Ceramah Berdampak vs Ceramah Menghibur: Antara Transformasi Nilai dan Sensasi Emosi
Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)
Ada ceramah yang membuat orang pulang dengan tawa, ada tausiyah yang meninggalkan rasa ringan di dada, ada majelis yang riuh oleh gelak, ramai oleh suara, penuh oleh sorak emosi yang menyenangkan.
Tetapi selalu ada satu pertanyaan yang diam-diam mengetuk nurani: apa yang sebenarnya tersisa setelah semua itu selesai?, apakah yang pulang hanya senyum, atau juga kesadaran?, apakah yang terbawa hanya rasa senang, atau juga perubahan? , apakah yang tertinggal hanya kenangan lucu, atau juga tekad untuk hidup lebih baik?.
Di titik itulah garis halus mulai tampak, garus yang memisahkan antara ceramah yang menghibur dan ceramah yang menghidupkan. Antara dakwah yang memanjakan emosi dan dakwah yang membangunkan jiwa, suara yang menyenangkan telinga dan pesan yang menggetarkan hati.
Sebab dakwah sejatinya bukan seni mengundang tawa, tetapi seni membangunkan kesadaran. Ia bukan sekadar membuat orang betah duduk, tetapi membuat mereka berani berubah. Ia bukan hanya menghidupkan suasana, tetapi menghidupkan nurani.
Al-Qur’an tidak pernah turun untuk menghibur manusia, tetapi untuk membangunkan manusia. Ia datang bukan sebagai lagu penenang, tetapi sebagai cahaya penggetar. Bahkan Allah sendiri menggambarkan daya guncangnya dengan bahasa yang sangat dalam:
لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّهِ
“Seandainya Al-Qur’an ini diturunkan kepada gunung, niscaya engkau akan melihatnya tunduk dan terpecah karena takut kepada Allah.”
(QS. Al-Hasyr: 21)
Jika wahyu saja mengguncang gunung, maka bagaimana mungkin dakwah yang lahir dari wahyu hanya bertujuan menghibur hati manusia?
Maka Al-Qur’an menegaskan bahwa fungsinya adalah membangunkan yang hidup jiwanya:
لِيُنذِرَ مَن كَانَ حَيًّا
“Agar memberi peringatan kepada orang yang hidup (hatinya).”
(QS. Yasin: 70).
Yang hidup di sini bukan tubuh, tetapi qalbu, bukan fisik tetapi kesadaran. Maka dakwah sejati selalu bekerja di wilayah batin, bukan sekadar di permukaan emosi.
Rasulullah SAW. sendiri tidak mendefinisikan risalahnya sebagai hiburan spiritual, tetapi sebagai proyek transformasi moral umat manusia. Beliau bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
(HR. Ahmad).
Artinya, tujuan dakwah bukan membuat orang nyaman, tetapi membuat orang berubah, bukan membuat orang senang, tetapi membuat orang tumbuh, bukan membuat orang terhibur, tetapi membuat orang bertobat, berbenah, dan bertanggung jawab.
Sebab perubahan sejati selalu lahir dari kesadaran, bukan dari sensasi. Maka Allah menegaskan hukum sosial yang sangat mendalam:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka.”(QS. Ar-Ra‘d: 11).
Dakwah yang hanya memproduksi tawa tidak pernah mengubah diri. Ia hanya mengubah suasana. Ia hanya menggeser perasaan, bukan membangun kepribadian. Ia hanya menghibur jiwa, bukan menyembuhkan luka batin.
Padahal Rasulullah SAW. mengingatkan bahwa pusat perubahan manusia ada di dalam hati:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً… إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ
“Dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Umar bin Khattab RA. pernah berkata bahwa kebaikan bukan pada banyaknya hal yang terlihat, tetapi pada kualitas yang tumbuh di dalam:
وَلَكِنَّ الْخَيْرَ أَنْ يَكْثُرَ عِلْمُكَ، وَأَنْ يَعْظُمَ حِلْمُكَ
“Kebaikan itu adalah bertambahnya ilmumu dan besarnya kelembutan akhlakmu.”
Ali bin Abi Thalib RA. bahkan lebih tajam lagi:
هَتَفَ الْعِلْمُ بِالْعَمَلِ، فَإِنْ أَجَابَهُ وَإِلَّا ارْتَحَلَ
“Ilmu memanggil amal. Jika amal menjawab, ilmu akan tinggal. Jika tidak, ilmu akan pergi.”
Maka ceramah sejati selalu melahirkan sesuatu yang dibawa pulang, bukan hanya perasaan, tetapi kesadaran, bukan hanya kenangan, tetapi perubahan, buka hanya kesenangan, tetapi tanggung jawab.
Dakwah yang benar mungkin tidak selalu menyenangkan, tetapi ia menyelamatkan, mungkin tidak selalu membuat tertawa, tetapi ia menghidupkan, mungkin tidak selalu populer, tetapi ia membangun manusia.
Imam Al-Ghazali berkata dengan sangat sederhana namun dalam:
لَيْسَ الْعِلْمُ مَا حُفِظَ، بَلْ مَا نَفَعَ
“Ilmu bukan yang dihafal, tetapi yang memberi dampak.”
Dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah menegaskan:
الدِّينُ كُلُّهُ خُلُقٌ
“Agama seluruhnya adalah akhlak.”
Maka di sanalah perbedaan itu menjadi nyata, antara ceramah yang hanya menghibur sesaat dan ceramah yang membentuk kehidupan, antara dakwah yang ramai di majelis dan dakwah yang hidup dalam perilaku, antara panggung emosi dan jalan transformasi, antara hiburan spiritual dan cahaya peradaban.
Sebab ceramah yang benar bukan yang membuat orang tertawa pulang, tetapi yang membuat mereka pulang dengan hati yang lebih takut kepada Allah, jiwa yang lebih lembut, akal yang lebih jernih, dan hidup yang perlahan berubah ke arah yang lebih baik. Itulah dakwah.
Bukan sekadar suara di mimbar, tetapi cahaya di dalam jiwa, bukan sekadar tontonan spiritual, tetapi perjalanan kesadaran, bukan sekadar hiburan rohani, tetapi proyek peradaban manusia.
Sehingga dengan demikian, maka dakwah yang benar mungkin tidak selalu menyenangkan,tetapi ia menyelamatkan, mungkin tidak selalu membuat tertawa,tetapi ia menghidupkan, mungkin tidak selalu populer,tetapi ia membangun manusia.
Karena dakwah sejati tidak bermain di permukaan emosi,tetapi bekerja di kedalaman jiwa, tidak berhenti di reaksi,tetapi tumbuh menjadi transformasi.
Dan di sanalah perbedaannya terasa, antara ceramah yang hanya menghibur sesaat,dan ceramah yang membentuk kehidupan.
#Wallahu A’lam Bish-Shawab