Saleh di Mata Manusia, Asing di Mata Allah: Teologi Niat dan Krisis Kesalehan Simbolik
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)
Ada manusia yang tampak saleh di mata banyak orang, tetapi terasa asing di hadapan Allah. Ia dikenal karena simbol, dipuji karena penampilan, dan dihormati karena citra religiusnya.
Ia hadir dalam ruang-ruang ibadah, aktif dalam ritual, fasih dalam bahasa agama, namun hatinya tidak benar-benar hadir dalam penghambaan.
Inilah tragedi spiritual yang sering tidak disadari, ketika kesalehan berubah menjadi simbol, ibadah menjadi tontonan, dan agama menjadi citra sosial. Manusia bertepuk tangan, tetapi langit diam. Manusia memuji, tetapi Allah tidak memandang.
Dalam Islam, nilai amal tidak diukur dari bentuk luar, tetapi dari niat yang tersembunyi di dalam hati.Rasulullah SAW. meletakkan fondasi teologis yang sangat kokoh ketika bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya amal itu bergantung pada niat, dan setiap orang hanya memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar nasihat moral, tetapi prinsip dasar peradaban ruhani Islam. Amal yang tampak besar bisa bernilai kosong, dan amal yang tampak kecil bisa bernilai agung, hanya karena niat yang menggerakkannya.
Karena Allah tidak menilai simbol, tetapi makna. Tidak melihat tampilan, tetapi ketulusan. Al-Qur’an menegaskan:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَـٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darah itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”(QS. Al-Hajj: 37)
Artinya, ritual tidak berarti apa-apa tanpa kesadaran batin. Simbol tidak bernilai tanpa kejujuran niat. Ibadah tidak hidup tanpa keikhlasan. Karena itu, Islam tidak membangun manusia dari luar, tetapi dari dalam. Tidak dari gerakan tubuh, tetapi dari kesadaran hati.
Namun sejarah spiritual manusia selalu diwarnai oleh penyakit kesalehan simbolik, ibadah yang ramai, tetapi hati yang kosong, ritual yang hidup, tetapi nurani yang mati.
Al-Qur’an mengungkap fenomena ini dengan sangat keras:
﴿فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ﴾
“Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai dari shalatnya, mereka yang berbuat riya’.”(QS. Al-Ma’un: 4–6).
Mereka shalat, tetapi lalai, mereka ibadah, tetapi mencari pujian, mereka ritual, tetapi kehilangan makna. Inilah kesalehan simbolik, saleh dalam tampilan, kosong dalam penghambaan.
Rasulullah SAW. bahkan menyebut riya’ sebagai penyakit teologis paling berbahaya:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكَ الْأَصْغَرُ… قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
“Yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Mereka bertanya: “Apa itu syirik kecil?” Beliau menjawab: “Riya’.”(HR. Ahmad)
Karena riya’ memindahkan pusat ibadah dari Allah kepada manusia. Ia menggeser orientasi dari ridha Tuhan ke pujian makhluk, dari keikhlasan ke pencitraan, dari penghambaan ke pertunjukan.
Para sahabat memahami hal ini dengan sangat dalam. Ali bin Abi Thalib RA. berkata:
كَمْ مِنْ عَمَلٍ كَبِيرٍ صَغُرَتْهُ النِّيَّةُ، وَكَمْ مِنْ عَمَلٍ صَغِيرٍ عَظَّمَتْهُ النِّيَّةُ
“Betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niat, dan betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat.”
Abdullah bin Mas‘ud RA.berkata:
مَا أَعْطَى اللَّهُ عَبْدًا عَطَاءً أَفْضَلَ مِنْ نِيَّةٍ صَالِحَةٍ
“Allah tidak memberi seorang hamba pemberian yang lebih utama daripada niat yang baik.”
Para ulama menegaskan bahwa niat adalah ruh dari seluruh amal. Imam Al-Ghazali berkata:
النِّيَّةُ رُوحُ الْعَمَلِ، وَالْعَمَلُ جَسَدُهُ
“Niat adalah ruh amal, dan amal adalah jasadnya.”
Ibn Qayyim al-Jauziyyah berkata:
الأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُهَا وُجُودُ سِرِّ الإِخْلَاصِ فِيهَا
“Amal hanyalah bentuk yang berdiri, dan ruhnya adalah kehadiran keikhlasan di dalamnya.”
Tanpa niat yang lurus, amal hanyalah gerakan, tanpa keikhlasan, ibadah hanyalah aktivitas, tanpa ketulusan, ritual hanyalah simbol. Di sinilah lahir manusia yang tampak saleh secara sosial, tetapi asing secara ilahiah. Dipuji manusia, tetapi diabaikan langit, diagungkan makhluk, tetapi tidak diterima Tuhan.
Allah telah mengingatkan:
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian lakukan.”(QS. As-Saff: 3)
Dan Allah menegaskan standar-Nya:
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
“Ketahuilah, hanya milik Allah agama yang murni.”(QS. Az-Zumar: 3)
Agama yang murni, bukan simbolik.
Ibadah yang murni, bukan kosmetik.
Kesalehan yang murni, bukan performatif.
Teologi niat mengajarkan bahwa Allah tidak menilai siapa kita di mata manusia, tetapi siapa kita di hadapan-Nya. Allah tidak melihat apa yang tampak, tetapi apa yang tersembunyi, tidak menghitung popularitas, tetapi ketulusan, tidak mengukur simbol, tetapi kejujuran batin.
Mungkin ada orang yang tidak dikenal siapa pun di dunia, tidak viral, tidak disebut di mimbar, tidak diangkat di panggung, tetapi namanya bercahaya di langit karena ikhlasnya. Dan mungkin ada yang terkenal di bumi, tetapi asing di sisi Allah karena hatinya kosong dari kejujuran.
Di sinilah makna terdalam dari teologi niat, mengembalikan agama dari panggung ke jiwa, dari simbol ke makna, dari citra ke ketulusan, dari performa ke penghambaan. Membebaskan manusia dari kesalehan palsu, dan menuntunnya menuju kesalehan sejati. Kesalehan yang tidak sibuk tampil, tetapi sibuk memperbaiki diri, tidak haus pujian, tetapi haus ridha Allah, tidak mengejar pengakuan manusia, tetapi mengejar penerimaan langit.
Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan manusia bukan siapa yang melihatnya, tetapi siapa yang menerimanya, bukan siapa yang memujinya, tetapi siapa yang meridhainya. Dan itu bukan manusia, bukan dunia, bukan panggung, melainkan Allah SWT.
#Wallahu A’lam Bish-Sahawab