OPINI : HMI Menguggat !

 OPINI : HMI Menguggat !

 Oleh : 
Saifuddin al-mughniy*

Bertanyalah berapa besar yang engkau perbuat buat HMI,
Dan janganlah engkau bertanya berapa besar HMI berikan kepadamu

HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)  yang dilahirkan tanggal 5 Februari 1947 oleh Lafran Pane, adalah menjadi keberanian sejarah, sebab latar belakang munculnya pemikiran dan berdirinya HMI, akan selalu paralel dengan kenyataan historis didalam élan kehidupan bangsa dan negara ini. Sebab munculnya suatu pemikiran seperti ini sangat di ilhami oleh realitas dan setting sosial, politik, ekonomi, budaya, pendidikan dan kondisi pemikiran keagamaan dalam hal ini agama Islam. Sebagaimana Karel A. Steenbrink mengungkapkan bahwa menulis suatu kitab atau mencetuskan secuil pemikiran merupakan proses komunikasi terhadap dan proses ekspresi bagi penulisnya dengan -lingkungan di mana ia berada. Begitu pula dengan kemunculan HMI sebagai organisasi yang berbasis ke-Islaman dan mentor gerakannya adalah mahasiswa yang lahir ditengah lingkungan politik kebangsaan yangsangat tidak menentu.

HMI yang lahir di tengah kondisi sosio-politik yang tidak menentu belum lagi adanya situasi bangsa akibat penjajah kolonialisme Jepang dan Belanda yang menjajah Indonesia sekitar 350 tahun lamanya. Suatu rentan waktu yang tidak begitu singkat dalam situasi terjajah. Maka dengan semangat ijtihadi dan ikhtiar yang dibarengi dengan jiwa nasionalisme, HMI muncul dengan stimulasi kemerdekaan, sekalipun awal lahirnya HMI diterpa berbagai macam sorotan dan kritik yang tidak sedikit termasuk dari elemen gerakan mahasiswa, katakanlah seperti PMY (Persatuan Mahasiswa Yogyakarta) yang berbasis sosialisme, dan kelompok-kelompok yang lain seperti ekses Partai Komunis Indonesia bahkan PKI memintakepada Soekarno untuk membubarkan HMI.

Tetapi lahirnya HMI bukan hanya sekedar bagaimana melakukan counter opini terhadap gerakan mahasiswa yang antipati terhadap eksistensi HMI yang berbasis ideologi Islam. Memang sebuah ancaman bagi gerakan sosialisme-komunis, sebab munculnya HMI dengan power mahasiswa Islam akan memberikan pengaruh dalam pergerakan sosialisme-komunis yang saat itu telah mempengaruhi sistem kekuasaan yang ada.

Maka dengan demikian untuk menyimak perjalanan panjang bagi HMI sebagai organisasi kader di tengah arus globalisasi politik dunia, dan gonjang-ganjing politik nasional tentunya keterlibatan alumni dan kader HMI tidak lagi dapat disangsikan. Bahkan terkadang ada statetment yang mengatakan bahwa kehancuran bangsa ini juga  HMI harus bertanggungjawab. Itu menandakan bahwa peran HMI dalam konteks politik nasional begitu besar. Jatuhnya Rezim Orde Lama dan bertahannya Orde Baru bahkan jatuhnya Rezim Orde Baru juga adalah buah pemikiran dari HMI.

Maka menurut saya, inilah peran dan fungsi HMI yang dimainkannya. Sejalan dengan tujuan HMI itu sendiri, sebagai insan akademis, pencipta, pengabdi, tentu dengan filosofinya ini akan semakin memberikan ruang dan gerak bagi HMI dalam mengakseskan diri dalam event-event politik yang ada. Basis kekuatan HMI sebagai organisasi kader semakin hari mengalami perkembangan dalam terma politiknya sekalipun dalam kurun waktu ini HMI tertampar akbibat beberapa kader terbaiknya yang lahir dari rahim HMI terkena korupsi. Tetapi ini adalah realitas yang tak boleh terbantahkan dimana HMI harus menjadi bagian terpenting untuk mengambil langkah startegi untuk dan atas nama nurani dan kebangsaan, sehingga HMI secara cultural tidak hilang dipanggung belantara politik. HMI yang berbasis power kampus akan memudahkan untuk membangun kerangka intelektualitas didalam mendorong ide-ide dasar demi kepentingan organisasi, bangsa-negara, masyarakat dan ummat Islam.

Tradisi Intelektual

HMI di dalam menapaki perjalanan sejarah yang begitu panjang itu sudah barang tentu dalam perjuangan dan gerakannya didasarkan pada Nilai Dasar Perjuangan (NDP). Namun dalam perjalanan sejarah berikutnya HMI diterpa berbagai macam kritik baik itu bersumber dari alumni, kader, simpatisan maupun des rival politiknya. HMI yang dekatdengan kekuasaan bukan berarti tidak nati korupsi dan segala macam atribut penyelewengan negara, sebab HMI sebagai lembaga kader tentu diajarkan nilai-nilai cultural, keindonesiaan, kebangsaan serta keislaman yang menjadi dasar perjuangannya.

Dan bias kita lihat bagaimana kader dan tokoh HMI sekaliber Abdullah Hehamahuha salah satu penggagas terbentuknya KPK dan teraus komitment dengan gerakan anti korupsi, Hamdan Zoelva, Yusril Ihza Mahendra, AkbarTandjung, M. Yusuf Kalla, dan beberapa tokoh lainnya yang sulit disebut satu persatu, dimana HMI telah mengisi dihampir semua jargon kekuasaan di bangsa ini.

Saat ini lembaga yang sering disebt dengan Hijau Hitam ini kembali tersorot dengan pernyataan seorang Komisioner KPK Saut Situmorang dalam sebuah acara di TV One tanggal 5 Mei 2016 dengan topik “ Harga Sebuah Perkara “ secara sadar beliau mengungkapkan bahwa kader HMI LK I itu kalau sudah jadi pejabat Korupsi dan sangat jahat, sesungguhnya pernyataan ini sangat tendensius dan politis sebab merujuk pada satu institusional yakni HMI. Generalisasi statement tersebut tentu sangat sangatsulit untuk diterima secara rasional, sangat tidak etis dan tidak mencerminkan sosok negarawan yang baik.

Pernyataan ini tentunya mengundang berbagai reaksi dari KAHMI, HMI dan kader serta simpatisan Gerakan Mahasiswa lainnya seperti PII, IMM dan beberapa elemen lainnya, belum lagi pernyataan dari tokoh-tokoh nasional, seperti Prof. Dr. Din Syamsuddin (Mantan Ketua PP Muhammadiyah), Jenderal Moeldoko (Mantan Panglima TNI AD) yang juga menganggap bahwa Sait Situmorang telah ceroboh dalam penrnyataannya.

Sehingga KAHMI dan Kader HMI di seluruh Indonesia mengambil sikap sebagai bentuk menjaga integritas HMI, dan sebagai bentuk melanjutkan tradisi intelektual dan gerakan dalam proses politik di negeri ini. Padahal kalau kita ingin membaca sejarah bangsa, Jenderal Soeharto (mantan presiden RI kedua) begitu menghargai HMI sebab beliau paham sejarah. Bahkan Jenderal A. Nasution menjadikan HMI sebagai perisai ketika menghadapi PKI saat itu. Saya kira Saut Situmorang luput dari pembacaan sejarah. Kalau pun sebagian orang menganggap HMI merespon dengan aksi demonstrasi itu sesungguhnya adalah bentuk melanjutkan tradisi intelektualisme dan gerakan HMI sebagai lembaga yang memiliki integritas kebangsaan, keindonesiaan dan keislaman.

Sehingga sangat diharapkan HMI semakin memunculkan aura gerakannya ditengah hiruk-pikuknya politik di bangsa ini. HMI hendaknya semakin diharapkan untuk terus melakukan upaya strategik guna mengembalikan eksistensi kebangsaan, keindonesiaa dan keummatan. Saya kira ini yang terpenting untuk kita jaga sebagai kader yang pernah lahir dari rahim suci Himpunan Mahasiswa Islam. Dan paling tidak dengan kondisi ersebut HMI akan menenmukan marwah gerakannya sebagai kelompok pressure group di bangsa ini.

Minimal gerakan tersebut akan memperkuat eksistensi HMI sebagai lembaga kader yang terus mengawal agenda-agenda perubahan di bangsa ini, dan memelihara KPK sebagai institusional yang terus memiliki komitment untuk melakukan pemberantasan korupsi. Sebab apa yag dilakukan oleh kader HMI hari ini terkait pernyataan Saut Situmorang, memunculkan berbagai macam nada miring baik itu dari kalangan HMI maupun non HMI. Di media social banyak orang yang secara sinis bertanya bagaimana sikap HMI kalau kadernya banyak yang dipenjara akibat Korupsi ? pertanyaan ini sesungguhnya cukup menampar wajah HMI, tetapi saya ingin mengatakan kalau kader HMI yang melakukan korupsi, HMI tidak harus pasang badan untuk membelanya, karena pelibatan itu hanya secara personal bukan membawa nama HMI sekalipun ia kader, sangat berbeda ketika seseorang mencaci atau memfitnah satu lembaga termasuk HMI oleh Saut Situmorang saat ini. Dan saya kira hamper semua juga lembaga memiliki naluri untuk tersinggung ketika institusi tersebut dihina atau di fitnah.

Oleh sebab itu, kondisi ini sedapat mungkin ditemukan hikmah di dalamnya, pertama, HMI semakin memiliki integritas dan komitmen yang kuat terhadap tradisi intelektual dan gerakannya. Dan KPK semakin konsen terhadap isu pemberantasan korupsi di negeri. HMI tetap berharga, dan KPK tetap terhormat. ***penuh harap***

Jakarta, 9 Mei 2016

Saifuddin Al Mughniy
Pengurus KAHMI Sulsel
Sekjen Forum Rakyat Indonesia
Anggota Forum Dosen Makassar
Peniliti di LKiS Institute
OGIE insttute Research and Political Development

Digiqole ad

Berita Terkait