Apa Saja yang Sudah Dicapai oleh Amerika Saat Ini Sebelum Penyerangan terhadap Iran?

 Apa Saja yang Sudah Dicapai oleh Amerika Saat Ini Sebelum Penyerangan terhadap Iran?

Kita tidak usah menilai Amerika dari sudut pandang moral dan kemanusian terkait kampanyenya untuk meruntuhkan negara Iran. Karena memang sama sekali bukan soal moral, tapi soal ekonomi dan kekuasaan.

Selama Amerika melancarkan kampanye perang terhadap Iran, beberapa daftar berikut sudah diperolehnya:

1. 25 Negara menyatakan dukungan kepemimpinan AS dengan label proyek dan blok Dewan Perdamaian Dunia. 25 negara ini rak ubahnya anak buah AS.

Mereka adalah Albania, Argentina, Armenia, Azerbaijan, Bahrain, Belarusia, Bulgaria, Mesir, Hungaria, Indonesia, Israel, Jordania, Kazakhstan, Kosovo, Kuwait, Mongolia, Moroko, Pakistan, Paraguai, Qatar, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab Emirat, Uzbekistan, dan Vietnam.

Uniknya, Malaysia, Iran, dan Afghanistan, tidak dilayangkan undangan oleh Trump. Padahal China, Rusia, Singapura, Korea Selatan, Jepang, dan Australia saja diundang untuk bergabung, namun belum ditanggapi. Sementara Prancis, Inggris, Italia dan Jerman menolak. Ganjil sekali, Indonesia justru terburu-buru bergabung dan bersedia pula membayar keanggotaan seharga hampir 17 triliun. Tentu jika berdasarkan logika kebutuhan objektif nasional Indonesia, tidak perlu terburu-buru bergabung, apalagi badan ini dikepalai seorang Trump yang langkah-langkahnya tidak dapat dipercaya.

2. Telah berhasil memaksa Venezuela dalam kendali Amerika setelah menculik Presiden Maduro secara demonstratif tanpa perlawanan internasional.

3. Berhasil mengubah aturan permainan baru dalam hubungan internasional yang tidak lagi saling menghargai, berbasis aturan, menghormati norma dan hukum internasional, berganti menjadi berdasarkan deal, tekanan sepihak oleh Trum dengan modus eksploitasi tarif perdagangan sehingga negara yag ditargetkan oleh Amerika hanya tersedia dua pilihan: patuh, berunding secara tidak setara, atau hukuman.

4. AS telah mengubah peta Timur Tengah dimana sekarang, Suriah telah berubah menjadi negara yang lemah dan tidak berdaya di hadapan Israel dan Amerika.

5. Banyak pemimpin rezim di negara-negara Timur Tengah dan tentu saja seperti Indonesia, dihantui operasi yang dilakukan oleh AS di Venezuela dan Iran sekarang ini. Ketakutan yang berdampak paranoid inilah yang paling ditakutkan oleh pemimpin-pemimpin yang negaranya rentan, tidak solid, dan legitimasi pemimpinnya tidak meyakinkan.

Oleh karena itu, Iran yang tengah menghadapi momen genting saat ini berupa teror, intimidasi dan kepungan AS, Israel dan Inggris, sebenarnya merupakan pertaruhan hidup mati bagi Iran, tapi juga berpotensi makin merentankan rezim-rezim di seluruh dunia. Harusnya tidak saja China yang sepatutnya memback up Iran, tapi seluruh dunia yang tidak sudi masuk secara terpaksa pada fase dunia yang didikte secara sesukanya oleh Trump. Turut andil mengalahkan Trump, baik di dalam negerinya maupun menyeret AS dalam perang asimetris secara simultan di seluruh dunia, dapat dilakukan tanpa ragu. Masalahnya, ini bukan soal Amerika. Tapi tampaknya terkandung misi ideologis zionisme untuk menyiapkan transisi dan transformasi besar membawa eksistensi dan kedudukan Israel sebagai penentu peta dan arah Timur Tengah. Saat ini, sandungannya cuma Iran, ormas-ormas seperti Hizbullah dan Hauthi, sisanya hanya rezim monarki dan militer yang rapuh di hadapan AS.

Umat Islam Indonesia sudah sepatutnya mengantisipasi keadaan yang sudah berubah ini dengan menyiapkan tenaga defensif (pasukan pertahanan) sendiri, terlatih dan siap mobilisasi. Karena belum tentu di masa depan yang serba berubah cepat ini, tenaga pertahanan dan keamanan yang ada dapat sepenuhnya diandalkan untuk membela diri umat Islam yang memang sudah lemah dan tidak siap. Saya kira, tidak perlu ragu mengambil tindakan ke arah tersebut, supaya tidak mati konyol dan dikendalikan pihak lain yang tidak punya ikatan emosional terhadap umat Islam.

Bhre Wira

Facebook Comments Box