RAMADHAN & ABUSE OF POWER: Antara Kesalehan Ritual dan Pengkhianatan Amanah

 RAMADHAN & ABUSE OF POWER: Antara Kesalehan Ritual dan Pengkhianatan Amanah

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alaudin, Makassar

Ada ironi yang sering tak kita sadari, masjid penuh saat Ramadhan, tetapi ruang-ruang kekuasaan tetap menyimpan kegelapan. Lisan basah oleh tilawah, namun tangan masih ringan menyalahgunakan amanah. Kita berpuasa dari makan dan minum, tetapi belum tentu berpuasa dari kezaliman.

Ramadhan datang sebagai bulan penyucian, tetapi sebagian manusia justru tetap memelihara penyimpangan. Di sinilah pertanyaan yang menggugah itu lahir, apakah puasa kita hanya ritual fisik, atau benar-benar revolusi moral?

Secara sederhana, *abuse of power* adalah penyalahgunaan kekuasaan, menggunakan jabatan, wewenang, atau pengaruh bukan untuk kemaslahatan, tetapi untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Ia bisa berbentuk korupsi, nepotisme, manipulasi kebijakan, penindasan bawahan, bahkan ketidakadilan dalam rumah tangga. Kekuasaan yang seharusnya menjadi amanah berubah menjadi alat eksploitasi.

Padahal dalam Islam, kekuasaan bukan hak istimewa, melainkan titipan yang akan dipertanggungjawabkan.

Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَن تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kalian menetapkan dengan adil.”(QS. an-Nisa’: 58).

Ayat ini bukan hanya untuk hakim di pengadilan. Ia berlaku bagi setiap orang yang memegang kuasa, pemimpin negara, kepala sekolah, pimpinan kantor, orang tua dalam rumah tangga. Setiap posisi adalah amanah.

Rasulullah SAW. bahkan menolak permintaan jabatan dari sahabat yang memintanya. Beliau bersabda kepada Abu Dzar RA.
يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا
“Wahai Abu Dzar, engkau lemah, dan jabatan itu adalah amanah. Ia pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajibannya.”
(HR. Muslim)

Betapa tegas peringatan itu. Jabatan bukan kemuliaan otomatis. Ia bisa menjadi sumber kehinaan jika disalahgunakan. Ramadhan seharusnya menjadi benteng moral dari penyalahgunaan kekuasaan. Karena inti puasa adalah takwa.

Allah menegaskan:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kalian bertakwa.”(QS. al-Baqarah: 183).
Takwa bukan sekadar takut, tetapi kesadaran konstan bahwa Allah melihat setiap keputusan, setiap tanda tangan, setiap kebijakan.

Allah berfirman:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ
“Janganlah kalian memakan harta di antara kalian dengan cara yang batil.”(QS. al-Baqarah: 188).

Ayat ini sering dibaca, tetapi jarang ditanamkan. Padahal ia berbicara langsung tentang korupsi dan manipulasi. Umar bin Khattab RA. pernah berkata:
لَوْ عَثَرَتْ بَغْلَةٌ فِي الْعِرَاقِ لَسُئِلَ عَنْهَا عُمَرُ لِمَ لَمْ يُمَهِّدْ لَهَا الطَّرِيقَ
“Seandainya seekor keledai terperosok di Irak, niscaya Umar akan ditanya (oleh Allah) mengapa ia tidak meratakan jalan untuknya.”

Ini bukan hiperbola retoris. Ini adalah standar tanggung jawab. Kekuasaan dalam Islam diukur dengan rasa takut kepada Allah, bukan dengan luasnya wewenang.

Namun realitas sosial hari ini menunjukkan paradoks, semakin tinggi jabatan, semakin besar godaan.Kekuasaan bisa membuat manusia lupa batas.Ibnul Qayyim berkata:
حُبُّ الرِّيَاسَةِ يُفْسِدُ الدِّينَ
“Cinta pada kekuasaan dapat merusak agama.”

Kerusakan itu sering dimulai dari pembenaran kecil, “Semua orang juga melakukannya.” “Ini hanya fasilitas.” “Ini hak saya.” Lalu perlahan nurani dibungkam.
Padahal Allah mengingatkan:
وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُم مَّسْئُولُونَ
“Tahanlah mereka (di hari kiamat), karena sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. ash-Shaffat: 24)

Setiap kuasa akan ditanya. Setiap amanah akan dihitung.
Rasulullah SAW. bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. al-Bukhari dan Muslim).

Kalimat ini mematahkan ilusi bahwa hanya pejabat tinggi yang akan dimintai hisab. Bahkan seorang ayah, seorang guru, seorang manajer, semua adalah pemegang amanah.

Ramadhan seharusnya menghidupkan rasa diawasi. Allah berfirman:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
“Tidakkah ia mengetahui bahwa Allah melihat?”(QS. al-‘Alaq: 14).

Jika kesadaran ini hidup, mustahil seseorang menandatangani kebijakan zalim dengan tenang. Mustahil ia mengambil yang bukan haknya tanpa gemetar.
Imam al-Hasan al-Bashri berkata:
الدُّنْيَا عَدُوَّةُ أَوْلِيَاءِ اللَّهِ
“Dunia adalah musuh para kekasih Allah.”

Bukan karena dunia itu haram, tetapi karena ia sering memperdaya melalui jabatan dan kekuasaan. Maka Ramadhan bukan hanya bulan ibadah ritual, tetapi momentum pembersihan struktur moral. Ia menuntut agar puasa menembus meja-meja rapat, ruang sidang, dan kantor-kantor. Ia menuntut agar takwa hadir dalam keputusan administratif, bukan hanya dalam doa tarawih.

Karena pada akhirnya, kekuasaan hanyalah sementara. Allah berfirman:
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا
“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki kesombongan di bumi dan tidak membuat kerusakan.”
(QS. al-Qashash: 83).

Ayat ini seperti penutup yang agung, kemuliaan akhirat bukan untuk yang haus kuasa, tetapi untuk yang menolak kesombongan dan kerusakan.

Maka pertanyaan terakhir yang harus kita jawab dengan jujur di bulan Ramadhan ini adalah, apakah jabatan yang kita pegang menjadi jalan menuju ridha Allah, atau justru menjadi beban yang kelak kita tangisi?.

Ramadhan tidak hanya menahan lapar, tetapi menahan keserakahan. Tidak hanya membungkam haus, tetapi membungkam kezaliman. Dan ketika kita mampu berpuasa dari penyalahgunaan kekuasaan, di situlah Ramadhan benar-benar hidup, bukan hanya di masjid, tetapi di setiap keputusan yang kita ambil.

#Wallahu a‘lam bish-shawab

Facebook Comments Box