SYA’BAN DAN TRANSFORMASI PERAN: Optimalisasi Impact dan Empowering dalam Pelayanan Umat

 SYA’BAN DAN TRANSFORMASI PERAN: Optimalisasi Impact dan Empowering dalam Pelayanan Umat

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin, Makassar / Direktur LAPSENUSA (Lembaga Advokasi dan Pengembangan Sosial dan Ekonomi Nusantara)

Ada bulan yang datang tanpa hiruk-pikuk perayaan. Ia tidak semeriah Ramadan, tidak pula sepopuler Muharram. Namun justru di sanalah nilai tersembunyi bekerja, dalam sunyi, dalam kesiapan, dan dalam kesadaran. Bulan itu bernama Sya’ban.

Ia adalah ruang antara yang sering dilewati tanpa disinggahi, padahal di sanalah Allah membuka peluang besar bagi mereka yang ingin bertransformasi, bukan hanya secara pribadi, tetapi juga secara sosial dan peradaban.

Bukankah perubahan besar selalu lahir dari masa persiapan yang senyap? , bukankah peran yang kuat tidak dibangun secara tiba-tiba, melainkan ditempa dalam kesadaran yang berulang? , dan bukankah amal yang berdampak luas selalu berawal dari kesungguhan yang jarang disaksikan manusia?.

Sya’ban hadir sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Rasulullah SAW. memberi isyarat kuat tentang keistimewaan bulan ini, namun dengan nada yang nyaris tak terdengar oleh mereka yang lalai. Beliau bersabda:
ذَٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ
“Itu adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadan.”(HR. An-Nasai).

Kelalaian itulah yang justru menjadikan Sya’ban istimewa. Ia menjadi ladang amal bagi mereka yang tidak menunggu sorotan. Di bulan inilah Rasulullah SAW. memperbanyak puasa, bukan demi simbol kesalehan, tetapi sebagai latihan kedisiplinan spiritual dan kesiapan sosial menjelang Ramadan.

Namun Sya’ban bukan hanya tentang ibadah personal. Ia adalah bulan konsolidasi peran, saat untuk menyelaraskan niat, menata ulang kontribusi, dan memperluas dampak keberadaan diri di tengah umat.
Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujādilah: 11).

Ayat ini menegaskan bahwa iman sejati tidak berhenti pada keyakinan, tetapi bergerak menuju peran. Ilmu tidak berhenti pada pemahaman, tetapi melahirkan pengaruh. Dan Sya’ban adalah momentum terbaik untuk menyatukan iman, ilmu, dan aksi.

Para ulama memandang Sya’ban sebagai bulan penyerahan laporan amal. Rasulullah SAW. bersabda:
تُرْفَعُ الْأَعْمَالُ فِيهِ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Pada bulan ini amal-amal diangkat kepada Tuhan semesta alam.”
(HR. An-Nasai).

Maka pertanyaannya bukan sekadar berapa banyak ibadah kita,melainkan sejauh mana keberadaan kita memberi manfaat bagi orang lain.

Imam Hasan Al-Bashri berkata:
مَا عِبَادَةٌ أَفْضَلُ مِنْ نَفْعِ النَّاسِ
“Tidak ada ibadah yang lebih utama daripada memberi manfaat kepada manusia.”
Di sinilah Sya’ban menemukan makna strategisnya. Transformasi peran tidak selalu dimulai dari panggung besar, tetapi dari niat yang diperbaiki dan amal yang diperluas dampaknya.

Memberdayakan umat bukan selalu berarti proyek besar, tetapi keberanian mengambil peran sesuai kapasitas dengan mendidik, mendampingi, menenangkan, menguatkan, dan melayani.

Allah mengingatkan:
وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
“Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”
(QS. Al-Qashash: 77)

Ini bukan sekadar etika personal, tetapi prinsip empowering. Kebaikan yang Allah titipkan, baik ilmu, waktu, pengaruh, demikian pula posisi. Bukan untuk disimpan, melainkan untuk dialirkan.

Ibnu Rajab Al-Hanbali menulis:
شَعْبَانُ كَالْمُقَدِّمَةِ لِرَمَضَانَ
“Sya’ban adalah pendahuluan bagi Ramadan.”

Pendahuluan bukan formalitas. Ia menentukan kualitas akhir. Jika Sya’ban dijalani dengan kesadaran, maka Ramadan tidak hanya melahirkan kesalehan personal, tetapi kematangan sosial dan kekuatan kolektif umat.

Karena itu, Sya’ban datang sebagai cermin sunyi yang memantulkan pertanyaan paling jujur tentang peran kita, untuk apa posisi yang kita genggam, dan sejauh mana kehadiran kita benar-benar memberi arti bagi orang lain?

Sering kali keberhasilan diukur dari prestasi personal, gelar, jabatan, dan pencapaian yang bisa dibanggakan. Namun dalam pandangan langit, ukuran itu tidak pernah berdiri sendiri.

Rasulullah SAW. menegaskan:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR. Ṭabarani).

Keberhasilan sejati bukan pada seberapa tinggi seseorang berdiri sendiri, tetapi pada seberapa banyak orang yang mampu ia kuatkan agar ikut berdiri.

Sebaliknya, kegagalan sosial dan spiritual bukan sekadar ketika seseorang jatuh, melainkan ketika kehadirannya justru membuat banyak orang kecewa, bersedih, bahkan menangis.

Dalam peran apa pun, baik pemimpin, pendidik, pejabat, atau pelayan umat, kita sedang diuji tentang apakah peran kita menghadirkan rahmat atau justru luka.

Allah mengingatkan misi besar itu:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya’: 107)

Maka Sya’ban mengajarkan satu pesan mendalam, bahwa impact sejati tidak diukur dari seberapa dikenal kita, tetapi dari seberapa banyak orang tersenyum dengan kehadiran kita dan seberapa besar manfaat yang tetap hidup ketika kita tak lagi disebut.

Jika Ramadan adalah bulan panen, maka Sya’ban adalah masa menyiapkan benih. Dan siapa yang menanam kesadaran di Sya’ban, akan menuai perubahan nyata baik bagi dirinya, bagi umat, dan yang terpenting bagi kemanusiaan secara luas.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab

Facebook Comments Box