Siti Aisyah Nilai Anggaran BNN Belum Ideal di Tengah Darurat Narkoba hingga Desa dan Anak SD
Siti Aisyah
JAKARTA — Anggota Komisi III DPR RI dari Daerah Pemilihan Riau II Fraksi PDI Perjuangan, Siti Aisyah, menilai anggaran Badan Narkotika Nasional (BNN) masih belum sebanding dengan tingkat kedaruratan persoalan narkoba di Indonesia yang kini telah menjangkau hingga desa-desa dan anak usia sekolah dasar.
Hal itu disampaikan Siti Aisyah dalam rapat kerja Komisi III DPR RI bersama BNN di Ruang Rapat Komisi III DPR RI, Nusantara II, Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Siti Aisyah mengawali penyampaiannya dengan mengapresiasi kinerja BNN di bawah kepemimpinan Kepala BNN Komjen Pol. Sri Yudi, yang dinilainya menunjukkan komitmen dan kepemimpinan kuat dalam penanganan narkotika.
“Kami sangat mengapresiasi kerja BNN yang luar biasa. Di bawah kepemimpinan Pak Sri Yudi, BNN bekerja sangat serius menghadapi persoalan narkoba,” ujar Siti.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa besaran anggaran yang diajukan BNN masih belum mencerminkan kondisi riil di lapangan. Menurutnya, Indonesia saat ini berada dalam situasi darurat narkoba yang berdampak langsung pada meningkatnya kejahatan dan krisis di lembaga pemasyarakatan.
“Dengan kondisi Indonesia yang darurat narkoba, anggaran yang diajukan menurut saya masih sangat kurang. Lapas kita over capacity, bahkan ada yang sampai 100 sampai 200 persen. Dan 70 sampai 80 persen penghuninya adalah kasus narkoba,” tegasnya.
Siti Aisyah juga mengungkapkan bahwa peredaran narkoba kini telah menyasar desa-desa, termasuk kawasan pertanian. Ia menyoroti praktik pemberian utang narkoba kepada buruh tani oleh bandar, yang kemudian dibayar melalui hasil kerja mereka.
“Di desa-desa, buruh tani diberi utang narkoba oleh bandar sebelum bekerja. Nanti dibayar dari hasil kerjanya, sehingga yang dibawa pulang ke keluarga sangat minim,” jelasnya.
Lebih jauh, Siti Aisyah membeberkan dampak sosial yang semakin mengkhawatirkan, mulai dari meningkatnya pencurian hingga keterlibatan anak-anak usia sekolah dasar dalam penyalahgunaan narkoba.
“Saya pernah tinggal di desa. Malam hari ramai, tapi ramainya karena orang menjual rice cooker, sepeda, bahkan mencuri sawit untuk beli narkoba. Lebih ironis lagi, ini sudah masuk ke anak-anak SD. Ada murid kelas 5 yang sudah terpapar narkoba,” ungkapnya.
Ia menilai narkoba merupakan ancaman paling serius bagi masa depan bangsa karena merusak generasi secara sistematis.
“Kalau narkoba, ini merusak generasi bangsa. Ini yang paling mengerikan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Siti Aisyah menekankan pentingnya penguatan peran BNN sebagai leading sector dalam pencegahan, rehabilitasi, dan pemberantasan narkoba. Ia meminta agar BNN memfasilitasi rumah sakit di seluruh kabupaten agar mampu memberikan layanan rehabilitasi.
“Tidak semua rumah sakit punya fasilitas rehab. Contohnya di Riau. Karena itu BNN harus menjadi leading sector dan memfasilitasi agar rumah sakit di kabupaten bisa melakukan rehabilitasi,” katanya.
Ia juga mendorong pembangunan pusat-pusat rehabilitasi baru serta penguatan program sosialisasi hingga ke kantong-kantong desa.
Menutup pernyataannya, Siti Aisyah menyatakan dukungan penuh Komisi III DPR RI terhadap pengajuan anggaran BNN.
“Kami sangat mendukung pengajuan anggaran BNN untuk mencegah dan menindak kejahatan narkoba,” pungkasnya.