OPINI :Demokrasi Dipusaran Parokialisme

 OPINI :Demokrasi Dipusaran Parokialisme

Penulis : Saifuddin al mughniy*

POLITIK, Demokrasi dan Budaya merupakan tiga hal yang sangat sulit dipisahkan dalam fragmentasi politik. Politik yang menyuguhkan trust (kebajikan social) yang bertujuan mengatur sistem sosial melalui pendekatan regulasi dan kebijakan. Sementara Demokrasi tak cukup hanya dipahami sebagai pemerintahan rakyat (Demos-kratos), tetapi yang terpenting bahwa demokrasi haruslah dipahami sebagai suatu system (mindset) dalam proses politik yang berlangsung.

Demokrasi haruslah dipahami secara harfiah bahwa demokrasi adalah ajaran kemanusiaan (humaniter). Hal ini pernah di tegaskan oleh Francis Fukuyama ( baca : The end of history) yang mengungkapkan bahwa demokrasi itu adalah menjadi persoalan sejagad ummat manusia. Itu artinya bahwa demokrasi tak cukup disandingkan dengan orientasi politik tetapi paling tidak demokrasi selalu diasosiasikan dengan nilai kemanusiaan.

Perkembangan sejarah pemikiran Islam sampai runtuhnya Romawi dan kemudian menuju satu tatanan dunia yang kemudian disebut sebagai era quantum, dimana tidak ada lagi batas-batas kemanusiaan antara satu dengan yang lainnya. Dinding pembatas antara negara satu dengan negara lain semakin tak berjarak. Gelombang transformasi informasi yang digelindingkan oleh globaisasi nyaris menyurutkan terpinggirnya karakter, budaya, agama di pinggiran pasar dunia.

Realitas ini semakin membuktikan kepada kita, bahwa ambigu manusia terhadap kekuasaan kian semakin sulit untuk dibendung. Barang mewah Amerika seperti Demokrasi sudah sekian dasawarsa disuguhkan kepada banyak negara untuk dijadikan satu sistem tata kelola pemerintahan dan politik. Indonesia adalah salah satu negara yang secara praktis menjalankan sistem demokrasi sebagai pilihan politik nasional.

Nah, yang menjadi problem utama saat ini adalah antara politik dan demokrasi cendrung dibenturkan, sehingga terjadi pembonsaian makna tehadap esensi demokrasi yang sesungguhnya. Politik seringkali dicaci oleh sebagian orang, karena perilaku politik yang tidak memberikan nilai yang berarti bagi masyarakat, atau boleh jadi karena sebagian kecil para politisi kita terjerembab dalam kubangan korupsi sehingga menjadikan para politisi kehilangan kepercayaan terhadap pemilihnya.

Nyaris politik dibenci karena ketidakmampuan sebagian orang memahami politik yang sesungguhnya. Padahal kalau kita menjelajahi esesnsi politik itu yang sesungguhnya maka secara praksis regulasi dan kebijakan yang menjadi rumusannya akan dirasakan oleh masyarakat.

Fenomena Parokhialisme

Oleh sebab itu, dalam politik dan demokrasi faktor budaya adalah satu hal yang tidak bisa dinafikkan. Sebab budaya tak sekedar dipahami sebagai hasil karya, karsa dan cipta manusia. Tetapi budaya haruslah diterjemahkan secara terminology sebagai suatu karakter dan prilaku, dan dalam politik kehadiran budaya begitu penting. Menurut Gabriel A. Almond dan Verba dalam bukunya (The political Culture), dimana di dalam tesisnya ada salah satu tipikal budaya politik yang disebut dengan Parokhialisme.

Budaya politik parokhialis ini adalah salah satu budaya politik manggut-manggut (nurut) sekalipun itu sangat bertentangan dengan hati nurani. Dalam sejarah politik Indonesia modern parokhialisme telah menjadi bagian penting dalam proses politik di negeri ini. Perjalanan demokrasi dari Orde lama ke Orde baru hingga ke Era Reformasi yang sudah berusia 15 tahun ini, nyaris budaya parochial ini begitu tinggi prosentasenya.

Ciri utama dari parokhialisme ini adalah kepatuhan dan ketaatan tanpa alasan, dalam pengertian bahwa ketokohan seseorang begitu dijunjung, dihargai, disanjung bahkan dipuji walau sesungguhnya tokoh yang di idolakan itu tidak memiliki kemampuan ilmu maupun pemahaman tentang politik dan demokrasi. Tetapi karena tokoh tersebut dipandang dari garis keturunan adalah bangsawan maka tidak ada pilihan untuk tidak memilihnya.

Dan ini semakin nampak dipermukaan ditengah demokrasi. Demokrasi yang tidak menghendaki perbedaan suku, ras dan agama maupun golongan termasuk ikatan primordialisme, justru parokhialisme mencoba menyuguhkan itu. Dan ini juga sangat berpengaruh terhadap prilaku pemilih menjelang pesta demokrasi dilaksanakan baik itu Pemilukada Kabupaten/Kota, Provinsi, Pileg sampai kepada Pilpres apalagi menjelang Pemilu 2014 april mendatang ini.

Fenomena ini sulit untuk dibantah oleh karena lemahnya partai politik untuk melakukan pendidikan politik kepada rakyat. Kemudian belum lagi begitu apatisnya masyarakat terhadap perilaku politisi. Sehingga ini yang menyebabkan Demokrasi berada di pusaran Parokhialisme politik.

Saifuddin al mughniy
Analis Politik UVRI Makassar
Direktur Eksekutif LKiS Sulsel
OGIE institute Research and PoliticalDevelopment.

Digiqole ad

Berita Terkait