RAMADHAN & PERSEVERANCE: Keteguhan Moral di Tengah Kemerosotan Karakter
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar
Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Namun ada satu tantangan yang hampir selalu hadir dalam setiap fase sejarah manusia, yakni melemahnya keteguhan karakter.
Ironisnya, kemerosotan moral sering muncul justru ketika peradaban mencapai kemajuan material yang tinggi. Manusia semakin cerdas, teknologi semakin maju, tetapi tidak selalu diikuti dengan kedewasaan etika dan integritas moral.
Dalam kajian etika sosial, kondisi ini dapat dipahami sebagai kemerosotan moral, yaitu keadaan ketika nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan budi pekerti yang dahulu dijunjung tinggi perlahan mengalami penurunan atau penyimpangan dalam praktik kehidupan masyarakat.
Penyimpangan ini sering tidak muncul secara tiba-tiba. Ia lahir dari kompromi kecil yang terus berulang hingga akhirnya menjadi kebiasaan sosial.
Al-Qur’an mengingatkan fenomena ini dengan peringatan yang sangat reflektif:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan sosial sering kali berakar pada kegagalan manusia menjaga integritas moralnya.
Di sinilah konsep perseverance menjadi sangat penting. Perseverance berarti ketekunan dan keteguhan hati ( kegigihan) dalam mempertahankan kebenaran meskipun menghadapi berbagai godaan dan tekanan.
Dalam perspektif Islam, nilai ini sejalan dengan konsep الصبر (kesabaran yang aktif) dan الاستقامة (konsistensi dalam kebenaran). Al-Qur’an menggambarkan kemuliaan sikap istiqamah dengan ungkapan yang sangat dalam:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”(QS. Al-Ahqaf: 13).
Ayat ini menunjukkan bahwa nilai iman tidak hanya terletak pada pengakuan, tetapi pada ketekunan menjaga komitmen moral dalam perjalanan hidup.
Ramadhan hadir sebagai madrasah spiritual yang melatih keteguhan ini. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan pengendalian diri yang sangat mendalam. Seseorang berpuasa tanpa pengawasan manusia, namun ia tetap menjaga komitmennya karena sadar bahwa Allah selalu mengetahui setiap perbuatannya.
Karena itu Rasulullah SAW. menekankan pentingnya konsistensi dalam amal:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mengajarkan bahwa perubahan besar dalam kehidupan sering lahir dari kebaikan kecil yang dijaga dengan ketekunan. Para sahabat Nabi juga menekankan pentingnya kualitas moral individu. Ali bin Abi Thalib berkata:
قِيمَةُ كُلِّ امْرِئٍ مَا يُحْسِنُهُ
“Nilai seseorang terletak pada apa yang ia lakukan dengan baik.”
Artinya, nilai manusia tidak ditentukan oleh apa yang ia miliki, tetapi oleh apa yang ia tekuni dengan kesungguhan dan integritas. Sehingga dengan demikian, Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan latihan spiritual untuk membangun ketahanan moral manusia. Ia mengajarkan bahwa kebebasan sejati bukanlah mengikuti semua keinginan, tetapi memiliki kekuatan untuk mengendalikan diri dan tetap setia pada nilai kebenaran.
Dari ketekunan moral itulah lahir karakter yang matang. Dan dari karakter yang matang itulah sebuah masyarakat yang bermartabat dapat dibangun.
#Wallahu A’la Bish-Shawab