*” ‘AJULA’ ( Agustus Jumat Kelabu): Rakyat Bergerak Menuntut Keadilan

*”
*Oleh: Munawir Kamaluddin*

Agustus seharusnya menjadi bulan penuh syukur. Bulan ketika rakyat Indonesia merayakan kemerdekaan, mengenang perjuangan para pendiri bangsa, mengibarkan bendera dengan bangga, dan menikmati buah kebebasan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata.

Namun, ironi menyayat, Agustus 2025 bukan bulan perayaan, melainkan bulan kegelisahan.

Bukan bulan persatuan, melainkan bulan pertentangan. Bukan bulan kemenangan, melainkan bulan luka.

Di saat rakyat mestinya menghayati makna kemerdekaan, justru ketegangan sosial dan politik memuncak. Bukan hanya di jalan-jalan ibu kota, tetapi merembet ke banyak daerah.

Yang mestinya menjadi pesta rakyat, berubah menjadi amarah rakyat. Yang mestinya menjadi momentum refleksi kemerdekaan, justru menjadi titik konflik antara rakyat dengan pemerintah, DPR, aparat keamanan, bahkan dengan lembaga negara lainnya seperti legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

Dan lebih memilukan lagi, sebuah hari Jumat, yang seharusnya penuh berkah dan ketenangan, justru di bulan Agustus ini berubah menjadi Jumat Kelabu.

Jumat kelabu karena hari tumpahnya darah seorang rakyat kecil di depan gedung parlemen.

*Ajula: Tegesa-gesa yang Membawa Luka*

Dalam bahasa Arab, Ajula (عَجَلَة) berarti tergesa-gesa. Ia bukan sekadar kata, melainkan sebuah sikap:

Tergesa-gesa DPR dalam mengambil kebijakan yang jauh dari nalar publik, menaikkan tunjangan miliaran di tengah krisis.

Tergesa-gesa aparat dalam bertindak represif, memilih kekerasan ketimbang dialog, memilih peluru gas ketimbang kata-kata.

Tergesa-gesa pemerintah dalam merespons kritik, lebih sibuk meredam gejolak dengan kekuatan ketimbang mendengar keluhan rakyat.

Tergesa-gesa rakyat pula, dalam meluapkan amarahnya lewat anarki, pembakaran, perusakan, dan tindak kekerasan.

Semua pihak terseret dalam pusaran ajula, terburu-buru, tidak jernih, tidak bijak, kehilangan kendali atas kebijaksanaan. Padahal bangsa ini justru butuh ketenangan, kesabaran, dan keadilan sebagai fondasi jalan keluar.

Maka “*Ajula”* di bulan Agustus ini menjadi simbol sekaligus ironi. Agustus mestinya lambang kemerdekaan, tetapi justru ditandai ajula (ketergesaan kolektif) yang melahirkan luka bangsa.

*Pertanyaan yang Mengguncang Nurani*

Pernahkah kita jujur bertanya,
Untuk siapa negara ini sesungguhnya berdiri?

Apakah untuk rakyat kecil yang setiap hari berpeluh di jalanan, atau untuk kursi-kursi empuk para penguasa yang sibuk menambah fasilitasnya sendiri?

Masihkah kita percaya pada istilah “aparat pengayom”, ketika yang mereka tindas dan yang mereka lindas bukan ancaman bersenjata, melainkan seorang ojek online bernama Affan Kurniawan, yang hanya ingin pulang membawa rezeki untuk keluarganya?

Apakah pantas rumah para legislator direnovasi dengan tunjangan miliaran, sementara rumah rakyat retak diterpa badai krisis ekonomi yang tak kunjung reda?

Dan di manakah letak keadilan, bila darah seorang rakyat kecil tumpah di depan gedung DPR, sementara suaranya terkubur di balik tembok kekuasaan yang kokoh, dingin, dan beku?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah retorika kosong. Ia adalah palu yang mengetuk kesadaran kita bahwa ada yang serius salah dalam arah perjalanan bangsa ini.

*Kronologi Luka: Jumat Kelabu di Senayan*

28 Agustus 2025 menjadi catatan hitam. Ribuan massa bergerak menuntut keadilan di depan Gedung DPR RI, menolak kebijakan absurd (kenaikan tunjangan perumahan) DPR RI hingga Rp50 juta per bulan.

Di tengah gelombang demonstrasi itu, Affan Kurniawan, seorang tukang ojek online, tewas terlindas kendaraan taktis Brimob Barakuda.

Peristiwa itu seketika menjadi simbol luka kolektif. Luka yang membelah rasa percaya rakyat terhadap negara.

Dari Jakarta, bara kemarahan menyebar ke Bandung, Makassar, Karawang, Jambi, Bengkulu, hingga Surabaya. Kantor DPRD dibakar, kendaraan dinas dilahap api, gedung-gedung pemerintahan dirusak.

Bahakan penulis menyaksikan langsung samapi pukul: 3 dini hari di kantor DPRD kota Makassar, massa demonstran tidak berkuarang eskalasinya malah terus bertambah.

Aksi penjarahan dan bakar-bakaran tidak berhenti hingga akhirnya gedung megah DPRD kota makasar tinggal puing-puing reruntuhan dan sisa bara api, bahkan puluhan kendaraan roda 4 ( yang telah menjadi rongsokan besi yang telah hangus terbakar) tidak lepas dari aksi penjarahan massa.

Fenomena yang paling menarik bahwa massa merazia aparat kepolisian yang ada dilokasi bahakan menahan pengendara yang diduga aparat kepolisian.

Yang tampak berlalu lalang dan mengamankan lokasi adalah aparat keamanan dari TNI ( yang tetap mengenakan seragamnya).

Dalam wawancara beberapa massa demontran dari masaa yang masih berkumpul , semuanya menjawab dengan lantang ; Ini bukan sekadar kemarahan sesaat. Ini adalah akumulasi rasa muak yang menahun, PHK massal, pajak yang mencekik, harga-harga melambung, aparat represif, korupsi yang terus berulang tanpa jera.

*Mengapa Rakyat Begitu Marah?*

Jawabannya jelas dan telanjang:

1. Rakyat merasa dikhianati. Mereka patuh membayar pajak, tetapi uangnya untuk memperkaya penguasa.

2. Rakyat diperlakukan tidak adil. Suara mereka dibungkam dengan gas air mata, bahkan tubuh mereka dilindas roda aparat.

3. Rakyat kehilangan kepercayaan. Hukum hanya tajam ke bawah, tumpul ke atas.

4. Rakyat tertekan ekonomi. Saat dapur tidak mengepul, sementara elite menambah fasilitas, maka kesenjangan jadi bara api.

Maka ketika rakyat turun ke jalan dengan ekspresi keras, vulgar, bahkan anarkis, itu bukan sekadar emosi. Itu adalah mosi tidak percaya. Itu adalah tanda nyata bahwa negara telah gagal memberi rasa adil.

*Epilog: Ajula, Alarm Nurani Bangsa*

Agustus 2025 kini tercatat sebagai Jumat Kelabu. Darah Affan Kurniawan bukan sekadar tragedi personal, melainkan simbol luka kolektif bangsa.

Namun pertanyaannya adalah:
Apakah darah itu akan mengering sia-sia di aspal Senayan, ataukah menjadi tinta merah yang menuliskan babak baru sejarah bangsa?

Negara kini berada di persimpangan. Jalan arogan akan semakin menjauhkan penguasa dari rakyat. Jalan rendah hati, sebaliknya, akan merangkul rakyat kembali.

Sejarah universal mengajarkan bahwa bangsa hanya tegak jika keadilan menjadi nafasnya.

Jika negara gagal melindungi rakyatnya, maka rakyat akan menciptakan hukumnya sendiri. Dan saat itu terjadi, negara bukan lagi rumah, melainkan penjara.

Ajula adalah alarm. Alarm nurani, alarm sejarah, alarm kemanusiaan. Bahwa tanpa keadilan, bangsa ini hanya menunda kehancuran.

*Analisis Krisis tentang Penyebab Ajula:*

*Kebijakan elitis yang tidak peka.

*Pola aparat yang represif.

*Krisis ekonomi yang menekan rakyat kecil.

*Korupsi sistemik tanpa penindakan tegas.

*Analitis Kritis tentang Ciri-ciri Ajula’:*

*Turunnya kepercayaan publik.

*Aksi massa destruktif.

*Menguatnya hukum jalanan.

*Dampak:*

^Negara menghadapi delegitimasi politik.

*Rakyat merasa tercerabut dari negaranya sendiri.

*Potensi disintegrasi sosial semakin nyata.

*Jalan Keluar sebagai Rekomendasi Solutif*

1. DPR RI harus segera membatalkan kenaikan tunjangan perumahan, sebagai simbol keberpihakan pada rakyat.

2. Kapolri wajib bertanggung jawab, secara moral maupun politik. Bila perlu, mundur adalah bentuk penghormatan kepada rakyat.

3. Pemerintah Pusat dan Daerah harus mengevaluasi kebijakan yang memberatkan rakyat, memperkuat program kesejahteraan nyata, bukan seremonial.

4. Presiden dan lembaga negara tidak boleh hanya menyampaikan belasungkawa. Mereka harus bertindak dengan memberi kompensasi, menghukum pelanggar, melakukan reformasi nyata.

5. Polri harus mengubah pendekatan. Dari represif ke persuasif, dari arogansi ke humanisasi.

6. Pemerintah harus menghukum koruptor secara adil, bahkan merampas aset untuk kebutuhan mendesak rakyat.

7. Masyarakat perlu menumbuhkan kembali nasionalisme dan kenegarawanan, agar protes menjadi energi koreksi, bukan sekadar amarah yang melahirkan anarki.

*Peristiwa Jumat Kelabu ( Ajula) Bukan Tragedi Insidental, Melainkan Refleksi untuk Pembenahan*

Agustus yang mestinya menjadi bulan kemerdekaan telah tercoreng oleh luka dan darah rakyat.

Peristiwa Jumat Kelabu bukan sekadar tragedi insidental, melainkan cermin retaknya keadilan dan renggangnya hubungan negara dengan rakyatnya.

Kemarahan yang meledak adalah suara nurani kolektif bangsa, sebuah peringatan keras bahwa tanpa keberpihakan nyata kepada rakyat, negara hanya akan kehilangan legitimasi.

“Ajula” mengingatkan kita bahwa sikap tergesa-gesa, baik oleh pemerintah, aparat, maupun rakyat, hanya akan melahirkan luka baru. Yang dibutuhkan bangsa ini bukan arogansi, melainkan kesabaran, kebijaksanaan, dan keberanian menegakkan keadilan.

Jika keadilan ditegakkan, maka negara kembali menjadi rumah. Jika tidak, maka sejarah akan mencatat, bangsa ini runtuh oleh ulahnya sendiri.

Karenanya insiden ‘Ajula , hatus menjadi introspeksi dan evaluasi kolektif bangsa ini , sebagai bentuk refleksi kesadaran untuk melakukan pembenahan dari waktu ke waktu setiap saat.

*Doa Memohon Perlindungan dan Inayah Kepada Sang Khaliq*

اللَّهُمَّ اجْعَلْ بَلَدَنَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، مَحْفُوظًا بِالْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ، وَأَلْهِمْ وُلَاةَ أُمُورِنَا الْحِلْمَ وَالْحِكْمَةَ، وَابْعِدْ عَنَّا الْعَجَلَةَ الَّتِي تَجْلِبُ الْفِتَنَ وَالْفَسَادَ.
اللَّهُمَّ ارْحَمْ شُهَدَاءَنَا، وَاجْبُرْ قُلُوبَ أَهْلِهِمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَةَ شَعْبِنَا عَلَى الْحَقِّ وَالْعَدْلِ وَالسَّلَامِ.

“Ya Allah, jadikanlah negeri kami negeri yang aman dan tenteram, terjaga dengan keadilan dan kasih sayang. Ilhamkan kepada para pemimpin kami sikap sabar dan bijaksana, serta jauhkan kami dari sikap tergesa-gesa yang hanya menimbulkan fitnah dan kerusakan.

Ya Allah, rahmatilah para syuhada kami, kuatkan hati keluarga mereka, dan satukanlah rakyat kami dalam kebenaran, keadilan, dan perdamaian.”

#Wallahu A’lam Bis-Sawab🙏*MK*

*SEMOGA BERMANFAAT*
*Al-Fakir. Munawir Kamaluddin*

Facebook Comments Box