kalimat ini seperti embun bagi jiwa yang lelah mengatur segalanya.
Tetapi kita juga harus jujur, tidak semua kecemasan selesai hanya dengan nasihat spiritual. Ada kondisi yang membutuhkan terapi, konseling, bahkan bantuan medis. Islam tidak menutup pintu itu.
Rasulullah SAW. bersabda:
تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ، فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً
“Berobatlah wahai hamba Allah, karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya.”(HR. Abu Dawud)
Gangguan kecemasan adalah bagian dari ikhtiar kesehatan. Spiritualitas memperkuat, ilmu menuntun, dan keduanya tidak bertentangan.
Ramadhan menghadirkan ritme yang berbeda: sahur yang hening, siang yang melatih kesabaran, sore yang penuh harap, malam yang bersujud panjang. Ritme ini memberi struktur, dan struktur adalah salah satu penopang bagi jiwa yang cemas.
Pada akhirnya, Allah menutup dengan janji yang sangat personal:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.”(QS. al-Baqarah: 286).
Ayat ini bukan sekadar dalil teologis, tetapi pelukan spiritual. Jika engkau sedang cemas, itu bukan berarti engkau lemah. Itu berarti Allah tahu kapasitasmu lebih besar dari yang kau kira. Ramadhan mengajarkan bahwa ketenangan bukanlah ketiadaan masalah, melainkan hadirnya makna di tengah masalah.
Dan mungkin, di antara lapar dan doa,di antara sujud dan air mata,
jiwa yang selama ini gelisah akan menemukan satu hal yang paling ia cari, yakni rasa aman bahwa ia tidak berjalan sendirian.
#Wallahu A’lqm Bish-ashawab🙏