Dari Konsumen ke Produsen: Masa Depan Ekonomi Bulukumba
Syafruddin Mualla, Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan dan Putra Daerah Bulukumba (foto: pribadi)
Oleh: Syafruddin Mualla, Ketua Umum KADIN Bulukumba
Pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti kemandirian. Sebuah daerah bisa terlihat ramai, perputaran uangnya tinggi, tetapi tetap lemah secara struktur. Inilah pertanyaan mendasar yang perlu kita ajukan hari ini: apakah Bulukumba sudah benar-benar menjadi pelaku utama dalam ekonominya sendiri, atau masih sekadar pasar bagi produk dari luar?
Bulukumba tidak kekurangan potensi. Pertanian dan perkebunan kita produktif. Sektor perikanan dan kelautan hidup. Pariwisata berkembang. Perdagangan bergerak. Industri dan jasa terus tumbuh. Aktivitas ekonomi hadir di hampir semua sektor prioritas.
Namun persoalannya bukan terletak pada ketersediaan sumber daya. Persoalan utama ada pada arah dan struktur ekonomi yang kita bangun.
Selama ini, kita masih lebih sering berperan sebagai konsumen daripada produsen. Hasil pertanian dan perkebunan banyak dijual dalam bentuk mentah tanpa proses pengolahan lanjutan. Hasil perikanan belum sepenuhnya diolah di daerah sendiri sehingga nilai tambahnya dinikmati pihak lain. Pariwisata berkembang, tetapi produk lokal belum selalu menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri. Perdagangan berjalan, namun kerap hanya menjadi jalur distribusi barang dari luar. Industri dan jasa ada, tetapi belum sepenuhnya menopang dan memperkuat produksi lokal.
Akibatnya, uang memang berputar di Bulukumba, tetapi nilai tambahnya tidak sepenuhnya tinggal di daerah ini. Rantai nilai ekonomi lebih banyak bergerak keluar. Kita bekerja dan menghasilkan, tetapi keuntungan terbesar tidak selalu kita nikmati.
Jika kita menginginkan masa depan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan, maka orientasi pembangunan harus berubah: dari konsumsi menuju produksi.
Perubahan orientasi ini bukan sekadar slogan. Perubahan ini menuntut pembenahan yang bersifat sistemik dan terarah.
Pertanian dan perkebunan tidak boleh berhenti pada panen. Harus ada pengolahan, pengemasan, serta standardisasi kualitas agar produk memiliki daya saing yang lebih tinggi. Perikanan dan kelautan tidak cukup hanya pada aktivitas tangkap, tetapi perlu berkembang menjadi industri olahan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pariwisata tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga harus mendorong tumbuhnya produk ekonomi kreatif lokal seperti kuliner, kerajinan, dan jasa berbasis kearifan lokal. Perdagangan perlu menjadi penguat distribusi produk daerah, bukan sekadar pintu masuk barang dari luar. Industri dan jasa harus menjadi penggerak utama penciptaan nilai tambah.
Produksi adalah fondasi kemandirian ekonomi.
Tanpa basis produksi yang kuat, kita akan terus bergantung pada pasokan dari luar daerah. Harga akan lebih banyak ditentukan oleh pihak lain. Rantai nilai akan dikuasai daerah lain. Kita hanya menjadi bagian kecil dari sistem ekonomi yang tidak sepenuhnya kita kendalikan.
Karena itu, pembangunan ekonomi daerah harus difokuskan pada penguatan sektor-sektor prioritas secara terintegrasi. Infrastruktur harus benar-benar mendukung distribusi hasil produksi. Program peningkatan kapasitas harus memperkuat kemampuan teknis dan manajerial pelaku usaha, bukan sekadar formalitas pelatihan. Akses permodalan harus dibarengi dengan kepastian pasar serta peningkatan kualitas produk.
Yang tidak kalah penting adalah kolaborasi. Pemerintah daerah, pelaku usaha, lembaga keuangan, komunitas, dan generasi muda harus bergerak dalam satu arah. Tanpa sinergi yang kuat, potensi hanya akan menjadi daftar panjang tanpa dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Namun kebijakan dan program saja tidak cukup. Perubahan terbesar harus terjadi pada pola pikir.
Kita harus berani menggeser cara pandang dari “yang penting terjual” menjadi “yang penting bernilai tambah”. Dari sekadar aktivitas ekonomi menuju struktur ekonomi yang kuat. Dari ketergantungan menuju kemandirian.
Bulukumba memiliki sejarah panjang sebagai daerah pelaut dan pembuat kapal. Tradisi tersebut bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi bukti bahwa masyarakat kita memiliki keberanian, ketekunan, dan daya tahan. Nilai-nilai itulah yang harus dihidupkan kembali dalam membangun ekonomi hari ini.
Kita tidak boleh hanya menjadi pasar bagi daerah lain. Kita harus menjadi pelaku utama yang mengolah, mencipta, dan menentukan arah pembangunan ekonomi sendiri. Jika laut dan tanah kita mampu memberi kehidupan selama ini, maka sudah saatnya kita mengelolanya secara lebih terstruktur dan bernilai tambah.
Dengan komitmen memperkuat sektor prioritas—pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, perdagangan, industri, dan jasa—Bulukumba dapat melangkah lebih jauh. Bukan hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi membangun fondasi ekonomi yang kokoh dan berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan sekadar seberapa ramai aktivitas ekonomi, melainkan seberapa besar manfaatnya tinggal dan tumbuh di daerah sendiri.
Bulukumba harus bertransformasi dari konsumen menjadi produsen. Dari sekadar pasar menjadi pusat nilai tambah. Dari ketergantungan menuju kemandirian.
Masa depan ekonomi Bulukumba tidak ditentukan oleh seberapa besar potensi yang kita miliki, tetapi oleh seberapa serius kita mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan produksi yang nyata.
Bukan hanya tumbuh, tetapi berdaulat secara ekonomi.
Bukan hanya ramai, tetapi kuat dan mandiri.
Itulah masa depan yang layak kita perjuangkan bersama.