Saya Senang PBNU Konflik..

 Saya Senang PBNU Konflik..

“Saya senang PB NU konflik seperti sekarang ini….,” kata Ilul membuka percakapan sore dengan kopi yang masih mengepul.

“Lho, kok senang? Kamu memang sentimen, ya, sama NU. Dasar Wahabi, kamu!!!” sergah Ifudh nggak sabar. Maklum Ifudh lama nyantri di Yanbu’ul Quran, Kudus. Tentu saja, rasa cemburunya bila NU disudutkan, cepat saja dia naik darah.

“Saya belum selesai ngomong, kamu uda sewot. Tunggu dulu, Gus, saya lanjutkan.,” ujar Ilul, sambil mesem-mesem kepada sahabat satu muraja’ahnya tahfidh-nya itu dulu sewaktu zaman mahasiswa, yang juga merupakan putra seorang Kyai biasa-biasa saja di pelosok Banyuwangi.

Ifudh memang sejak dulu selalu jengkel sama Ilul, yang menurut kesan Ifudh, pandangan dan sikap Ilul sejak mereka sama-sama satu kos saat jadi mahasiswa di Ciputat, sudah menampakkan kesan tidak respect pada NU. Padahal sebenarnya tidak juga. Tapi kadang-kadang benar juga.

“Kamu tidak suka NU, tidak masalah. Tapi menyatakan sikap tidak suka di hadapan saya, itu tidak bisa saya terima. Kamu tahu, aku kini Ketua Tanfidziyah di wilayah ini,” kata Ifudh. “Saya akan membeladiri,” tambahnya.

“Ya…ya…ya…ya. Jangan suudzdzon dulu, Cak. Maksud saya…., dengan gemparnya berita konflik PB NU, banyak orang jadi ikut nimbrung. Dari yang NU kayak kita, maupun yang bukan. Kan justru bagus buat Jam’iyyah?” jawab Ilul mengetuk pintu logika sahabatnya itu. Ilul paham, Ifudh merupakan tipe santri NU 24 karat. Seluruh rangkaian dan fase belajarnya, melulu di lingkungan yang dipengaruhi pandangan dan tradisi NU yang kental. Apalagi dia sekarang sudah Ketua Tanfifziyah pula di tingkat Kabupaten. Sedang dirinya, hanya sempat 6 tahun menimba ilmu di Pesantren NU yang kurang terkenal. Tapi ya…tetap NU. Qunut, tahlilan, maulidan, Aswaja, Nahwu Shorof pakai kitab Jurumiyyah, Matan Bina, Kawakib, dan seterusnya. Fikhnya Fathul Qorib hingga Fathul Mu’in. Belajar Balaghah, Qawaid Fiqh, dan entah apa lagi. Saking lamanya tidak buka-buka Kitab Kuning, dia pun sudah lupa. Yang tiap hari di kepalanya, besok sebelum subuh, dia harus sudah selesai belanja sayur mayur di Pasar Induk Cibitung. Sebab, pagi-pagi sekali, dagangan sayurnya sudah harus pamer di hadapan ibu-ibu kompleks yang hobi belanja di tempatnya. Maklum, sayur mayur Ilul terkenal segar, bagus mutunya, tapi murah pula. Pendek kata, biar pun Ilul sebenarnya bagian organik dari Jam’iyyah NU, tapi dia tentu tidak lagi seperti Gus Ifudh, sahabatnya itu.

“Bagusnya apa, coba?” debat Ifudh, terkait konflik PBNU itu.

“Bagusnya ya…banyak yang kasih ide dan kritik ke NU. Coba saja lihat di medsos. Ide dan kritik itu, kalau ditampung dan diolah, bisa menjadi tambang solusi yang berharga bagi pengembangan NU. Lain itu, sedikit banyak, orang makin hirau dan perhatian dengan NU,” katanya santai. “Itu suatu kesempatan yang manis untuk mengelola propoganda Aswaja biar lebih hit dan hot. Asal saja konflik PBNU itu dapat dikendalikan bagaikan drama yang berakhir manis dan memuaskan,” tambahnya. “Tapi ya tergantung elit-elit Jam’iyyah itu,” pungkasnya.

Mereka memang sengaja ngopi-ngopi sore itu, karena sudah agak lama tidak ngalor-ngidul sebagaimana kebiasaan mereka berdua sejak zaman mahasiswa. Sekarang takdir masing-masing di antara mereka, berbicara lain. Yang satu, Ifudh, jadi dosen STAI ukuran kecil di Kabupaten tempat mereka sama-sama tinggal, lalu lama kelamaan jadi Ketua PC NU. Sedangkan Ilul, gonta-ganti usaha dan pekerjaan, dari Guru Ngaji hingga Sales Property, akhirnya mentok menjadi tukang sayur. Sekarang lumayanlah, warung sayur mayurnya membesar. Kalau hanya bayarin Ifudh ngopi-ngopi sepuas-sepuasnya di Warmindo, bagi Ilul mah, itu enteng. Seenteng ngangkat dua buah tomat. Tiap hari omset Ilul 4 jutaan.

“Lul, lu kan sudah makmur, nih. Mau jadi Wabendum, nggak? Tapi nanti, bukan sekarang. Pas setelah Konfercab akan datang,” Ifudh mengalihkan isu percakapan mereka.

Ilul tudak merespon tawaran sahabatnya itu. Dia cuma membungkukkan tengkuknya untuk menjangkau gelas kopi hitam pait di tangannya yang terangkat.

Sore itu, mereka menyelesaikan waktu senggang mereka di hari minggu itu dengan hambar dan tanpa orientasi yang jelas. Hanya sekedar ngopi dan bahas isu NU yang lagi hangat, dengan tanpa suatu deal apapun: apakah Ilul bersedia jadi calon wabendum atau tidak, atau pun sudut pandang Ilul, sudah dapatkah mempengaruhi cara pandang Ifudh terkait serangan netizen terhadap kisruh NU.

Mereka berdua melongos pergi meninggalkan Mbak-mbak Warkop yang sensual, yang kadang-kadang Ifudh tidak sanggup juga untuk tidak curi-curi pandang, walaupun peci hitamnya sudah kegerahan dengan perbuatan tuannya itu. Namanya juga laki, pernah pengalaman bermain cantik di masa mahasiswanya, jadi ya begitu.

“Maklum sajalah,” batin Ilul. Soalnya dia juga sama.

~ Mas Kusnandar, pengamat tradisi

Facebook Comments Box