RAMADHAN & ENOSIMANIA: Dari Ketakutan terhadap Kritik Menuju Keberanian Moral

 RAMADHAN & ENOSIMANIA: Dari Ketakutan terhadap Kritik Menuju Keberanian Moral

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Nesar UIN Alaudin, Makassar

Ada satu penyakit batin yang jarang kita sadari, tetapi diam-diam menggerogoti kedewasaan manusia. Ia tidak tampak di wajah, tidak terdengar dalam suara, tetapi terasa dalam sikap. Ia muncul ketika seseorang sulit menerima kritik, ketika nasihat terasa seperti penghinaan, dan ketika kebenaran dianggap serangan. Di zaman yang penuh kebisingan opini ini, banyak orang ingin didengar, tetapi sedikit yang siap dikoreksi.

Di sinilah kita berhadapan dengan dua fenomena psikologis yang semakin sering muncul dalam kehidupan sosial, yakni *fragile ego dan enosimania.*

Secara sederhana, fragile ego adalah ego yang rapuh, harga diri yang begitu mudah terluka sehingga kritik sekecil apa pun terasa seperti ancaman besar. Sementara enosimania adalah rasa takut atau malu yang berlebihan ketika menerima kritik, sehingga seseorang lebih memilih mempertahankan kesalahan daripada memperbaiki diri.

Ketika dua hal ini bertemu, lahirlah pribadi yang tampak kuat di luar, tetapi sebenarnya sangat rapuh di dalam. Ia keras terhadap orang lain, tetapi lembut terhadap kesalahannya sendiri. Ia mudah menilai orang lain, tetapi sulit menilai dirinya sendiri.

Inilah salah satu bentuk divergensi moral di zaman modern, ketika manusia semakin jauh dari tradisi kerendahan hati yang dahulu menjadi fondasi akhlak masyarakat.

Padahal Islam sejak awal membangun budaya yang sangat berbeda, yaitu budaya muhasabah, budaya mengoreksi diri sebelum mengoreksi orang lain. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.”(QS. Al-Hasyr: 18).

Ayat ini adalah panggilan untuk melakukan introspeksi diri. Dalam bahasa spiritual Islam, inilah yang disebut muhasabah.

Ironisnya, di era modern, manusia sering lebih sibuk menilai orang lain daripada menilai dirinya sendiri. Kritik terhadap orang lain terasa mudah, tetapi kritik terhadap diri sendiri terasa berat.

Padahal Rasulullah SAW. telah mengajarkan bahwa orang yang paling bijaksana adalah mereka yang berani mengevaluasi dirinya sendiri.
Beliau bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”(HR. Tirmidzi)

Kata دان نفسه dalam hadits ini berarti mengoreksi, menilai, dan menundukkan ego. Inilah kebalikan dari fragile ego. Dalam tradisi para sahabat Nabi, sikap menerima kritik bahkan dianggap sebagai tanda kematangan iman.

Umar bin Khattab pernah berkata:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي
“Semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukkan kepadaku kekuranganku.”
Perkataan ini sangat dalam maknanya. Bagi Umar, kritik bukan ancaman, tetapi hadiah. Ia bukan penghinaan, tetapi bentuk kepedulian.

Bandingkan dengan fenomena hari ini. Banyak orang merasa harga dirinya runtuh hanya karena sebuah nasihat. Banyak yang lebih memilih mempertahankan gengsi daripada memperbaiki kesalahan.

Di sinilah Ramadhan hadir sebagai terapi spiritual bagi ego manusia.
Puasa pada hakikatnya adalah latihan menundukkan ego. Ia melatih manusia untuk menahan keinginan, menahan amarah, dan menahan kesombongan yang sering kali tidak disadari.

Rasulullah SAW. bersabda:
إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ
“Jika seseorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan pula berteriak-teriak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan reaksi emosional yang sering dipicu oleh ego. Dalam psikologi modern, ego yang rapuh sering muncul karena manusia terlalu sibuk membangun citra diri, tetapi jarang membangun kedewasaan batin. Mereka ingin terlihat benar, bukan ingin menjadi benar.

Al-Qur’an sebenarnya telah lama mengingatkan manusia tentang bahaya kesombongan batin ini.
Allah SWT berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)
Ayat ini menegur kecenderungan manusia untuk merasa dirinya paling benar.

Para ulama klasik bahkan menyebut ego sebagai salah satu hijab terbesar antara manusia dan kebenaran. Imam Al-Ghazali berkata:
ما هلك من هلك إلا بحب الجاه وكراهية النقد
“Tidaklah seseorang binasa kecuali karena cinta terhadap kedudukan dan kebencian terhadap kritik.”

Perkataan ini terasa sangat relevan dengan kondisi sosial kita hari ini. Banyak konflik sosial, politik, bahkan keluarga terjadi bukan karena masalah besar, tetapi karena ego yang tidak siap menerima koreksi. Di sinilah Ramadhan menjadi sekolah kerendahan hati.

Ketika seseorang berpuasa, ia merasakan lapar yang sama dengan orang miskin. Ia menyadari bahwa tubuhnya rapuh dan bergantung sepenuhnya kepada Allah.Kesadaran ini perlahan melunakkan ego yang selama ini mengeras.Allah SWT mengingatkan:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10)

Menyucikan jiwa berarti membersihkan diri dari kesombongan, dari keengganan menerima kebenaran, dan dari ketakutan terhadap kritik.

Pada akhirnya, manusia yang matang bukanlah mereka yang tidak pernah dikritik, tetapi mereka yang mampu menjadikan kritik sebagai jalan menuju perbaikan diri.Sebagaimana perkataan Hasan Al-Bashri:
المؤمن مرآة المؤمن
“Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain.”

Cermin tidak menghina wajah kita, ia hanya menunjukkan apa yang perlu diperbaiki. Dan Ramadhan mengajarkan satu pelajaran yang sangat halus namun mendalam, bahwa cahaya kebenaran hanya bisa masuk ke dalam hati yang cukup rendah untuk menerimanya.

Karena itu, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah bulan pembongkaran ego, bulan ketika manusia diajak berdamai dengan kritik, berdamai dengan kesalahan, dan akhirnya berdamai dengan dirinya sendiri.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak menjadi besar karena egonya, tetapi karena kerendahan hatinya di hadapan kebenaran. Dan mungkin di situlah letak kemenangan Ramadhan yang paling sunyi. Yakni ketika ego yang rapuh perlahan berubah menjadi jiwa yang matang, tenang, dan siap menerima cahaya kebenaran.

#Wallahu A’lam Bish-Shawwb🙏

Facebook Comments Box