Sartono Hutomo Ingatkan Risiko Panic Buying BBM Akibat Disinformasi Jelang Lebaran

 Sartono Hutomo Ingatkan Risiko Panic Buying BBM Akibat Disinformasi Jelang Lebaran

Sartono Hutomo

PALEMBANG  — Anggota Komisi XII DPR RI Sartono Hutomo mengingatkan potensi terjadinya kepanikan masyarakat dalam membeli bahan bakar minyak (BBM) menjelang Hari Raya Idulfitri. Menurutnya, fenomena panic buying dapat muncul bukan karena kelangkaan pasokan, melainkan akibat persepsi publik yang keliru terhadap informasi mengenai cadangan energi nasional.

Hal tersebut disampaikan Sartono saat mengikuti agenda kunjungan kerja spesifik Komisi XII DPR RI ke fasilitas Integrated Terminal Pertamina Palembang di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Dalam kunjungan tersebut, rombongan dewan meninjau kesiapan infrastruktur energi guna memastikan distribusi BBM tetap lancar selama periode Ramadan hingga Idulfitri.

Sartono menjelaskan bahwa sebelumnya pemerintah menyampaikan stok BBM nasional berada pada kisaran cukup untuk sekitar 21 hari. Namun informasi tersebut kerap disalahartikan oleh sebagian masyarakat seolah-olah cadangan energi hanya tersedia selama periode tersebut.

Padahal, lanjutnya, sistem pengelolaan energi nasional berjalan secara dinamis. Persediaan BBM tidak hanya mengandalkan stok yang tersimpan, tetapi juga terus diperbarui melalui distribusi dan pengisian ulang secara berkala.

“Yang perlu diantisipasi adalah munculnya kepanikan masyarakat. Jika terjadi panic buying, stok yang sebenarnya cukup justru bisa bermasalah karena terjadi lonjakan permintaan secara bersamaan,” ujar Sartono.

Politisi dari Partai Demokrat tersebut menilai penting bagi pemerintah dan badan usaha energi untuk memperkuat komunikasi publik terkait kondisi pasokan energi nasional. Ia mendorong agar informasi disampaikan secara jelas, sistematis, dan berkelanjutan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Dalam hal ini, ia menilai peran Pertamina dan PLN sangat penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai mekanisme distribusi energi serta ketersediaan stok BBM di berbagai wilayah.

Selain itu, Sartono juga menyoroti maraknya disinformasi di media sosial yang dapat memengaruhi psikologi masyarakat. Ia menilai narasi yang tidak akurat, bahkan bersifat provokatif, dapat memicu keresahan publik sehingga mendorong masyarakat membeli BBM secara berlebihan.

“Di era disinformasi saat ini, berbagai narasi di media sosial bisa memengaruhi psikologi masyarakat. Padahal pemerintah sudah menyiapkan semuanya dengan baik,” katanya.

Lebih lanjut, Sartono menekankan pentingnya pengawasan di lapangan untuk mencegah potensi gangguan distribusi energi. Ia meminta adanya koordinasi yang kuat antara pemerintah daerah, aparat kepolisian, serta badan usaha energi guna mengantisipasi kemungkinan penimbunan BBM maupun antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Menurutnya, penguatan koordinasi lintas lembaga menjadi kunci untuk memastikan distribusi energi tetap stabil selama masa peningkatan mobilitas masyarakat pada periode mudik Lebaran.

“Dengan koordinasi yang kuat antara pemerintah, badan usaha energi, dan aparat penegak hukum, kami berharap distribusi energi selama Ramadan dan Idulfitri dapat berjalan lancar serta masyarakat tetap merasa aman dalam memenuhi kebutuhan energi,” pungkasnya.

Facebook Comments Box