Sasar Warga Sipil, MPSI: KKB Rusak Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Papua
JAKARTA – Warga sipil, termasuk pekerja tambang, kerap menjadi korban kekerasan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua. Hal ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berpotensi merusak stabilitas kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Setiap insiden kekerasan terhadap warga sipil tidak hanya menimbulkan korban secara langsung, tetapi juga menciptakan rasa takut yang berkepanjangan di tengah masyarakat. Ketika rasa aman hilang, aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat otomatis akan terganggu,” ucap Sekretaris Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) Charles Kossay, Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Ia menerangkan, masyarakat yang tidak di wilayah rawan konflik terpaksa membatasi aktivitas sehari-hari demi keselamatan karena khawatir dengan potensi serangan. Akibatnya, berbagai aspek kehidupan masyarakat, dari aktivitas perdagangan, transportasi, hingga sektor informal, tidak dapat berjalan dengan baik.
Charles menyampaikan, warga sipil yang bekerja di sektor pertambangan dan lainnya pada dasarnya hanya sedang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karena itu, MPSI mengecam aksi KKB yang menjadikan warga sipil sebagai target.
“Ketika para pekerja sipil menjadi sasaran kekerasan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban secara langsung, tetapi juga oleh keluarga mereka dan masyarakat sekitar yang menggantungkan kehidupan ekonomi pada aktivitas tersebut,” tuturnya.
Charles melanjutkan, kekerasan terhadap warga sipil yang terus berulang berpotensi menciptakan ketidakstabilan sosial dalam jangka panjang. Ketika masyarakat hidup dalam ketakutan, berbagai aktivitas sosial dan ekonomi terganggu.
“Kondisi ini tentu dapat memperlambat pembangunan sosial dan ekonomi di wilayah Papua karena masyarakat tidak dapat menjalankan aktivitasnya secara normal,” ujarnya.
MPSI pun meminta aparat memberikan atensi dan prioritas terhadap masalah ini. Sebab, menciptakan rasa aman bukan hanya penting dari sisi kemanusiaan, tetapi juga faktor penting dalam menjaga keberlangsungan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Ketika masyarakat merasa aman, mereka dapat bekerja, berdagang, dan menjalani kehidupan sosial secara normal. Stabilitas sosial dan ekonomi hanya bisa terwujud apabila masyarakat sipil terlindungi dari ancaman kekerasan,” tutupnya.
Diketahui, KKB kerap menjadikan warga sipil, termasuk pekerja tambang, sebagai target kekerasan. Ini seperti insiden di Yahukimo, Papua Pegunungan, pada 6-7 April 2025 yang menewaskan sekitar 11 pendulang emas.
Kasus serupa terulang pada 20-21 September 2025, di mana lima warga sipil yang bekerja menjadi pendulang emas di Kabupaten Yahukimo tewas setelah aksi kekerasan oleh KKB pimpinan Elkius Kobak.
Pada 23 Februari 2026, dua petugas keamanan meninggal dunia akibat KKB menyerang Pos Kambtibmas PT Kristalin Nabire. Insiden tersebut juga memaksa aparat gabungan TNI-Polri mengevakuasi lebih dari 200 karyawan perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan itu ke lokasi aman.