Jauh, Indonesia Bukan Proyek Negara Idealis Seperti Halnya Iran atau Israel
Kalimat sederhana apa yang dapat menggambarkan kenyataan Indonesia? Ini penting, supaya reaksi dan respons terhadap kenyataan menjadi masuk akal, dan tidak termanipulasi oleh pihak eksploitator politik dan ekonomi. Khususnya kepada kaum muda yang terlalu banyak dijejali doktrin dan informasi yang membingungkan, kalau bukan menyesatkan.
Begini. Indonesia dapat kita ukur dari partai-partai dan kandidat-kandidat penguasa yang bersaing merebut kuasa dan kendali Indonesia. Partai-partai dan kandidat-kandidat itu hanya berpikir bagaimana merebut dukungan dari kekuatan asing seperti Amerika dan China meski harus cari muka dan menjanjikan kepastian konsesi yang ditukarkan dengan dana, jaringan, keahlian dan back up politik hingga bantuan militer. Para kandidat dan elit-elit partai yang mengejar kekuasaan lingkup nasional ini, memolesnya dengan istilah keamanan regional atau apalah dan pertumbuhan yang ditopang investasi asing. Sedangkan ke dalam negeri, mereka membumbuinya dengan efek pertumbuhan dan investasi yang dapat mengatasi pengangguran, daya serap tenaga kerja dan iklim investasi yang kompetitif dengan Vietnam, atau kalau mau membual lebih tinggi, terhadap China.
Singkatnya, hakikat negara ini ialah kita dikontrol dan diatur oleh elit-elit jual muka kepada asing demi mencapai tujuannya untuk menguasai Indonesia, tanah airnya, wilayahnya, penduduknya hingga birokrasinya. Kita terus-terusan terjebak dengan kegetiran ini, tanpa koreksi apalagi revolusi.
Bagi asing, tentu kenyataan yang mereka pandang menguntungkan dan ironis ini, menarik untuk dieksploitasi. Ibarat seorang budak yang datang sendiri menyerahkan diri kepada calon majikan untuk diperlakukan bagaimana pun, demi segepok uang dan kedudukannya yang terjamin di hadapan keluarganya.
Suatu ketika demi mencari muka kepada Amerika Serikat, SBY berkata pada 2003 di International Herald Tribune, “I love the United State, with all faults. I consider it my second country.” Saya mencintai Amerika, bahkan dengan segala kesalahannya. Saya manganggap Amerika adalah negara kedua saya.
Jokowi bagaimana? Jokowi mengalamatkan cari mukanya ke China. Dia menyatakan China adalah saudara tua. Mungkin hanya Soekarno yang tidak suka mengobral jilatan kepada pihak asing, tapi akibatnya kita tahu kemudian.
Sifat krusial dan mengakar dari elit-elit politik Indonesia ialah menjilat dengan harga dan konsesi apapun, bahkan harus mengorbankan rakyat dan bangsanya sendiri. Dan ini merebak ke berbagai tingkatan dan peristiwa.
Kenyataan inilah yang membuat Indonesia berada senantiasa dalam kondisi tereksploitasi secara simultan, baik oleh asing, aktor-aktor lokal, hingga agak sulit membayangkan Indonesia mampu bergeser layaknya Iran apalagi China.
Bhre Wira, penduduk lokal Indonesia yang kerap ke Bogor