Puasa: Tanggung Jawab Pribadi dan Kemasyarakatan

Puasa: Tanggung Jawab Pribadi dan Kemasyarakatan

BERBAGI

Oleh: H. Arsul Sani, Wakil Ketua MPR RI, Sekjen PPP

Ramadan telah tiba. Ahlan ya Ramadan! Selamat datang, dan kami siap menyambutmu dengan melaksanakan siyam, tarawih, tilawatil Quran, zikir, serta mengisinya dengan pelbagai amal kebajikan bagi sesama. Itu semua dalam rangka menncapai derajat takwa, yang menjadi tujuan ibadah puasa itu sendiri. (Q.S. 2:183).

Dalam sebuah Hadis Qudsi Allah berfirman: “Semua amal seorang anak Adam (manusia) adalah untuk dirinya kecuali puasa, sebab puasa itu adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yang akan memberinya pahala.” Firman Allah yang disabdakan oleh Nabi s.a.w. ini mengisyaratkan akan hakikat ibadah puasa yang sifatnya pribadi atau personal. Dan bahkan ibadah ini merupakan rahasia antara makhluk dan Khaliknya. Tanpa seorang pun bisa mengawasi. Karena itu ibadah ini sangat erat kaitannya dengan makna-makna kejujuran, keikhlasan, ketulusan, yang menjadi tolak ukur kualitas kepribadian kita.

Puasa, dengan demikian, merupakan pusdiklat (pusat pendidikan dan latihan) akan adanya Tuhan yang selalu hadir mengawasi segala tingkah laku kita. Jika kita menyadari bahwa segala yang kita lakukan tidak bisa lepas dari pengawasan Allah, atau kita menginsafi bahwa Allah itu Maha Hadir, maka dengan sendirinya puasa yang kita jalankan akan membimbing kita ke arah tingkah laku yang baik dan terpuji, serta mencegah dari yang sebaliknya.

Mafhum mukhalafah atau pengertian kebalikannya, puasa merupakan latihan pengendalian diri dari hawa nafsu. Karena itu puasa disebut latihan perang melawan hawa nafsu. Rasulullah s.a.w. menyebut perang melawan hawa nafsu sebagai sebuah jihad. Ini dikatakannya sepulang dari Perang Badar melawan musyrikin Quraisy yang dimenangkan kaum Muslim.

“Kita kembali dari jihad kecil menghadapi jihad besar,” kata Nabi. “Apa yang dimaksud dengan jihad yang akan kita hadai itu?” tanya sahabat. “Berjihad melawan hawa nafsu,” jawab Nabi. Rasulullah mengingatkan bahwa pengumbaran hawa nafsu akan memalingkan manusia dari kebenaran (al-haqq).

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan keji (dusta) dan melakukan kejahatan (kepalsuan), Allah tidak akan menerima puasanya, sekalipun ia telah meninggalkan makan dan minm.” (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad. Dalam hadis lain dinyatakan, “banyak orang yang berpuasa tetapi tidak memperoleh apa-apa, kecuali lapar dan haus, dan banyak orang yang bangun di malam hari (sembahyang, berzikir), tetapi tidak memperoleh apa-apa selain berjaga malam.”

Tentu kita berharap puasa yang kita jalani akan melindungi kita dari perbuatan yang tidak patut seperti dusta itu. Dalam sebuah hadis dinyatakan, “Puasa adalah bagaikan perisai. Karena itu orang yang berpuasa hendaklah (menggunakan perisainya dan) mencegah diri dari hal-hal yang tidak patut. Jika seseorang mengejek dan mengajak bertengkar dengannya, hendaklah ia berkata: ‘Aku sedang berpuasa (dan jangan libatkan dalam perbuatanmu).”

Semua hal yang dikemukakan di atas merupakan hikmah puasa, khususnya yang berkaitan dengan tanggung jawab pribadi. Sebab, selain sisi yang bersifat personal itu, puasa juga memiliki dimensi sosial, yang bila kita letakkan sesungguhnya merupakan sisi lain dari koin yang sama.

Dalam berbagai hadis Rasulullah s.a.w. banyak memberi petunjuk kepada orang-orang yang berpuasa untuk melakukan kebajikan. Terutama dalam bentuk tindakan menolong untuk meringankan beban fakir, miskin, dan orang-orang yang terkena musibah melalui infak, sedekah, zakat, dan lain-lain. Sebagaimana diriwayatkan sebuah hadis, bahwa Rasulullah s.a.w. biasanya sangat dermawan selama bulan Ramadan. Tidak seorang pun pengemis yang kembali dari pintu rumahnya dengan tangan hampa, dan budak-budak pun memperoleh kemerdekaan mereka dari beliau. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa hikmah puasa juga untuk menanamkan solidaritas sosial.

Hemat saya, di tengah kehidupan kita yang memperihatinkan saat ini akibat pandemi corona, bulan Ramadan adalah merupakan momentum yang baik untuk mengembangkan solidaritas sosial, sebagai wujud dari tanggung jawab kemasyarakatan kita, guna membantu saudara-saudara kita yang terkena dampak pandemi ini.

Semoga, dengan menjalankan ibadah puasa berikut amalan-amalan yang dusunnahkan di bulan suci ini, kita bisa mencapai derajat ketakwaan. Wallahul musta’an.

Facebook Comments