SINDROM EGOSENTRISME: Ketika “Aku” Menjadi Pusat Segalanya
Oleh: Munawir Kamaluddin,
Ada manusia yang hidup seolah dunia berputar di sekeliling dirinya. Ia berbicara, dan merasa semua harus mendengar. Ia berpikir, dan merasa semua harus setuju. Ia berjalan, dan berharap semua memberi ruang. Ia terluka, dan menuntut semua memahami. Di balik senyum yang tampak percaya diri, sering tersembunyi jiwa yang rapuh. Di balik keyakinan yang tampak kuat, sering bersemayam ketakutan akan ketidakberartian. Inilah wajah sunyi Sindrom Egokentrisme: ketika “aku” menjadi pusat makna, pusat kebenaran, pusat penilaian, dan pusat segalanya.
Egokentrisme bukan sekadar sifat percaya diri yang berlebihan. Ia adalah cara pandang hidup. Sebuah lensa batin yang membuat seseorang melihat dunia hanya dari sudut dirinya sendiri.
Pendapatnya terasa paling benar, pikirannya terasa paling jernih, keyakinannya terasa paling suci. Ia sulit mendengar karena ia merasa sudah tahu. Ia sulit belajar karena ia merasa sudah paham. Ia sulit berubah karena ia merasa sudah benar.
Di titik ini, egosentrisme bukan lagi kepribadian, tetapi menjadi ideologi batin, ideologi tentang keakuan.
Al-Qur’an menggambarkan fenomena ini dengan sangat dalam:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”(QS. Al-Jatsiyah: 23).
Ayat ini bukan hanya tentang orang yang mengikuti keinginan, tetapi tentang manusia yang menjadikan dirinya sendiri sebagai pusat hukum dan kebenaran.
Ia tidak lagi bertanya apa yang benar, tetapi apa yang ia sukai. Ia tidak lagi mencari kebenaran, tetapi mencari pembenaran. Di sinilah ego berubah menjadi “tuhan kecil” dalam jiwa manusia.
Sindrom egokentrisme sering tumbuh dari luka yang tak disadari, dari masa kecil yang merasa tidak cukup dihargai, dari lingkungan yang terlalu memanjakan atau terlalu menekan, dari kepribadian yang haus validasi, dan dari budaya yang mengajarkan bahwa nilai diri diukur dari pengakuan sosial, bukan kedalaman moral.
Maka seseorang tumbuh dengan satu kebutuhan besar untuk diakui, dipuji, dianggap, dilihat. Ketika itu tidak ia dapatkan, ia merasa terancam, ketika ia tidak menjadi pusat, ia merasa tersingkir, ketika ia tidak diakui, ia merasa dizalimi.
Maka lahirlah mentalitas korban: selalu merasa paling tersakiti, paling dirugikan, paling tidak dimengerti.
Rasulullah SAW. telah memperingatkan bahaya penyakit ini dalam bentuk paling halusnya:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.”(HR. Muslim)
Kesombongan tidak selalu tampil dalam bentuk arogan dan keras. Ia sering hadir dalam bentuk yang lembut, merasa paling paham, paling lurus, paling benar, paling sadar.
Bahkan kadang tampil dalam kemasan religius, merasa paling ikhlas, merasa paling beriman, merasa paling tulus.
Padahal itu semua adalah ego yang sedang memakai pakaian spiritual.
Ali bin Abi Thalib RA. berkata:
مَنْ وَضَعَ نَفْسَهُ مَوْضِعَ التُّهْمَةِ فَلَا يَلُومَنَّ مَنْ أَسَاءَ بِهِ الظَّنَّ
“Barang siapa menempatkan dirinya di posisi yang mencurigakan, maka jangan menyalahkan orang yang berburuk sangka kepadanya.”
Kebijaksanaan ini mengajarkan bahwa kesadaran diri lebih penting daripada pembelaan diri. Jiwa yang sehat tidak sibuk membela ego, tetapi sibuk membenahi diri.
Dalam relasi sosial, egokentrisme menciptakan jarak. Ia mematikan dialog. Ia merusak empati. Ia mengubah perbedaan menjadi permusuhan. Orang tidak lagi dipahami sebagai manusia, tetapi sebagai ancaman terhadap ego.
Padahal Allah menciptakan perbedaan sebagai jalan perjumpaan, bukan pertarungan:
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal.”(QS. Al-Hujurat: 13).
Egokentrisme membuat seseorang sulit bekerja sama, sulit menerima kritik, sulit belajar, dan sulit berubah. Karena perubahan selalu dimulai dari pengakuan bahwa ada yang salah. Sedangkan ego selalu menolak pengakuan itu.
Imam Al-Ghazali berkata:
أَصْلُ كُلِّ الْمَعَاصِي ثَلَاثَةٌ: الْكِبْرُ، وَالْحِرْصُ، وَالْحَسَدُ
“Akar seluruh maksiat ada tiga: kesombongan, kerakusan, dan kedengkian.”
Kesombongan adalah akar terdalam egosentrisme. Ia bukan hanya dosa perilaku, tetapi penyakit struktur batin. Namun Islam tidak hanya mendiagnosis, tetapi menawarkan penyembuhan. Penyembuhan egosentrisme bukan hanya terapi pikiran, tetapi penyembuhan orientasi hidup.
Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”
(QS. Asy-Syams: 9)
Penyucian jiwa berarti memindahkan pusat hidup dari “aku” menuju “Allah”. Dari ego menuju makna. Dari pengakuan menuju pengabdian. Dari pembenaran diri menuju pembenahan diri.
Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي
“Semoga Allah merahmati orang yang menghadiahkan kepadaku aib-aibku.”
Kalimat ini lahir dari jiwa yang bebas dari egosentrisme. Jiwa yang tidak takut dikoreksi, tidak alergi pada kritik, dan tidak panik terhadap perbedaan.
Pada akhirnya, sindrom egosentrisme bukan hanya masalah psikologis, tetapi masalah teologis. Siapa yang menjadi pusat hidup seseorang akan menentukan arah jiwanya.
Jika dirinya sendiri yang menjadi pusat, maka hidup akan penuh konflik, luka, dan kehampaan. Jika Allah yang menjadi pusat, maka ego akan mengecil, jiwa akan tenang, dan hidup menemukan maknanya.
Manusia tidak diciptakan untuk menjadi pusat semesta, tetapi untuk menjadi hamba. Tidak diciptakan untuk selalu dimenangkan, tetapi untuk selalu dibenahi. Tidak diciptakan untuk diagungkan, tetapi untuk mengagungkan Allah. Dan di sanalah egosentrisme mulai runtuh. saat ego ditundukkan, kesadaran dibesarkan, dan hati kembali ke fitrahnya.
Sebab keselamatan bukan milik mereka yang paling merasa benar, tetapi milik mereka yang paling mau berubah. Bukan milik mereka yang paling merasa tinggi, tetapi milik mereka yang paling mau merendah.
Di situlah manusia kembali menjadi manusia: jiwa yang sadar, hati yang hidup, dan diri yang menemukan makna sejatinya.
# Wallahu A’lam Bish-shawab