RAMADHAN & PREDATORY BEHAVIOR : Saat Puasa Menguji Naluri dan Nurani

 RAMADHAN & PREDATORY BEHAVIOR : Saat Puasa Menguji Naluri dan Nurani

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besae UIN Alaudin, Makassar, Sulsel

Ada manusia yang lapar, tetapi tetap memangsa. Ada yang menahan dahaga, tetapi tidak menahan kuasa.
Ada yang lisannya basah oleh zikir, namun tangannya masih kering dari keadilan. Ramadhan datang setiap tahun, tetapi tidak setiap hati benar-benar pulang.

Predatory behavior adalah naluri memangsa, yakni kecenderungan memanfaatkan kelemahan orang lain demi keuntungan diri. Ia tidak selalu hadir dengan wajah kasar, kadang ia bersembunyi di balik jabatan, senyum, bahkan simbol-simbol religius. Ia hidup ketika empati mati. Ia tumbuh ketika hati merasa tak diawasi.

Padahal Allah telah memperingatkan dengan nada yang mengguncang:
وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ ٱلَّذِى جَمَعَ مَالًۭا وَعَدَّدَهُ
“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.”
(QS. al-Humazah: 1–2)

Celaka, sebuah kata yang bukan sekadar ancaman, tetapi cermin. Karena seringkali predator sosial bermula dari merendahkan, lalu menguasai, lalu menguasakan diri atas hak orang lain.

Ramadhan tidak hanya memerintahkan lapar, ia memerintahkan sadar.
﴿يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ… لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa… agar kalian bertakwa.”
(QS. al-Baqarah: 183)

Taqwa adalah rasa diawasi. Ketika rasa itu hidup, tangan tidak tega merampas, lisan tidak tega melukai, dan kekuasaan tidak berubah menjadi alat memangsa.Rasulullah SAW. mengingatkan:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Aḥmad)

Mengapa? Karena perutnya berpuasa, tetapi ambisinya tidak. Fisiknya tunduk, tetapi egonya tetap berkuasa. Allah melarang bentuk kezaliman yang sering kita anggap kecil:
﴿وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ﴾
“Janganlah kalian mengurangi hak-hak manusia.”(QS. al-A‘rāf: 85).

Mengurangi hak bukan hanya soal timbangan di pasar, tetapi juga tentang keadilan di kantor, penghargaan di rumah, dan amanah dalam jabatan.

Rasulullah SAW. menegaskan identitas seorang Muslim:
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.”(HR. al- Bukhari dan Muslim).

Ramadhan menguji, apakah orang lain benar-benar merasa aman di dekat kita?. Sebaliknya, Al-Qur’an melukiskan wajah indah manusia yang telah menaklukkan naluri predatornya:
﴿وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ﴾
“Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri meski mereka sendiri dalam kesulitan.”
(QS. al-Ḥasyr: 9)

Itulah puncak puasa: ketika lapar melahirkan empati, bukan agresi; ketika kekurangan melahirkan kepedulian, bukan kerakusan.
Hasan al-Baṣri berkata:
الصيام جُنَّة ما لم يخرقها صاحبها
“Puasa adalah perisai selama pemiliknya tidak merobeknya.”

Dan kita merobeknya setiap kali menindas, memanfaatkan, atau menginjak martabat sesama. Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, ia adalah revolusi sunyi. Ia ingin mengubah manusia dari pemangsa menjadi penjaga, dari penguasa ego menjadi pelindung sesama.

Maka pertanyaannya bukan lagi sudahkah kita berpuasa?. Tetapi sudahkah orang lain merasa aman karena kita?. Karena kemenangan sejati bukan ketika azan Maghrib berkumandang, melainkan ketika tidak ada lagi hati yang terluka oleh tangan dan sikap kita.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab

Facebook Comments Box