Risyad Fahlevi, Korbankan Kader dan Organisasi Demi Ambisi Ketua Umum

BANDUNG – Kongres XXII GMNI di Bandung, sudah memasuki hari ke-11. Selain akan membuahkan pemikiran-pemikiran terbaik tentang arah organisasi kedepan secara nasional, kongres ini juga akan melahirkan kepemimpinan baru yang kini mengerucut pada dua nama.
Salah satunya adalah Risyad Fahlevi. Bersama dengan majunya Risyad sebagai Bakal Calon Ketua Umum, ada barisan tim pemenangan yang diantaranya terdiri dari mantan Ketua Umum DPP GMNI Imanuel Cahyadi, DPD GMNI Jawa Barat dan barisan DPC asal Jawa Barat lainnya.
Sayangnya, berbagai strategi yang dilakukan oleh Tim Pemenangan Risyad, nyatanya hanya berbuah kekalahan beruntun, yakni kekalahan dalam penentuan komposisi Pimpinan Sidang Pleno Tetap dan kekalahan dalam penentuan komposisi Pimpinan Sidang di seluruh Komisi yang ada. Pasca kekalahan-kekalahan tersebut, Gedung Merdeka yang dipergunakan sebagai ruang persidangan, dikunci.
Hari ini, penguncian ruang persidangan sudah memasuki hari ke-4. Penguncian, menjadi penyebab utama tertundanya kongres dan terlunta-luntanya peserta dalam ketidakpastian.
“Penguncian Gedung Merdeka untuk mengulur waktu dan mengganggu berjalannya kongres, adalah cara-cara lama yang seharusnya tidak dilakukan oleh Tim Pemenangan Risyad. Mereka sepatutnya tidak mengambil langkah yang merugikan organisasi dan menjadikan delegasi DPC dan DPD menjadi korban,” ujar Ketua DPD GMNI Jawa Timur, Amir Mahfut.
Banyak kalangan memandang bahwa masih banyak langkah cantik yang dapat dilakukan untuk memenangkan kandidat, seperti promosi pemikiran, adu gagasan, dan lain sebagainya.
“Risyad seharusnya dapat melarang timnya yang sudah berkolaborasi dengan Badan Pekerja Kongres dan Panitia Lokal untuk melakukan penguncian ruang sidang. Kalau hanya untuk meraih posisi Ketua Umum saja Risyad sudah mengorbankan rekan-rekan sesama kader dan melacurkan martabat organisasi, risyad tidak layak menjadi nahkoda baru GMNI kedepan.” Tutup Ketua DPD GMNI Lampung, Muhammad Dandi.