TOXIC RELATIONSHIP: Antara Bertahan dalam Luka atau Merdeka dalam Kesendirian

 TOXIC RELATIONSHIP: Antara Bertahan dalam Luka atau Merdeka dalam Kesendirian

Munawir

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)

Ada hubungan yang membuat seseorang tersenyum di depan orang lain, tetapi menangis diam-diam ketika sendirian. Ada kebersamaan yang menghadirkan rasa bersalah tanpa kesalahan, luka tanpa sebab yang jelas, dan takut kehilangan meski sedang disakiti. Jiwa terasa sesak, tetapi lidah terus berkata “tidak apa-apa.” Hati ingin pergi, namun rasa takut ditinggalkan menahan langkah.

Di titik inilah relasi tidak lagi menjadi tempat pulang, melainkan ruang sunyi yang menggerogoti jiwa sedikit demi sedikit.Allah mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam hubungan yang menindas batin dan merusak martabat:
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ
“Dan janganlah kalian condong kepada orang-orang yang berbuat zalim, karena (jika demikian) api neraka akan menyentuh kalian.”
(QS. Hūd: 113)

Ayat ini jarang dikaitkan dengan relasi personal, padahal kezaliman tidak selalu berupa pukulan, ia sering hadir dalam bentuk pengabaian, manipulasi emosi, dan perendahan yang dinormalisasi atas nama cinta.

Toxic relationship adalah relasi yang kehilangan keseimbangan adil antara memberi dan menerima, antara mencintai dan memuliakan. Ia hadir ketika satu pihak terus merasa kecil, bersalah, dan takut, sementara pihak lain merasa berhak menguasai, mengontrol, dan membenarkan luka yang ia ciptakan.

Dalam pandangan iman, ini bukan sekadar masalah psikologis, tetapi juga penyakit ruhani yang mengaburkan makna kasih sayang yang sejati.

Rasulullah SAW. bersabda dalam hadits yang jarang dikutip dalam konteks relasi:
لَا تَكُونُوا إِمَّعَةً تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا
“Janganlah kalian menjadi pribadi yang ikut-ikutan, yang berkata: jika orang lain berbuat baik, kami ikut baik dan jika mereka zalim, kami ikut zalim.”(HR. At-Tirmidzi, hasan).

Hadits ini mengajarkan keberanian menjaga nilai diri, termasuk dalam hubungan. Bertahan dalam relasi yang melukai bukanlah bentuk kesetiaan, melainkan kehilangan kesadaran diri.

Ali bin Abi Thalib RA. pernah berkata dengan ungkapan yang jarang diangkat:
مَنْ هَانَتْ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فَلَا تَأْمَنْ شَرَّهُ
“Barang siapa merendahkan dirinya sendiri, maka jangan berharap ia akan selamat dari keburukan.”

Toxic relationship sering berakar dari jiwa yang lupa memuliakan dirinya. Ketika seseorang merasa tidak layak dicintai dengan sehat, ia akan menganggap luka sebagai harga cinta.

Imam Ibnul Qayyim menegaskan dengan kalimat yang sangat dalam:
مَا أُهِينَ عَبْدٌ إِلَّا لِتَفْرِيطِهِ فِي حَقِّ اللَّهِ
“Tidaklah seorang hamba direndahkan, kecuali karena ia menyia-nyiakan hak Allah.”

Artinya, menjaga diri dari relasi yang merusak adalah bagian dari menjaga amanah Allah atas jiwa kita. Sebab Allah tidak menciptakan manusia untuk hidup dalam ketakutan dan luka, tetapi dalam ketenangan dan kemuliaan. Dan Allah telah menetapkan standar relasi yang sehat:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Pergaulilah mereka dengan cara yang baik.”(QS. An-Nisa’: 19).

Ma‘ruf bukan hanya bebas dari kekerasan, tetapi penuh rasa aman, penghargaan, dialog, dan kasih yang menenangkan jiwa. Maka ketika sebuah hubungan membuatmu kehilangan dirimu, meragukan nilai dirimu, dan menjauhkanmu dari ketenangan hati, mungkin yang perlu diselamatkan bukan relasinya, tetapi jiwamu. Sebab cinta yang benar tidak membuat takut, tidak membungkam suara hati, dan tidak menormalisasi luka.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab

Facebook Comments Box